
Senja sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah si kembar dan Dasen. Hari ini adalah pengambilan hasil penilaian semester ganjil.
Derya dan Beyza setelah ini akan resmi menempuh pendidikan secara home schooling. Sedangkan Dasen tetap bersekolah seperti biasa setelah liburan semester usai.
Senja kini masih bersama anak-anak. Dia akan berangkat bersama Darren. Sejak kejadian aktor Turki, perhatian suaminya itu semakin bertambah. Dia tidak ingin, Senja mengagumi laki-laki lain, sekali pun itu bukan di dunia nyata.
"Ma, liburan ini, kita ke tempat oma Bae ya?" tanya Dasen.
"Iya, bener. Kita ke sana saja. Deket dan yang penting berlibur." sahut Beyza.
"Setuju!" timpal Derya.
"Mama sih, seneng-seneng saja. Tapi lihat jadwal daddy dulu ya. Mama sebenarnya pengen kita ke UK sama kak Zain. Sekalian nemenin lihat-lihat kampus yang cocok buat kak Zain."
"Mau! Ke UK lebih keren lagi. Mama, memang terbaik." Dasen merangkul Senja dari belakang.
"Satu tahun ini, kia tidak pernah kemana pun, daddy sibuk terus. Cari uang buat keluarga, tapi nyatanya, liburan sama keluarga saja sulit," protes Derya.
"Kalau ke negara S, bukan liburan, tapi pulang kampung," sambar Beyza.
"Nanti, Mama bicara sama daddy dulu. Kalau kita pergi sendiri tanpa daddy kira-boleh tidak." Senja mencoba menetralkan pembicaraan tentang liburan.
"Daddy tidak bisa pergi ke mana-mana bulan ini. Jadi kalian ke tempat oma Bae saja. Itupun mama kalian tidak akan ikut," sahut Darren tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.
"Kan Daddy bisa sendirian? bisa juga di rumah oma Sarita," ucap Dasen.
"Tidak, bisa. Kalian akan berangkat besok. Mama dan Daddy tidak ikut. Kalau tidak mau, berarti liburan saja di sini," tegas Darren.
"Selalu saja begitu. Mama juga butuh liburan juga kali," cibir Beyza.
__ADS_1
Kali ini, Bey mendukung mamanya. Jika ijin Daddy nya turun, dia akan liburan ke UK. Sungguh menyenangkan, karena ke tempat oma Bae sudah terlalu biasa.
"Mama pasti aman bersama kami. Ayolah, Dadd. delapan hari saja. Masih panjang waktu daddy bersama Mama. Please!" Dasen memohon dengan wajah penuh harap.
"Delapan hari itu 192 jam, Das. Daddy di kantor enam jam saja sudah berasa lama sekali, apalagi 192 jam. Tidak, Daddy tidak mau semenderita itu." Darren menjawab dengan mantap.
"Astaga, Dadd. Waktu Daddy bersama Mama bahkan lebih banyak dibandingkan kami. Kalau menunggu Daddy bisa, pasti tahun depan atau mungkin depannya lagi." Beyza menghentakkan kakinya kesal.
"Ketidakadilan sedang terjadi di sini," tambah Derya.
"Nanti kita bicarakan lagi. Sekarang Daddy berangkat dulu." Darren mengulurkan tangan. Beyza, Derya dan Dasen mencium tangannya bergantian.
"Semangat merayu Daddy, Ma!" Beyza memberi semangat sembari mencium gemas pipi mamanya.
Senja hanya mengedipkan mata, sementara Darren langsung mengamit pinggul sang istri.
Darren memang mengatakan yang sebenarnya. Bulan ini schedule nya sangat padat di perusahaan. Bahkan ada beberapa hari yang mengharuskan pulang malam karena ada video conforence dengan investor dari luar negeri. Perbedaan waktu membuat Darren dan beberapa pegawai harus menambah jam kerja mereka.
.
.
Baru saja sampai di dalam ruangan dan duduk di kursi kebanggaannya. Pintu ruangan kembali terbuka. Amar--sekretarisnya, muncul dari sana dengan senyuman yang tidak lagi sesumringah dulu. Pasalnya, Amar baru saja bercerai dengan istrinya.
"Maaf, Pak. Di bawah ada Pak Adrian, katanya ada urusan yang sangat penting," jelas Amar.
"Adrian siapa, Mar?" Darren mengerutkan kening karena merasa tidak kenal.
