
Lantunan melody dan lirik A Thousand Years milik Christina Perri, mengiringi langkah pengantin wanita memasuki area akad. Nampak dari kejauhan, Senja berjalan mengamit lengan Beyza dengan sangat elegan. Keduanya terlihat sangat cantik dan mempesona di usia masing-masing. Di belakang mereka mengikuti si kembar Brenda-Karina, serta De yang diapit Sarita dan Bae.
Genta berkali-kali memencet hidung dan mengusap pipinya sendiri. Air mata turun tanpa aba-aba begitu melihat sosok Beyza. Cintanya yang begitu besar membuatnya meluapkan kebahagiaan dalam keharuan yang luar biasa. Terlintas diingatannya, bagaimana dulu dirinya dan Beyza, harus terpisah lama karena Darren yang menentang keras hubungan mereka. Bagaimana dia sembunyi-sembunyi memperhatikan Bey dari kejauhan dan mengirim hadiah diam-diam.
Genta memejamkan matanya, sebentar mengucapkan syukur. Dia jatuh cinta dan mengenal cinta pertama kali pada Beyza, dan setelah bertahun-tahun berlalu, perasaan itu tidak berpindah nama, bahkan semakin besar tertuju untuk Beyza. Dan hari ini adalah awal dari kehidupan yang sebenarnya.
Darren menatap sendu pada sosok dua perempuan yang semakin mendekati tempat di mana dia berada. Air matanya luruh karrna Kesedihan yang berlipat. Melihat Senja mengingatkan Darren akan kesabaran, kelembutan, dan kekuatan sang istri yang luar biasa. Di tengah sakit, Senja masih ingin mewujudkan impian putri satu-satunya. Saat menatap Beyza, yang terlintas dipikirannya adalah kemanjaan-kemanjaan yang selama ini dia berikan. Mulai hari ini, sikap manja Beyza mungkin tidak akan lagi dia rasakan.
Senja langsung mengulurkan tangan Beyza pada Darren. Sudah seharusnya Darren yang menyerahkan Beyza secara langsung pada Genta. Pasangan suami istri itu beradu pandang penuh keharuan.
Melihat raut sendu sang daddy, seketika membuat Beyza memeluk erat pria tersebut. "Sampai kapan pun, daddy adalah cinta pertama Bey. Tidak ada yang akan menggantikan itu."
Darren mengeratkan pelukannya. Luruh sudah air mata yang sedari tadi ditahan. Rasanya belum puas memanjakan Beyza, apa daya Tuhan mempertemukan jodoh putri satu-satunya itu lebih cepat dari yang dia duga. Menurun dari Senja, anak-anak sepertinya memang ingin menikah di usia muda, ketimbang bersenang-senang menumpuk dosa.
Elusan tangan lembut Senja menyadarkan Darren, jika acara masih harus berlanjut. Pria itu mengendurkan pelukannya pada Beyza. Semua orang yang berada di sana seolah terbius dengan suasana. Mereka enggan beranjak, bergeser, atau pun sekedar membuka suara. Sungguh sebuah moment langka dan sangat mengharukan.
Setelah mengeringkan pipi dan matanya yang basah dengan tisu yang diberikan Senja, Darren dengan mantap mengantar Beyza melangkah mendekati Genta. Anak dari pasangan mendiang Aris dan Jingga itu semakin tidak bisa membendung air matanya.Terlalu bahagia membuat dadanya sesak. Tuhan begitu melimpahkan berkah yang luar biasanya pada Genta. Tuhan membayar kesabaran dan keikhlasannya menjalani hidup dengan baik meski tanpa kasih sayang orangtua kandung.
Darren meraih satu tangan Genta, dan menyatukan tangan itu dengan tangan Beyza. "Daddy serahkan kesayangan Daddy sama kamu, Gen. Jaga Beyza baik-baik. Sayangi Beyza seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Jadikan Beyza napasmu. Jika sampai suatu saat kamu berubah pikiran dan tidak mencintai Beyza lagi, aku jamin kamu akan menyesal. Daddy yang pertama kali menyadarkanmu, betapa tidak mudah kalian sampai di titik ini."
Genta menganggukkan kepalanya dengan pelan. Air mata tidak henti mengaliri pipinya. Genta lebih banyak mencurahkan bulir bening ketimbang Beyza sendiri. Hadirin bertepuk tangan dengan begitu riuh, sebagai bentuk dukungan pada Beyza dan Genta.
Darren membalikkan badan, melangkah perlahan mendekati Senja yabg sudah mengulurkan tangan untuk menyambutnya.
__ADS_1
Beyza mengecup punggung tangan suaminya, Genta pun melakukan hal yang sama. Kecupan lembut, bibir Genta di kening Beyza, menambah suasana riuh. Beberapa teman keduanya meneriakkan agar kecupan itu turun di tempat lain. Namun keduanya hanya tersenyum.
Tidak sekarang, waktu menjelang maghrib, sangat tidak etis memamerkan kemesraan pada jomblo. Bisa-bisa jin laut ikut merasuk dalam keromantisan itu. Beyza dan Genta akan menyimpannya di resepsi nanti malam.
