Hot Family

Hot Family
Ajakan mendadak dari Dasen


__ADS_3

Senja menggenggam tangan Darren dengan erat. Kalau dia tidak salah menduga, dari ekspresi yang ditunjukkan Zain, sepertinya, berita yang akan disampaikan adalah berita yang sangat menggembirakan.


"Berita apa, Zain?" Darren pun ikut tidak sabar.


Sekar dan Zain saling bertukar pandang. Senyum bahagia berbalut rasa syukur terpancar jelas di sana.


"Kak Zain saja," ucap Sekar.


"Beberapa bulan lagi, kalian akan dipanggil Oma dan Opa," pekik Zain, dia langsung memeluk Sekar dan juga memberikan ciuman bertubi-tubi. Bibir Zain mengecup keliling setiap bagian wajah Sekar.


"Tole-nya Kak Zain hebat. Langsung menembak tepat sasaran. Kalau begini, berarti keinginan bapak ibuk punya tujuh cucu dari Sekar akan gampang terpenuhi." Sekar tampak begitu menggebu-gebu.


"Dua anak cukup, Kar. Kalau terlalu banyak dan mepet jaraknya, gimana kita bisa menikmati waktu berdua," protes Zain.


"Tenang saja, Kak. Sepintar-pintarnya penjaga, masih pinter malingnya. Kalau sudah niat, pasti akan selalu ada celah," sahut Sekar dengan asal. Seakan lupa di sana juga ada Darren dan Senja.


Sementara itu, kedua orang yang disebut namanya, pura-pura tidak peduli. Walaupun mereka pernah dan kerap melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Zain dan Sekar, ternyata canggung juga melihat kemesraan orang lain di depan mata. Darren dan Senja tersenyum tipis menahan malu, mungkin beginilah perasaan orang lain saat melihat kemesraan mereka yang tidak kenal tempat dan waktu.


"Kak ...." Sekar mengerlingkan satu matanya pada Zain.

__ADS_1


Pria itu menggelengkan kepalanya. Dia tahu persis apa yang diminta oleh Sekar. Bukannya tidak senang, apa daya kondisi dan situasi tidak memungkinkan.


"Kalian istirahatlah di hotel. Sudah ada Daddy. Ma Nja pasti aman. Selamat buat kalian. Terimakasih sudah memberikan kabar yang luar biasa ini. Selamat, Sekar ... Zain ... semoga Allah jaga janin kalian sampai lahir nanti." Darren mengambil inisiatif untuk memutus kemesraan Sekar dan Zain. Selain itu, rasa haru juga menyelimuti hati Darren.


Zain selalu menjadi anak pertama yang dibanggakannya. Segala sesuatu pada Zain, selalu mengingatkannya pada Rafli. Bisa bertahan mencintai dan setia pada Senja sampai saat ini, semua jelas karena dia belajar banyak dari seorang Rafli. Dan sikap mendiang suami pertama Senja itu, memang menurun banyak pada Zain.


Anak pertama Senja itu mengendurkan pelukannya pada sang istri. Lalu perlahan berjalan mendekati brankar di mana Senja sedang berbaring.


"Selamat untuk kalian. Jaga dan sayangi Sekar dengan sepenuh hati, Zain. Jangan pernah membuat dia menangis. Seorang istri bisa kamu ganti dengan mudah. Tapi seorang ibu, selamanya dia tidak akan bisa digantikan oleh siapa pun. Muliakan ibu dari anak-anakmu. Di pundaknya, kebahagiaan sebuah keluarga diletakkan. Sakit dan sedihnya seorang ibu, akan terasa sampai seisi rumah. Itulah mengapa, seorang ibu lebih memilih diam dan menyimpan sedihnya sendiri." Mata Senja berkaca-kaca saat mengatakannya.


"Jika Zain berani menyakiti Sekar, berarti Zain juga menyakiti Mama dan Bey. Zain selalu ingat kata-kata itu."


"Selamat ya. Banyakin stock sabar. Perempuan yang sedang hamil, sifat tidak mau mengalahnya meningkat berlipat-lipat. Jangan kaget kalau Sekar mendadak bersikap seenaknya. Yang tadinya gak mau jauh-jauh, mendadak sekedar melihatmu saja dia enggan. Berharaplah Sekar nyidamnya ingin di manja. Itu lebih menguntungkan dan menyenangkan. Kamu tahu sendiri, kan, bagaimana mamamu saat hamil? Hanya daddy yang menjadi sasaran. Nggak heran, semua adik-adikmu mirip sekali sama daddy."


Senja langsung melayangkan sebuh cubitan kecil di perut Darren yang sudah mulai memiliki lemak. Pria itu hanya meringis kecil sembari mengusap bekas cubitan Senja yang menyisakan rasa pelas.


"Sudah kalian nginep di hotel saja. Biar mama sama daddy saja. Maaf sudah merepotkan dan membuat kalian semua khawatir." Senja memberikan senyuman yang masih sangat cantik meski usianya tidak lagi muda.


"Tidak ada kata merepotkan untuk Mama." Zain mengecup kening mamanya dengan lembut.

__ADS_1


"Terimakasih, sayang ... Sekar, terimakasih, ya." Senja sedikit mengangkat kepala agar bisa melihat ke arah di mana Sekar berdiri.


"Sama-sama, Ma. Terimakasih juga sudah menerima Sekar dengan sangat baik. Diminta datang sebagai menantu, nyatanya Sekar malah dimanjakan seperti anak sendiri." Istri Zain tersebut berjalan mendekati Senja.


Setelah Senja dan Darren menberikan sedikit nasihat, Zain dan Sekar pun benar-benar meninggalkan ruangan Senja. Keduanya pergi ke hotel yang sama di mana Genta, Beyza dan yang lain berada.


Sementara Itu, Dasen dan Derya sudah berangkat ke bandara dengan tujuan masing-masing. Derya yang akan kembali ke negara S, dan Dasen yang ingin menemui Denok sebelum kekasih pujaan hatinya tersebut kembali ke Jakarta.


Meski berangkat bersama, Dasen dan Derya turun di gate berbeda. Derya langsung turun lebih awal di gate keberangkatan internasional, sedangkan Dasen, turun di gate domestik.


"Bagaimana Bu Senja, Mas?" Denok langsung menanyakan calon mama mertuanya begitu sudah duduk berhadapan dengan Dasen. Mereka menunggu waktu keberangkatan, di sebuah coffe shop. Sementara Delia dan anaknya yang satu pesawat dengan Denok, memilih duduk di kursi berbeda namun di tempat yang sama.


"Alhamdulillah, mama sehat. Nok, aku boleh nomong sekarang nggak?" Dasen seperti tidak sabar ingin menyampaikan sesuatu.


Sejak berada di dalam mobil tadi, perasaan dan pikirannya kompak merasa gelisah. Dia menangkap gelagat Derya yang intens berkomunikasi dengan Mecca, membuatnya takut keduluan sang adik. Bukan perkara membelikan Villa untuk Zain. Lebih pada harga diri yang jatuh karena harus keduluan Derya adik-adiknya. Meski sebenarnya menikah memang bukan kompetisi, tentu akan lebih menyenangkan kalau dia yang lebih dulu menikah ketimbang Derya.


"Apa, Mas?" Denok bertanya dengan lembut.


"Setelah semua kembali ke Jakarta, bolehkah aku mengajak orangtuaku untuk melamarmu?"

__ADS_1


__ADS_2