"Kalau tidak salah dari Tipola Corp, tapi kata beliau, ini bukan urusan bisnis."
__ADS_1
Darren mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat-ingat. Tapi tetap saja tidak ada sosok bernama Adrian yang terlintas di kepalanya.
"Ya sudah, antar langsung ke ruang tamu di bawah saja. Biar Saya yang ke sana." Darren berdiri, mengambil ponsel dari atas meja kerjanya, lalu turun menggunakan lift khusus.
Sampai di ruangan yang di tuju, Darren baru mengenali sosok Adrian. Sosok ceo sekaligus owner Tipola Corp yang beberapa kali berselisih pendapat dengannya karena pengajuan budgeting yang tidak pernah masuk akal.
"Apa kabar, Pak Darren? Maaf mengganggu waktu Anda. Terimakasih sudah menerima, Saya." Adrian berdiri, menjabat tangan Darren dengan gaya basa basi yang kentara.
"Tidak masalah. Silahkan! langsung saja pada tujuan Anda kemari." Darren malas untuk berbasa basi.
"Begini, Pak Darren. Sebenarnya, Saya kemari bukan untuk urusan bisnis. Saya datang khusus untuk membahas tentang anak-anak kita. Anak pak Darren, si Beyza dan Derya, juga anak saya Arnold."
Mendengar dan mengetahui bahwa Adrian adalah orangtua Arnold, membuat Darren maklum dengan perilaku Arnold yang akhirnya menyimpang jauh dari aturan yang berlaku.
"Bukankah sudah ada pengacara yang mengurus?" tanya Darren pura-pura tidak tahu tujuan lawan bicaranya datang.
"Saya mohon, kasus anak-anak, diselesaikan di antara kita saja. Mereka hanya anak-anak. Tidak perlu melibatkan KPAI atau aparat hukum yang lain. Apapun syarat yang Bapak inginkan, akan saya berikan. Akan ada tender besar dengan DNG Corp, Saya bersedia mundur agar perusahaan bapak menang," ucap Adrian dengan penuh percaya diri.
"Masalah anak-anak sudah lebih dari separuh jalan, jadi biarkan saja proses hukum terus dikerjakan sampai selesai. Sebagai pembelajaran, bahwa hukum berlaku untuk siapa saja. Miskin kaya, berlimpah atau kekurangan, semua sama dihadapan hukum. Lagi pula kami membawa kasus ini pada lembaga yang tepat. Seperti yang Anda katakan, mereka hanya anak-anak. Tapi justru karena mereka masih anak-anak, berperilaku benar harus dibiasakan," tegas Darren menatap tajam Adrian dengan begitu angkuh.
"Satu hal lagi, Arnold juga bermasalah dengan anak saya sampai masuk ke kantor polisi bukan? hasil tes ur1ne Arnold positif narkoba, tapi tentu saja Arnold lolos. Pak Adrian kan hebat. Saya bersyukur sekaligus beruntung, karena anak Saya ke luar dari sana dengan hormat tanpa perlu saya mengeluarkan uang sepeserpun," tambah Darren, tatapannya kini sinis dan merendahkan.
Adrian masih belum menyerah. "Bagaimana dengan tender dengan DNG Corp dan Saya akan memberikan entertaint yang bagus untuk Bapak. Di club Ve, perempuannya import pak, begini." Adrian menunjukkan dua jempolnya pada Darren.
Seketika wajah Darren memerah, baginya ditawari perempuan adalah sebuah penghinaan besar bagi dirinya.
"Keluar dari kantor saya. Asal Anda tahu, DNG Corp adalah perusahaan milik mertua saya. Kalau saya mau, bukan tender saja yang bisa saya menangkan. Menguasai perusahaannya pun saya mampu. Yang lebih penting lagi, kenali lawan bicara Anda sebelum menawari dia macam-macam. Darren Mahendra tidak suka bermain perempuan. Kalau saya memang gila perempuan, tentu Anda akan melihat saya di club-club. Saya tidak akan menunggu gratisan dari Anda atau siapapun. Bahkan uang saya bisa membeli semua perempuan yang ada di sana." Darren langsung meninggalkan tamunya begitu saja.
Adrian merasa mukanya seperti sedang dilempar kotoran. Pupus harapan untuk berdamai, bisnis pun pasti hancur dan melayang.
__ADS_1