Hot Family

Hot Family
Tidak mau besan duda


__ADS_3

Darren terdiam, dia seperti memasuki mesin waktu. Di mana pada akhirnya dirinya terpaksa menjalani hubungan jarak jauh dengan Senja.


Beginilah awal mulanya, hanya karena mempertahankan pendapat dari sudut pandang masing-masing.


Darren memunggungi istrinya, mencoba menahan diri terlebih dahulu. Cukup sekali dia membuat Senja pergi menjauh darinya. Itu cukup membuat Darren tersiksa luar biasa.


Tapi menerima Genta? Jujur dia belum sanggup. Menolak? Dia akan kembali jauh dengan Beyza dan tentu saja Senja. Dua perempuan yang sangat berharga bagi dirinya.


"Biar aku bertemu dengan Rangga dulu," putus Darren akhirnya.


Senja bernapas lega. Setidaknya begitu lebih baik. Adil karena Genta tumbuh besar di bawah pengasuhan Rangga.


"Mau Senja buatkan jadwal? Senja juga tidak keberatan menemani." Senja bergelayut manja di lengan suaminya.


Darren melirik Senja dengan tajam. "Tidak! Aku bisa meminta Bey saja. Aku bisa sendirian. Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Rangga. Dia lumayan tampan."


"Sudah mau punya menantu, masih saja cemburu," sungut Senja.


"Cemburu itu halal kalau istrinya seperti kamu," sahut Darren.


Setelah itu, Darren dan Senja berjalan kembali ke apartemen melewati lobby depan. Di saat bersamaan mobil Rangga berhenti hendak menurunkan Beyza. Di dalam mobil itu, juga ada Genta.


Rangga yang terlanjur melihat, langsung ikut turun dari mobil untuk menyapa Senja dan Darren.


"Hai, Dar. Apa kabar?" Rangga menjabat tangan Darren dengan erat.


"Baik, Ngga. Kamu?" Darren membalas sapaan Rangga.


"Seperti yang kamu lihat." Rangga melepas jabatan tangannya dengan Darren lalu beralih pada Senja yang langsung menyambut dengan senyuman hangat yang membuat Rangga sedikit menggerakkan jakunnya karena menelan liur.


"Hai, Om." Giliran Genta yang mencium punggung tangan Darren dengan sopan.


Darren hanya tersenyum sekilas dengan terpaksa. Beyza menarik napas lega, itu sudah sebuah kemajuan. Daripada langsung diusir.

__ADS_1


"Sepertinya kalau kita makan malam bersama akan lebih seru, mampir naik, yuk! Anggap saja ucapan terimakasih karena sudah mengantar Bey pulang." Senja mengamit lengan Darren lebih erat dan mengelus-elusnya.


Saat Darren menatap tajam sang istri karena sudah mengucapkan ide gilanya, Senja malah membalas tatapan itu dengan tatapan yang membuat Darren 'lapar.'


Beyza menganggukkan kepala pada Genta, sebagai isyarat agar kekasihnya itu jangan menolak.


"Baiklah. Kalau dipaksa, kita tidak menolak," canda Rangga untuk mencairkan suasana.


"Tidak ada yang memaksa, Ngga," timpal Darren.


Darren,Beyza dan senja berjalan terlebih dahulu. Tapi setelah Darren melihat dipantulan kaca dan melihat kedua lelaki di belakangnya memusatkan perhatian pada perempuan di samping kanan kirinya. Dia memilih untuk bertukar posisi.


Sampai di apartemen, Senja dan Beyza langsung ke dapur, sedangkan Darren, Genta dan Rangga langsung duduk di ruang tamu.


"Setelah antar minum, kamu mandi atau bersih-bersih dulu. Biar mama saja yang memasak. Biarkan mereka saling bicara. Ini awal yang bagus." Senja mengajak Beyza melakukan tos.


"Mama memang yang terbaik." Beyza memeluk dan mencium Senja sekilas. Lalu keluar membawa nampan berisi tiga cangkir coklat teh hijau.


Panggilan Beyza pada Genta seketika membuat Darren tersedak. Seketika mengingatkan akan Kang kebun di rumahnya. Dia memang tidak tahu kalau kata Kang memiliki arti yang luas dan bisa dipakai untuk memanggil siapa pun asal berkenan, layaknya kata 'mas' dan 'abang.'


"Bey, kamu masuk ke kamar, dan jangan keluar kalau daddy belum memanggil." Beyza langsung menuruti ucapan daddynya.


"Gen, kamu ke dapur. Bantu mama-nya, Bey. Jangan keluar sebelum ada suara dari sini memanggilmu."


