
Zain berdehem sebentar, sebelum menjawab rasa penasaran Denok. "Begini, Nok. Dari satu level ke level berikutnya itu, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, cinta yang sudah teruji dan pengorbanan yang luar biasa."
"Iya benar, Aku dan kak Zain, melewati satu level hingga enam bulan. Bahkan kami baru berciuman setelah mama Nja dan daddy menyetujui hubungan kami," Sekar menimpali dengan kebohongan.
Sementara Inez dan Derya hanya berani menganggukkan kepala. Karena Dasen sudah memeloti keduanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Astaga, berartii aku kecepeten." Denok menutup mulut dengan satu tangan saat mengatakannya.
"Jangan dengarkan mereka, Ask. Sesat. Level itu tergantung kesiapan masing-masing. Aku dan kamu, akan melampaui level mereka lebih cepat," tukas Dasen, sedikit kesal karena dijadikan bahan ledekan.
"Begitu, ya. Jadi aku harus dengar omongan siapa ini?" Lagi-lagi, Denok masih menunjukkan keabsurdannya.
"Nok, kamu memang pas kuliah tidak pernah pacaran?" Inez memberanikan diri bertanya.
Denok menggeleng dengan yakin. "Enggak pernah, Nez. Tidak boleh. Bapak takut kebablasan kayak Ibu. Sampai sekarang tidak paham maksud bapak. Aku sekolah lumayan pinter, pacaran kurang paham. Sepertinya bergaul dengan kalian, akan membuat aku segera paham harus bagaimana."
Zain menggelengkan kepalanya. Ingin tertawa takut menyinggung. Dasen sungguh mendapatkan pasangan yang jauh dari bayangan. Si perfeksionis kini bersanding dengan si polos.
"Dansa, yuk!" Ajak Sekar.
"Siapa takut," sahut Inez.
"Aku takut, Mbak. Aku tidak bisa." jawaban Denok lagi-lagi membuat yang lain menebah dada.
"Simpan dulu sebulan sebelum bertemu daddy, biarkan konsultasi sama Sekar dulu," bisik Zain lirih pada Dasen.
Derya mengulurkan tangannya pada Inez, mengajak kekasihnya itu untuk berdansa. Begitu juga dengan Zain dan Sekar. Tinggallah Dasen yang masih menunggu kesanggupan Denok untuk berdiri.
Alunan musik lembut you are the reason milik Calum Scot, sudah melebur kemesraan dua pasangan lain.
"Sebentar, Ask. Aku lihat bagaimana Mbak Sekar sama Inez dulu. Takut nginjek jempolmu. Ini heels sepatuku lumayan tinggi. Nanti sakit, kasihan kamu." Denok berbicara tanpa menoleh pada Dasen. Matanya melihat dengan teliti langkah kaki Inez dan Sekar bergantian.
__ADS_1
"Sudah? Kamu ikutin saja. Kalau lihat pasti lebih gampang, sekalian saja praktek. Mumpung cuma kita berenam di sini." Dasen sudah tidak sabar, dia menarik tangan Denok. Tidak pelan juga tidak lembut.
Denok dengan terpaksa menuruti saja. Gadis itu dituntun untuk mengalungkan tangannya di leher Dasen. Kemudian titisan Darren itu melingkarkan tangannya di pinggul Denok.
Keduanya kini sudah tidak berjarak, Dasen memandu gerakan kekasihnya itu dengan bisikan lirih di telinga. Bukannya membuat langkah Denok benar, embusan napas hangat Dasen yang terasa tepat di daun telinga Denok, malah membuat konsentrasi gadis itu buyar.
Rupanya, Denok adalah tipikal perempuan yang titik sensitifnya di area telinga, sungguh dia sendiri tidak paham, tiba-tiba saja Denok merapatkan tubuhnya semakin erat dengan Dasen. Tangannya bahkan mer3mas tengkuk leher kekasihnya itu. Dia pun merasakan ada bagian di tengah tubuh Darren yang bergerak dan mrngeras.
"Naik level, ya?" bisik Dasen.
Denok melirik pasangan Inez-Derya yang sesekali saling mengecup. Lebih parah lagi, pasangan Zain dan Sekar yang sudah lebih lama menautkan bibir mereka.
"Aku ajari ya?" lagi-lagi Dasen berbisik. Seperti ada yang menggerakkan lehernya, Denok mengangguk tanpa hambatan.
Baru saja bibir Dasen dan bibir Denok menempel. Tiba-tiba, heels setinggi delapan centi menginjak jempol Dasen.
