
Tiga bulan berlalu begitu cepat bagi sebagian orang, tapi tidak bagi seorang Darren Mahendra. Pagi, siang, sore dan malam di lalui dengan resah dan gelisah. Bukan masalah biaya yang dia keluarkan untuk membeli tiket pesawat setiap weekend, tapi Senja yang masih enggan diajak pulang ke Indonesia sungguh membuatnya merana.
Di rumah dia benar-benar merasa kesepian, Zain dan Dasen sudah berangkat ke UK dua bulan yang lalu. Kalaupun ada mereka, tetap saja serasa hidup sendiri. Karena kedua anaknya itu, lebih sering melakukan kegiatan di rumah dibanding menemaninya.
"Permisi, Pak. Tiketnya sudah saya kirim melalui pesan ke ponsel, Bapak. Mohon maaf, jadwal penerbangan malam tepat pukul 12. Untuk hari ini, hanya itu yang masih tersedia." Amar memberi tahu atasannya itu dengan hati-hati.
Darren mencebikkan bibirnya sembari membuka file tiket yang dikirimkan Amar.
"Mar, menurutmu, kali ini, aku harus membawa apa ya? Biar Senja klepek-klepek lagi sama aku dan mau diajak pulang." Darren bertanya sembari melepas dasi yang tadi terpaksa dikenakannya karena ada meeting formal dengan beberapa investor.
"Bawa sebuah ketulusan, itu pun kalau masih ada. Karena saya yakin, Bapak ke sana pasti dengan keinginan-keinginan tertentu," jawab Amar, mencoba sedikit bijaksana dan jujur.
"Keinginanku masih sama dan sangat mulia, Mar. Aku tahu di sana mereka tidak ada asisten rumah tangga. Makanya aku, mengurangi cucian baju istriku dengan mengambil daster kotornya tiap minggu. Kurang tulus apa lagi aku?"
Amar menepuk keningnya sendiri dengan kuat. "Itu masih termasuk modus, Pak. Ngambil dasternya juga pasti pas masih dipakai, sudah begitu di rumah buat sarung bantal dulu biar bisa tidur. Di mana letak ketulusannya?"
Darren mencebikkan bibir, dia bangkit dari kursi kebesarannya, lalu berjalan mendekati cermin yang ada di sudut ruangan. Memandangi bayangan dirinya yang terpantul jelas di sana.
"Ck... sudah hampir umur 50an, tapi ketampananku tidak pernah pudar. Kerutan di mataku, sepertinya bertambah segaris. Ini salah Senja. Tidak bisa memproduksi keringat, membuat kulitku mengering." gumam Darren, terdengar jelas di telinga Amar.
Sebelum curhatan, keluhan dan kenarsisan semakin panjang, Amar buru-buru meninggalkan ruangan atasannya itu.
.
.
Asrama pelajar Duch Secondary School UK, di sinilah sekarang Dasen berada. Bersama teman satu kamarnya yang juga berasal dari Indonesia. Kini Dasen sedang bersiap menikmati akhir pekannya.
Layaknya para pelajar lain, akhir pekan adalah saat yang paling ditunggu. Mereka bebas keluar asrama untuk sekedar jalan-jalan, belanja atau ke mana pun yang diinginkan.
"Mike, kita ke mana hari ini?" tanya Dasen, pada teman yang sangat sefrekuensi dengannya itu.
"Kita ke Dodoe Park. Di sana tempat berkumpulnya pelajar dari Indonesia, siapa tahu, kita mendapatkan kenalan di sana. Entahlah, bagiku pesona cewek Indonesia masih tidak terkalahkan," jawab Mike sembari mengenakan jaket salah satu tim bola favoritnya.
"Aku, juga berpikiran seperti itu. Ayolah, kalau begitu! Jangan membuang waktu!" ajak Dasen dengan penuh semangat.
__ADS_1
Keduanya pun pergi ke tempat yang dimaksud oleh Mike dengan menggunakan taxi online.
Sampai di sana, keduanya berjalan santai menyusuri taman yang sudah ramai. Benar Kata Mike, wajah-wajah Indonesia dominan di sana. Food truck yang berjajar pun menjajakan makanan khas Asia, khususnya Indonesia.
