Hot Family

Hot Family
Setelah resepsi


__ADS_3

Seluruh rangkaian resepsi telah dilakukan, semua undangan dan keluarga kini bebas melakukan apa saja. Perjalanan menuju Pulau Dewata, masih menyisakan waktu setengah perjalanan. Bukan tanpa perhitungan mereka mengadakan semua rangkaian acara di awal perjalanan. Hal itu diupayakan agar waktu santai dan istirahat bagi yang kondisinya tidak fit bisa lebih lama. Karena setelah bersandar di pulau Dewata, masih akan diadakan makan malam di salah satu private island sebagai puncak rangkaian acara.


Darren nampak mondar mandir di samping bed. Senja yang tadinya sudah mengantuk karena pengaruh obat, kembali terjaga karena sedikit terganggu dengan ulah suaminya itu.


"Ask, kamu tidak capek apa?" Senja bertanya dengan nada sedikit kesal.


Darren sepertinya terlalu fokus dengan apa yang ada dipikirannya. Pertanyaan sang istri diabaikan begitu saja, dan terus melangkahkan kaki ke kanan ke kiri tanpa henti.


"Ask ...." Senja memanggil sekali lagi. Kali ini dengan nada suara yang lebih tinggi.


Darren seketika menoleh pada sang istri. Bibir Senja yang manyun, membuat pria itu buru-buru menghampiri dan duduk di tepian bed sana.


"Ask ... kamu kan tidak boleh maaking love dulu. Kita fokus saja pada kesembuhanmu. Nanti kalau sudah sembuh, mau berapa kali pun ayo. Sekarang tahan keinginanmu. Sudah, kamu tidur saja biar pikiran teralihkan."


Senja menautkan kedua alisnya. Sungguh heran dengan pikiran sang suami. Kata-kata yang diucapkan Darren, seharusnya lebih pantas ditujukan untuk pria itu sendiri.


"Sudah sana tidur!" Darren mengecup kening Senja tanpa merasa salah sedikit pun. Sama sekali tidak sadar, istrinya sedang tertegun keheranan dengan ulahnya.


"Ask ... lihat wajah Senja baik-baik. Apa Senja memang terlihat pengen banget?" Senja menunjuk wajahnya sendiri.


Darren memperhatikan istrinya dengan seksama. Lalu pria itu memasang ekspresi layaknya seorang yang sudah salah menebak. Meringis sembari menggaruk-garuk rambutnya.


"Aku pikir kamu pengen. Suasana malam ini begitu romantis. Membuat aku merasa kembali ke masa-masa awal pernikahan dulu. Pernikahan Bey memang luar biasa. Aku yakin, Genta habis-habisan untuk ini."


Senja mengusap paha Darren naik turun, perlahan pria itu merasakan ada sesuatu yang bergerak di antara dua pahanya. Mendesak kain yang dia kenakan hingga sesak. Pria itu mencoba tetap tenang. Darren tidak mau sampai Senja merasa bersalah atau sedih karena tidak bisa memenuhi kebutuhan batin suaminya.


"Aku juga memikirkan hal itu, Ask. Tapi Genta dan Bey masih muda, mereka bisa menabung kembali setelah ini. Genta benar-benar tidak mau kita bantu. Jangankan kita, Pak Rangga juga tidak mengeluarkan uang sama sekali. Setidaknya, kita bersyukur, Ask. Genta sangat bertanggung jawab dan mencintai Beyza." Senja memelankan usapannya, semakin membuat Darren tidak fokus.


"oh, ya... kenapa tadi kamu terlihat gelisah? Mondar mandir bikin Senja pusing."

__ADS_1


Darren tidak langsung menjawab. Fokus yang terganggu karena naganya yang mengeliat sempurna bercampur dengan kecemasan yang sebenarnya.


"Ehmm, a---" Darren tidak melanjutkan kalimatnya. Pria itu tampak ragu. Tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi yang akan diberikan istrinya itu.


"Kenapa, Ask?" Senja semakin dibuat penasaran.


"Ask ... aku kepikiran Bey," lirih Darren.


"Memangnya Bey kenapa? Bey terlihat bahagia. Bahkan Bey dan Genta berhasil mengalahkan durasi kita saat wedding kiss dulu. Mereka baik-baik saja."


Darren lagi-lagi menggaruk kepalanya. "Justru itu."


"Ya, kenapa?" Senja masih tidak paham arah pembicaraan Darren.