"Auwwww .... " Teriakan Dasen sontak menghentikan langkah semua saudaranya. Denok seketika merenggangkan badannya dan menuntun Dasen kembali ke kursi.
"Jempolku ke injak." Dasen menjawab sembari meringis kesakitan.
Denok berlutut dibawah membuka sepatu dan kaos kaki kekasihnya itu. "Jempolnya besar sekali. Ini karena keinjak tadi?"
"Bukan yang itu, Ask. Yang satunya." Dasen lama-lama agak keki juga dengan sikap Denok.
Gadis itu buru-buru melepas sepatu yang masih dipakai dengan rapi. Kulit Dasen yang putih mulus, membuat terkena benturan sedikit saja langsung terlihat lebam. Apalagi kali ini, injakan kaki Denok lumayan kuat, tentu saja tidak hanya lebam, tapi juga bonus lecet. Kebetulan, sepatu yang Dasen kenakan jenis mokassin, bukan jenis sepatu Derby yang terbuat dari kulit yang tebal.
Denok menyiram dan membersihkan Jempol Dasen dengan air mineral. Di luar pikiran dan perkiraan semua yang ada di sana, Denok memasukkan jempol kaki Dasen ke mulutnya.
Zain, Derya, Sekar dan Inez terdiam dan ternganga. Mereka sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dalam hati mengakui sikap anti mainstream Denok.
Dasen berusaha menarik jempol kakinya, sungguh Denok melakukan gerakan yang mengingatkannya pada sesuatu. Membuat satu jempol miliknya yang bersembunyi malah bereaksi. Dasen juga tidak enak, jika dilihat orang. Sangat tidak sopan sampai Jempol kakinya ada di mulut Denok.
__ADS_1
"Enakan tidak, Ask? Setiap kali terbentur atau terluka, kata bapak jika disembuhkan dengan cara tadi, akan cepat membaik." tanya Denok, seperti tanpa beban bertanya, setelah membebaskan mulutnya dari jempol Dasen.
"Dokter menangis mendengar ini," bisik Zain, sangat lirih pada Sekar.
Dasen juga sudah tidak bisa berkata-kata lagi, Denok layak dipertahankan karena ketulusan dan kesigapannya. Tapi sepertinya, dia sendiri harus benar-benar menyiapkan mental baja. Jika Zain dan Derya mungkin bisa menahan diri, bagaimana dengan Beyza dan terlebih lagi daddynya.
'Nikah dan kawin masih jauh, harus berjuang dulu,' batin Dasen.
🍀🍀
Tepat sebelum tengah malam, Genta dan Beyza mengantar Senja dan Darren ke bandara. Entah kenapa, Darren lebih menyukai flight malam jika tidak terpaksa.
Sampai di gate pemeriksaan tiket memasuki ruangan keberangkatan internasional, Darren dan Senja menghentikan langkahnya untuk berpamitan dengan Beyza juga Genta.
"Mama dan Daddy pulang dulu, kalian jada diri. Jangan berbuat melebihi batas. Ingat, awal bulan depan, harus benar-benar sudah berada di Indonesia." Senja kembali mengingatkan kedua anak di depannya itu dengan tegas.
"Ingat, Gen. Om belum merestui sepenuhnya, masih banyak hal yang harus kamu lakukan dan buktikan. Lagipula, semua tergantung ayahmu juga." Suara datar Darren terdengar sedikit mengintimidasi di telinga Genta.
"Siap, Om. Apapun akan Genta lakukan agar restu segera turun sepenuhnya. Ini bukan hanya demi Genta sendiri. Tapi lebih pada mewujudkan niat dan keinginan, Bey," ucap Genta berusaha tetap tenang dan tegas.
"Maksudmu?" Darren bertanya karena tidak mengerti maksud ucapan Genta.
"Sebelum umur 25 tahun, Beyza sudah ingin mempunyai dua anak. Agar nanti awet muda seperti Mama Nja."
Jawaban Genta membuat mata Darren melotot sempurna. Tidak menyangka putri kecilnya malah sudah berpikir sejauh itu.
"Tidak! Hamil itu merepotkan. Melahirkan juga susah. Kalau punya anak itu begadang. Kamu akan capek, Bey. Jangan mau kalau Genta menghamilimu." Kini, ucapannya lah yang membuat Beyza, Genta dan Senja tercengang.
"Tidak masuk akal!" Lirih Senja.
"Bisa didebat, tapi biarkan saja dulu," bisik Beyza pada Genta, sangat lirih.
__ADS_1