Pandangan mata Dasen seketika tertuju pada seorang gadis berwajah manis, cantik dan sedikit menggoda, dengan kulit eksotis dan rambut ikal yang sangat seksi.
Dasen terus berjalan mendekati gadis itu, mengabaikan Mike yang berjalan ke sisi lain.
"Hai.... " Dasen langsung menyapa gadis itu tanpa ragu. Dia mewarisi kepercayaan diri yang tinggi dari Darren dengan sempurna.
Gadis itu langsung menatap Dasen dan melemparkan senyuman yang menawan.
'Sempurna,' batin Dasen dengan mulut sedikit ternganga.
"Hai... Indonesian?" Gadis itu membalas sapaan Dasen sekaligus bertanya dengan ramah.
Dasen langsung menggangguk sembari mengulurkan tangannya. "Dasen."
Gadis itu menyambut uluran tangan Dasen. "Sekar."
"Sedang menunggu seseorang." Gadis itu mendudukkan bokongnya di bangku taman.
"Boleh?" Dasen meminta ijin untuk duduk di sanping Sekar.
"Silahkan!"
Dasen melihat Mike sedang sibuk mencarinya. Tangan temannya itu menggenggam benda pipih yang ditempelkan di daun telinga. Ponsel Dasen pun berdering. Dia mengabaikan begitu saja.
"Kuliah di mana?" tanya Sekar memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Dasen mengernyitkan keningnya, hingga alis lebatnya menyatu sempurna.
"Oh, sorry. Kamu, masih sekolah menengah?" ralat Sekar setelah melihat ekspresi lawan bicaranya itu.
Dasen meraba sendiri wajahnya. "Apa aku terlihat setua itu?"
__ADS_1
"Tidak! Bukan begitu. Aku selalu salah menebak kalau soal sekolah atau kuliah. Tapi satu hal yang tidak mungkin salah. Kamu sangat tampan, Dass. Dan sangat berkarisma," Sekar memuji tanpa sungkan.
Sekar sudah dua tahun berada di UK, dia adalah salah satu mahasiswi kedokteran dari program beasiswa.
Seketika Dasen menyunggar rambut depannya ke belakang. Pesonanya memang tidak pudar dan tetap bersinar meski di bawa ke belahan dunia bagian mana pun.
"Eh, Das. Aku duluan ya, semoga minggu depan, kita bertemu lagi. Temanku sudah datang." Sekar memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, setelah membaca notifikasi pesan masuk dari seseorang.
"Aku pasti datang lagi ke sini, asal kamu juga datang." Dasen memberikan tatapan yang tajam mempesona pada Sekar.
"Bye...." Sekar melambaikan tangan sembari berjalan menjauhi Dasen.
"Bye...."
Mike langsung mendengus kesal begitu melihat Dasen. "Kebiasaan, cepet banget kalau lihat yang high quality."
"Ingat! Sekarang ini era globalisasi. Siapa cepat dan mudah menyesuaikan diri, dia yang sukses," tegas Dasen.
Mike merangkul Dasen. "Ada yang keren dan oke banget. Di jamin kamu bakalan langsung netes. Kalau yang ini, sepertinya bisa di ajak ke Moon." Mike menyebut salah satu nama club khusus pelajar.
Dasen mengikuti saja langkah kaki Mike, meski otak dan matanya kini masih terbayang-bayang dengan sosik Sekar.
"Hai...." Mike menyapa seorang gadis yang sepertinya memang seusia dengan mereka.
Gadis itu mengenakan celana hot pants dipadu dengan atasan ucansee berbahan rajut warna merah.
Gadis itu malah melempar senyumnya pada Dasen. Bibirnya merah merekah alami, rambut blonde dengan kulit putih mulus seperti kulit Beyza.
"Delia." Gadis itu langsung memperkenalkan diri sebelum diminta.
Bukan sesuatu yang tabu, mereka hidup di negara barat, di mana keterbukaan dalam berkomunikasi adalah hal yang biasa. Tidak ada batasan dan aturan harus lelaki dulu yang berkenalan atau menyapa.
Dasen ingin menjawab. Tapi matanya teralihkan dengan sesuatu. Dia melihat Sekar sedang bersama sosok yang sangat dikenalnya.
'Tidak mungkin! Bagaimana bisa kebetulan seperti ini,' batinnya.
__ADS_1