"Diam-diam begitu, ternyata Genta menyimpan kekuatan luar biasa. Aku takut, Genta akan membuat Beyza menangis malam ini. Bey masih belum pernah tersentuh, Ask. Aku nggak bisa bayangin. Pertama kali, pasti sakit kan?"


Senja tidak bisa menahan tawanya. Wanita itu tertawa begitu lepas, hingga mengeluarkan air mata. "Ask, kamu berlebihan, deh. Nggak segitunya."


"Sakit ... kadang berdarah. Tapi sakitnya nggak banget, lama-lama nagih. Diawal nggak nyaman, semakin sering, semakin biasa. Sudahlah! Bey sudah tanya-tanya ke Senja. Dia aman! Sudah, Ah! Itu sudah kodrat Bey sebagai perempuan. Jangan berlebihan. Semua perempuan mengalaminya." Senja menarik tangan Darren hingga tubuh suaminya itu berada tepat di atasnya.


"Jangan menghiburku, Ask. Aku benar-benar kepikiran." Darren menahan badannya agar tidak sepenuhnya membebani Senja. Dia benar-benar takut membuat istrinya sakit.


"Yang aku katakan itu kenyataan. Sudahlah, saat kamu mondar mandir tadi, bisa jadi mereka sudah berhasil melalui satu permainan. Yang sesederhana ini, tidak usah dijadikan beban." Senja mengangkat sedikit pahanya. Tidak sengaja, menyenggol sesuatu yang sudah mengeras dengan sempurna.


"Boleh aku bantu?" Senja menatap Darren dengan tatapan menggoda.


Darren buru-buru merebahkan dirinya di samping Senja. "Jangan, Ask. Kamu Istirahat saja. Aku masih bisa menahannya."


"Aku ingin membantumu. Jangan ditolak, Ask! Jangan buat aku merasa semakin tidak berguna sebagai istri."

__ADS_1


Senja membuka pengait celana Darren, lalu menurunkannya hingga sebatas lutut. Saat Senja memasukkan naga itu ke mulut mungilnya. Darren memalingkan wajah sembari menyeka air mata yang mengalir di pipinya tanpa aba-aba.


"Kenapa kamu berusaha terlalu keras untuk bisa membahagiakan orang lain, Ask? Tidak bisakah kamu fokus pada dirimu saja?" lirih Darren dalam hati.


Darren tidak kuasa merasakan kenikmatan yang diberikan. Dia sungguh tidak tega. Darren menarik pundak Senja. Membuat mulut sang istri membebaskan naganya dengan cepat. Darren membawa Senja ke dalam pelukannya.


"Aku mencintaimu, Ask. Aku mohon, jangan pikirkan aku dulu. Aku ingin kamu sembuh, hanya itu."


***


Di kala semua orang sedang membicarakan dan menduga-duga tentang malam pertamanya. Beyza dan Genta malah terlihat santai. Keduanya duduk bermesraan di balkon sembari menatap air laut yang sedang bergelombang pelan.


Setelah resepsi tadi, Beyza mendapatkan tamu bulanannya tanpa permisi. Jadilah kedua pengantin baru tersebut harus menahan diri terlebih dahulu.


"Terimakasih ya, Kang, sudah mewujudkan semua impian, Bey."


Genta membelai wajah istrinya, tatapannya lembut dan hangat. "Ini hanya awal impian yang aku kabulkan, Mbak. Teruslah bermimpi, dan aku akan selalu mewujudkannya dengan senang hati."


"Kang Genta pun harus punya mimpi. Kita akan membangun mimpi dan mewujudkannya berdua. Tidak boleh hanya Bey. Sekarang semua harus tentang kita."


"Aku bersyukur, Bey. Sangat bersyukur. Kamu tidak hanya cantik dipandang mata, namun juga cantik hatinya."


"Ih, Kang Genta kemana saja. Kalau itu sudah sedari dulu. Cantik, baik, dan lumayan kaya." Beyza mengeluarkan sedikit kesombongannya.


Genta memencet hidung Beyza dengan gemas. "Dasar sombong."


"Sombong halal untuk anak Darren Mahendra."


"Mana ada begitu ... Mbak, aku masih manusia biasa. Kita sama-sama masih muda. Godaan dan cobaan pasti akan silih berganti datang pada kita, bolehkah aku meminta satu permintaan?"

__ADS_1


Belum sempat Beyza menjawab, terdengar bunyi nyaring telepon stateroom. Genta langsung berinisiatif masuk ke dalam sana dan mengangkat telepon tersebut.


Genta menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan begitu mendengar suara dari seberang.


__ADS_2