Hot Family

Hot Family
Bertemu besan


__ADS_3

Senja berdandan sederhana untuk berkunjung ke rumah calon besan pertamanya. Dia hanya mengenakan dres batik tulis asli khas solo berwarna biru telur asin.


Darren sendiri memakai celana bahan kain warna hitam dengan paduan kemeja batik yang corak dan warnanya sama persis dengan yang dipakai Senja.


Semua seserahan sudah disiapkan di dalam mobil yang akan membawa mereka ke rumah Sekar. Zain sendiri sudah menunggu di lobby hotel.


Senja tiba-tiba duduk termenung di depan kaca rias. Pandangannya, jelas sedang menerawang jauh. Seperti sedang ada yang dipikirkan.


Darren berlutut di depan Senja, meraih kedua tangan istrinya itu, dan mengecup punggung tangan sang istri dengan lembut.


"Kamu hebat, Ask. Kamu adalah perempuan yang luar biasa. Karena kesabaran dan kekuatan doamu, kita bisa mengantar Zain sampai di titik ini."


"Terimakasih, Ask. Terimakasih sudah menyayangi dan menerima Zain dengan luar biasa. Semua juga karenamu." Senja langsung memeluk Darren dengan erat.


"Saat aku mulai mencintaimu, saat itu pula aku belajar menerima dan menyayangi Zain setulus yang aku bisa. Zain selalu menjadi anak pertama bagiku. Tidak akan pernah ada yang tahu, bagaimana rasanya saat pertama kali Zain meminta izin untuk memanggilku dengan sebutan daddy. Rasanya sungguh luar biasa. Serasa aku mendapatkan amanat besar agar selalu bisa melindungi dan menyayangi Zain."


"Terimakasih untuk itu, jika tidak bersamamu, belum tentu pria lain mau menerima Zain sebagai anaknya." Senja meregangkan pelukannya, tangannya kini mengusap lembut wajah sang suami.


"Kamu ditakdirkan untukku. Tidak ada pria yang pantas bersanding denganmu, selain aku. I love you, Ask." Darren mengatakannya dengan sangat lembut, tatapannya dalam penuh cinta.


"I love you more, ask. Kita turun sekarang, Yuk! Kasihan Zain sudah menunggu lama." Senja berdiri lalu menyambar tas tangan di meja nakas.

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju lobby. Zain langsung menyambut dengan senyuman lebar. Putra pertama Senja itu sangat tampan dengan kemeja batik hasil buatan orangtua Sekar sendiri.


Wajah Zain begitu sumringah, senyum terus menyungging dari bibirnya. Senja dan Darren saling cubit, melihat Zain yang terlihat sudah sangat tidak sabar. Keduanya, sama-sama teringat bertahun-tahun ke belakang saat Darren juga tidak sabar saat mendekati hari pernikahannya.


Sepanjang perjalanan, Darren terus menggenggam tangan Senja. "Ponselmu masih belum kamu nyalakan, Ask. Kalau anak-anak menghubungimu bagaimana?"


"Kalau penting, mereka pasti akan menghubungi Zain atau kamu, Ask. Senja pengen tahu, bagaimana Dasen jika tidak ada Senja. Lebih penting mana sih, Mamanya atau orang lain?"


Darren mengusap wajahnya, masih soal Dasen yang membuat istrinya itu tidak mau mengaktifkan telepon genggamnya. Sebuah kebiasaan yang sebenarnya tidak dia sukai. Senja selalu memutus akses komunikasi jika sedang tidak enak hati dengan seseorang. Padahal orang lain yang tidak ikut apa-apa, jadi ikut kebingungan saat ingin menghubungi.


Setelah perjalanan selama hampir 30 menit, mereka pun sampai di sebuah pelataran rumah joglo khas jawa tengah. Empat tiang utama pada depan rumah langsung terlihat. Tidak seberapa besar, tapi sangat asri dengan keberadaan berbagai tanaman hijau dan bunga warna warni di samping rumah.


Bapak dan Ibu Sekar serta beberapa orang lagi, terlihat berderet di halaman depan menyambut kehadiran Darren, Senja dan juga Zain. Batik yang dikenakan kerabat Sekar itu seragam. Gadis pujaan Zain, belum nampak ada di sana. Tentu saja masih disembunyikan sampai acara dimulai.


