Hot Family

Hot Family
First


__ADS_3

Setelah acara pengangkatan Derya sebagai CEO DNG Corp selesai. Senja, Dasen dan Zain langsung kembali ke mansion.


Hari ini juga, Zain akan terbang lagi ke Indonesia. Dia sudah terlanjur janji dengan beberapa pasien.


Sedangkan Senja masih membujuk Darren agar mau atau setidaknya mengijinkannya untuk menjenguk Beyza.


Derya sendiri, meskipun di kantor, pikirannya masih dilema karena Inez. Tiba-tiba saja, kekasihnya itu meminta pulang ke Indonesia. Andai hubungan Inez dan mamanya baik-baik saja, tentu hal itu tidak menjadi masalah.


Dengan ketidakhadiran Inez di acara Derya saja, pandangan keluarga besarnya tentang Inez sudah tidak baik. Apalagi kalau sampai hari ini inert nekat untuk pulang, tentu mamanya akan lebih kecewa lagi pada pilihan Derya.


Dalam benak Derya sebenarnya juga ada rasa kecewa pada Inez. Lebih baik, Inez tidak menampakkan diri sama sekali ketimbang harus datang tapi tidak menghadiri alasannya dengan alasan yang sungguh egois.


Padahal, apa yang dilakukan Senja. Sikap yang ditunjukkan Senja karena ketidak setejuannya, masih lebih baik ketimbang papa dan mama Inez.


Beberapa kali Derya datang, rumah mereka selalu ditutup. Dia dan Inez hanya berbincang di beranda rumah, itu pun mama dari kekasihnya itu berkali-kali memanggil Inez.


Tapi hatinya sudah terlanjur cinta. Mungkin ini memang ujian bagi hubungan mereka. Dari awal, keduanya menginginkan menikah muda. Melihat restu yang sama-sama sulit, niat tersebut sepertinya harus diurungkan sementara.


Senja turun ke dapur, hendak membuatkan salad buah untuk Darren. Di sana dia melihat Inez sedang mengambil air mineral di lemari pendingin.


"Nez, boleh Tante bicara sebentar?" Senja bertanya dengan hati-hati.


"Silahkan, Tante." jawab Inez dengan sopan.


"Kita santai saja, karena tante sambil ngupas buah." Senja menunjuk meja makan sembari ditangannya membawa pisau dan baskom.


"Biar Inez bantu, Tante." Inez mengulurkan tangannya hendak mengambil pisau di tangan Senja.


"Tidak perlu, Nez. Daddy-nya Derya tidak suka kalau dia dilayani orang lain," tolak Senja.


Inez menundukkan kepala dengan jemari tangan yang meremas satu sama lain. Berhadapan dengan Senja yang terlihat lembut tapi sangat tegas, membuat Inez gemetaran luar dalam.


"Apa yang ada dibayanganmu sekarang tentang hubunganmu dengan Derya?" tanya Senja sembari mengupas mangga.

__ADS_1


"Sejak awal menjalin hubungan dengan Derya, yang saya pikirkan hanya kesungguhan dan keseriusan. Kami ingin menikah muda, tidak ada niat Inez untuk bersenang-senang dengan Derya." jawabnya.


Senja menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap Inez dengan lembut. "Dari awal sudah tahu kalau berbeda keyakinan?"


Inez menganggukkan kepalanya. "Sudah, Tante."


"Kenapa terpikirkan oleh kalian tetap menjalin hubungan, padahal ada hal prinsip yang begitu berbeda?"


"Karena teman-teman kami banyak juga yang mengalami, Tante. Tidak ada masalah. Selama kedua pihak berkomitmen. Soal ibadah, akan menjadi urusan kami masing-masing. Tapi urusan rumah tangga, Derya yang akan memimpin." Inez memberanikan diri menatap Senja.


"Bagaimana dengan orangtuamu?" Selidik Senja.


Inez terdiam, jawabannya kali ini harus lebih berhati-hati. Dia melihat Senja sekilas, saat tahu mama dari kekasihnya itu kembali mengambil buah lain untuk dikupas, Inez pun memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.


"Papa dan Mama, juga tidak setuju, Tante," lirih Inez.


Jawaban Inez, membuat Senja langsung menatap Inez dengan tajam.