Genta pun langsung menurut tanpa bantahan. Apapun nada bicara Darren, setidaknya dia tidak mencela dan menghina Genta. Lagi-lagi, semua merasakan signal-signal kebaikan sedang dipancarkan.


Setelah hanya berada berdua saja bersama Rangga. Darren menggeser duduknya agar tidak terlalu brrjauhan dengan Rangga.


"Ngga, sorry, aku terpaksa bertanya hal yang sangat pribadi pada kamu. Tapi kalau kamu keberatan, kamu boleh tidak menjawabnya." Darren seperti biasa tanpa basa basi langsung memulai pembicaraan.


"Santai saja, Darr. Silahkan tanya."


"Kamu bener tidak ada hubungan keluarga sama sekali dengan Malino kan?" Darren hanya ingin meyakinkan.

__ADS_1


"Astaga, Darr. Bukanlah. Kamu tahu lah anak Malino cuma Aris."


"Baiklah! Tapi istrinya Malino ikut mendidik dan membesarkan Genta kan?" selidik Darren.


"Hanya sesekali kami berkunjung. Genta tumbuh dominan sama aku. Sesuai pesan Jingga, Genta tidak boleh sepeser pun hidup dari harta Malino. Nyatanya setelah Aris meninggal, Perusahaan mereka, pengacara Malino yang mengurusi. Apa yang ditinggalkan Jingga, jauh lebih dari cukup untuk menghidupi Genta. Itu pun aku tidak memakainya. Genta sampai kuliah, masih aku yang membiayai, Darr." Rangga yang paham tujuan Darren bertanya, langsung menjawab panjang lebar.


"Sebesar itu kamu mencintai istri orang? Sampai anaknya kamu besarkan seperti ini?"


"Jingga yang membuat aku berhenti jadi casanova, aku berhutang kebaikan padanya. Kamu tahu, dia bisa menggerakkan sesuatu tanpa menyentuh. Apalagi yang dicari laki-laki dari petualangan dengan perempuan, kalau sudah menemukan perempuan sehebat itu." Rangga mengatakannya dengan pelan, obrolan mulai bergeser. Keluar dari jalur utama yang ingin diketahui.


Darren mengangguk setuju. "Aku mengalami," ucapnya tanpa sadar.


"Aku tahu meski kamu tidak bercerita," sahut Rangga.


"Jangan bilang kamu mengalami saat melihat istriku," selidik Darren.


"Di luar kendali, Darr. Tapi aku tahu diri. Aku menundukkan pandanganku, dan tidak berani terlalu dekat. Aku menghargaimu sebagai calon besanku," Rangga tetap dengan santai menanggapi, meski dalam hati dia deg-degan juga karena keceplosan.


Darren menatap tajam pada Rangga. "Soal Genta, aku akan melihat dulu sejauh mana dia bisa membahagiakan dan berjuang mendapatkan Beyza, perusahaanmu di bawah kepemimpinannya, harus naik level. Aku tidak mau anakku hidup kekurangan."


"Astaga, Darr! Jelas tidak akan. Apa pun yang dimau Bey, Genta sanggup membelikan. Rumah sebesar rumahmu pun akan disanggupi." Kali ini Rangga tidak mau kalah.


"Standartnya, jodoh Beyza itu harus seperti aku," ucap Darren dengan pedenya.


"Bahkan Genta lebih baik, percayalah! Dia masih perjaka ting-ting. Dia mencintai perempuan sekali, dan itu Beyza. Kamu beruntung. Dia menuruni sifat setia Aris. Seumur hidup hanya menyentuh dan mencintai satu wanita. Luar biasa bukan? Tidak seperti kita."


Ucapan Rangga membuat Darren memijat pangkal hidungnya. "Aku juga seperti itu. Hanya dulu, aku sempat ternoda dengan mulut dan tangan perempuan lain. Aku menyesal untuk itu."


"Casanova tanggung. Intinya kamu seharusnya bersyukur Bey bisa berjodoh dengan Genta. Jaman sekarang, langka mencari laki-laki seperti itu. Lagi pula, keterikatan Genta pada Bey bukan hanya karena dia mencintai anakmu sebagai lawan jenisnya. Tapi juga karena Genta menyayangi istrimu seperti bundanya."


Darren semakin mendekati Rangga. "Masalahnya, aku tidak ingin berbesanan dengan duda. Aku tidak nyaman, sekali pun kamu bisa menjaga pandanganmu. Tetap saja bagiku mengerikan."


'Cemburu dan mengakui ketampananku,' batin Rangga sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


__ADS_2