"Calon Besane Pak Daman ketone wong sugih yo, Mar. Sing lanang rodo bule, sing wedok ayun tenan. Lah kuwi mantune, koyo pemain film luar. (Besan Pak Daman kelihatane orang kaya, Mar. Yang laki kayak bule, yang perempuan cantik sekali. Itu menantunya kayak pemain film luar)," bisik salah seorang tetangga.


"Iyo, Ti. wadahe sik dinggo seserahane yo seje. nganggo Kocoe ketok nek ora murahan kuwi. Tapi kok ora ono jadah karo wajike yo, Ti? (Iya, Ti. Tempat yang dipakai untuk seserahan juga beda. Kacanya jelas tidak murahan itu. Tapi kok tidak ada jadah ketan sama wajik ya)?" Timpal yang lainnya


Begitulah tetangga, jiwa keingintahuan semakin besar, manakala tetangga bersinar dengan kehidupannya. Apalagi keluarga Pak Daman sudah menjadi sorotan sejak Sekar kuliah di UK dan berhasil lulus menjadi seorang dokter. Segala tindak tanduk mereka sangat menarik untuk menjadi buah bibir.


Darren mengamit pinggul sang istri. Wajah yang biasanya datar, kali ini dipaksa untuk tersenyum dan sedikit ramah. Meskipun masih kentara keterpaksaannya, sudah lumayan untuk ukuran Darren Mahendra yang sangat perfeksionis.

__ADS_1


"Silahkan Ibu, Bapak. Monggo, selamat datang di gubugnya Sekar." Ibunda Sekar mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi kayu jati tanpa busa sebagai alasnya.


"Ini semua Pak Dhe dan Bu Dhe-nya Sekar. Yang ujung itu, Mbah Jarwo. Orang pintar di sini." Pak Daman memperkenalkan orang-orang yang berada di sana, diakhiri dengan menunjuk orang tua yang duduk agak jauh dari Senja dan Darren berada.


"Profesor?" tanya Darren dengan polosnya.


Zain yang duduk tepat di samping sang daddy, langsung menarik lengan pria itu. "Bukan itu maksudnya, Dadd," bisiknya, dengan suara yang teramat lirih.


Pak Daman tersenyum mendengar pertanyaan calon besannya. "Bukan, Pak. Maksudnya adalah sesepuh yang paham ilmu dan tradisi jawa."


Tidak lama kemudian, Sekar keluar dengan menggunakan jarik dan kebaya sederhana. Rambutnya dicepol rapi ke atas, dengan riasan tipis yang sangat manis. Sekar lalu duduk di apit oleh bapak dan Ibundanya.


Raut wajah Zain, jelas semakin sumringah. Matanya tidak berkedip menatap Sekar penuh cinta dan kekaguman. Darren menepuk paha anaknya itu, agar mengontrol ekspresi wajah yang ditampilkan.


"Silahkan, Pak. Kita mulai saja. Maaf, kita memang sengaja tidak ada pemandu acara. Biar mengalir dan kekeluargaannya terjalin kuat." Pak Daman mempersilakan Darren untuk berbicara.


Darren memajukan sedikit badannya. Menoleh sebentar pada Senja lalu mulai membuka mulutnya dan mengucapkan kata salam dan sapaan terlebih dahulu.


"Begini, Pak. Langsung saja. Walaupun sebenarnya pasti Bapak, Ibu dan yang lain sudah paham tujuan kami kemari. Tapi sebagai orangtua dari Zain, tentu saya wajib menyampaikan secara langsung mengenai hal tersebut." Darren berhenti sejenak, sekedar ingin melirik Senja yang sedang mengaktifkan ponselnya.


"Maksud kedatangan kami adalah ingin meminta Sekar untuk menjadi bagian dari keluarga kami, menjadi pendamping hidup Zain dalam suka dan duka dengan keyakinan yang sama. Meski saya tahu jawaban Sekar dan Bapak sekeluarga pasti menerima, mohon kiranya Bapak menyampaikan langsung jawaban tersebut pada kami. Sudah berdandan seperti itu, mustahil kalau Sekar menolak lamaran Zain."

__ADS_1


Kata-kata Darren membuat Senja dan Zain kompak menoleh dan mencubit pinggul pria itu.


__ADS_2