"Apa sikap Tante ini terlihat kejam sama kamu, Nez? Apa keluarga Derya menakutkan? Sama seperti papa dan mamamu, kami hanya berharap jodoh anak kami seiman. Masalah yang lain, kami jarang peduli. Hari ini, di saat moment penting dalam hidup Derya terjadi, kamu memilih tidak hadir, padahal kamu sudah ada di sini. Jujur, Tante kecewa. Padahal ini baru pertemuan pertama kita." Senja berdiri mencuci buah yang sudah dikupasnya.


"Kamu tidak salah, mungkin Derya yang tidak beruntung. Dia berjuang, kamunya tidak." Senja tersenyum sinis. Memotong-motong buah, lalu menambahkan Yogurt, susu segar, dan parutan keju di sana.


"Pertimbangkan hubungan kalian, bicarakan baik-baik dengan Derya, jika perjuanganmu hanya sebatas ini, lebih baik kamu mundur." Senja meninggalkan Inez sendirian di meja makan.


Inez tertegun di meja makan. Seharusnya dia memang bersyukur, mama dari kekasihnya masih mau mengajaknya berbicara. Di banding papa dan mama sendiri yang selalu mengucapkan kalimat yang lebih menyakitkan pada Derya.


.


.


Genta sedang berada di apartemen di mana Beyza tinggal. Sejak memutuskan hidup mandiri, Bey lebih memilih tinggal di apartemen ketimbang di mansion milik mamanya.


"Astaga, Gen. Mama dan daddy, lusa mau datang ke mari." Beyza menepuk pundak kekasihnya yang duduk tepat di sampingnya.

__ADS_1


"Terus kenapa?" Genta bertanya dengan santai.


"Aku belum siap bertemu memberi tahu mereka. Daddy lebih tepatnya. Kalau mama, sekarang pun aku bisa memberi tahu. Mama masih sayang sama kamu, selalu ingat dan tetap mendoakan." Beyza menatap Genta dengan penuh cinta.


"Biar aku yang berbicara pada Om Darren dan Mama Senja. Kita tidak boleh berhubungan secara diam-diam. Daddy-mu akan semakin membenciku kalau sampai tahu kita berhubungan di belakang mereka. Kita harus jujur. Aku tidak akan menyerah, kecuali kamu yang meminta aku mundur," tegas Genta.


"Janji! Kamu tahu, Gen. Aku tidak pernah mau pulang ke Indinesia karena apa?" Beyza bertanya sembari bersandar di bahu Genta.


"Karena kamu mencari-cari informasi tentang aku." Tebak Genta.


"Kamu benar, itu salah satunya. Tapi aku tidak pernah dapat. Dan kamu curang, kamu malah tahu aku dari satu tahun yang laku. Jika aku tahu pengirim hadiahnya adalah kamu, aku tidak akan membagi-baginya pada teman kantorku."


"Tidak masalah, aku masih bisa memberimu hadiah-hadiah lagi. Sekarang kang Genta sudah kerja. Jadi bisa membelikan apapun dengan uang Kang Genta sendiri. Bukan uang ayah." Genta menowel hidung Beyza dengan gemas.


"Kok, Kang?"


"Ini cara bundaku manggil ayah Rangga. Kedengarannya enak, dan beda."


"Dan ayah Rangga manggil bunda Jingga apa?"


"Manggilnya 'Mbak.' Bey mau dipanggil Mbak Beyza juga? mesranya beda lho."


"Boleh... boleh... Beda dari yang lain." Beyza malah terlihat senang dengan ide Genta. Padahal, di keluarga Senja dan Darren, sangat jauh dari sentuhan tradisi jawa.


"Bey...," panggil Genta dengan lembut.


"Hmmmm...."


First kiss, yuk." Genta membelai pipi Beyza.


Gadis itu mendadak gugup. 22 tahun usianya, dan dia memang belum pernah berpacaran apalagi berciuman. Bisa dikatakan, Genta adalah pacar pertamanya. Dan akankah menjadi orang yang mencium bibirnya pertama kali juga? Beyza berpikir sejenak. Memegangi bibirnya, lalu menatap Genta yang sedang menatapnya penih cinta.


"Tapi aku belum pernah, Kang," lirih Beyza.

__ADS_1


"Aku, juga belum pernah, Mbak. Ini sama-sama akan menjadi yang pertama buat kita." Genta masih menunggu persetujuan dari Beyza.


__ADS_2