"Beyza cantik sekali. Pernikahan ini impian semua perempuan," Denok yang barusan kembali menelan pil anti mabuk mulai memberikan komentar pada apa yang dilihatnya.
"Kamu pun boleh mempunyai pernikahan impian, dengan senang hati aku akan mewujudkannya," Dasen berbisik mesra menimpali ucapan Denok.
Semua hadirin di perkenankan duduk dan menikmati makanan dan minuman ringan yang disajikan. Karena sebentar lagi, acara akan terjeda dengan ibadah sholat Maghrib dan Isya. Selanjutnya, acara akan berpindah tempat dan suasana. Dress code untuk undangan tidak harus putih. Namun demikian, untuk keluarga besar masih akan tetap mengusung nuansa putih.
Genta dan Beyza melakukan sungkeman pada seluruh orang tua. Di sana keharuan semakin terasa. Manakala Genta bersimpuh di depan kaki Rangga. Keduanya saling memeluk seperti enggan melepas.
Hampir semua yang menyaksikan ikut terbawa suasana, tangisan Genta tidak lagi sekedar deraian air mata, namun kini disertai isakan yang mengiris.
"Terimakasih, Yah. Terimakasih mengantar Genta sampai di sini. Ayah tidak akan pernah sendiri, suatu saat kita akan tinggal bersama lagi. Ini janji Genta."
Genta dan Rangga melepas pelukan mereka, memberikan kesempatan pada Beyza untuk meminta restu pada Rangga.
"Bey, Ayah nitip Genta, Ya. Hatinya sangat lembut. Tegur dia jika salah, jangan didiamkan. Jangan pernah tinggalkan Genta. Jaga hati kamu dengan baik. Genta hanya mengenal satu perempuan dalam hidupnya, yaitu kamu. Jangan buat dia patah hati."
"Tidak akan Ayah. Di dalam keluarga Mahendra, tidak boleh ada perceraian. Begitu yang daddy ajarkan pada kami." Beyza menjawan dengan tegas, namun penuh kelembutan.
Acara sungkeman pun selesai, berlanjut dengan sesi foto bersama. Keluarga memutuskan foto di akhir sesi, mereka mendahulukan undangan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kak, Sekar mual, boleh nggak ke stateroom dulu?" bisik Sekar sembari menahan sesuatu yang selertinya sudah ingin melewati tenggorokannya.
"Sebentar aku pamit mama dulu," jawab Zain seraya menggandeng tangan Sekar mendekati Senja dan Darren.
"Kak, jangan melewati Dasen. Wajahnya nyebelin. Lihat deh kalau senyum gitu, kesannya sombong banget," Sekar berdecih sembari menunjuk salah satu iparnya itu dengan dagunya.
Zain mengernyitkan keningnya, mau tidak mau dia ikut memperhatikan Dasen yang tengah becanda dan berbaur bersama Derya dengan beberapa teman Beyza. Terlihat biasa saja. Tidak ada yang mengesalkan. Memang seperti itulah gaya Dasen. Tapi untuk amannya, Zain memilih untuk memutar arah agar tidak melewati Dasen.
Sementara itu, Denok yang semakin membaik, mulai menikmati perjalanan. Bahkan dia mulai berani berjalan tanpa dipegangi oleh orang lain.
"Del, kita foto yuk! Di ujung dek sana. Biar kayak Rose sama Jack di film Titanic." Ajak Denok mulai bergaya. Mengajak Delia yang fokus menunggui Nando yang asik bermain di playground bersama anak-anak undangan lain yang sebaya dengan Nando.
"Kalau aku sama kamu, jatuhnya Rose dan Rose dong, Nok. Sana ajak Dasen saja." Delia menunjuk Dasen yang sekarang berjalan mendekati area bermain di mana mereka berada.
Denok pun dengan semangat mendekati Denok. "Mas, kita foto kayak cover film Titanic, yuk! mumpung langitnya bagus bangettt."
Sejauh mata memandang, lautan luas dan semburat langit senja memang begitu memanjakan mata. Gradiasi warna biru,hitam, orange yang berbaur membentuk gradasi warna, sungguh keindahan lukisan Tuhan yang sulit dituliskan lewat kata-kata.
"Nok, kamu tahu tidak? Apa yang terjadi setelah mereka berdiri di atas dek dengan membentangkan tangannya?" Dasen mengulum senyuman nakal.
"Ciuman? Jack ngelukis dengan menjadikan Rose sebagai modelnya? Aku lupa." Denok menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau mau meniru adegan mereka yang indah-indah, harus bersiap melakukan adegan yang lain juga."
__ADS_1
Seketika Denok menggelengkan kepala, sembari bergidik ngeri karena mengingat sesuatu. "Tidak! Jack dan Rose juga bercinta di dalam mobil yang di parkir. Aku tidak mau."
Dasen hanya terkekeh. Tapi tawa itu terhenti ketika dia melihat mamanya seperti sedang menahan sakit sembari meneguk segelas air putih di dekat kolam renang.