
"Ma ...." Darren memanggil Sarita dan menggelengkan kepala, mengisyaratkan agar mamanya itu mengendalikan diri. Dia tidak mau ada perdebatan di depan Bae dan Arham.
"Ya sudah, Mama duluan, gerah juga di sini." Sarita menarik tangan Mahendra dengan buru-buru masuk untuk kembali ke kamarnya terlebih dahulu.
Jiwa ingin tahu Bae mulai muncul, perempuan itu memang belum pernah tahu cerita mengenai Genta. Dan saat ini adalah pertemuan pertamanya dengan kekasih Beyza itu.
Dasen, Derya, Beyza dan diikuti Genta, kompak mencium punggung tangan Bae dan Arham dengan sopan. Tidak ada Zain di sana. Karena anak pertama Senja itu sedang ada di kamarnya. Menurut keluarga Sekar. Calon pengantin tidak boleh keluar kamar menjelang akad nikah.
"Kita masuk saja, yuk. Kayaknya lobby penuh dengan keluarga kita kalau semua bertahan di sini." Senja mengamit lengan Darren dengan mesranya.
Beyza yang berjalan beriringan dengan Bae memperkenalkan Genta pada oma-nya itu. Keduanya terlihat langsung akrab. Genta yang sopan tapi sangat ramah, mampu mengimbangi cara bicara Bae yang 11-12 dengan Beyza.
Mereka pun berpisah untuk menuju kamar masing-masing. Kecuali Beyza yang tentunya sekamar dengan Bae. Malam ini gadis itu ingin melancarkan pendekatan dan juga rayuan, agar oma-nya itu bisa berpihak padanya dan Genta.
"Ask, aku mau ke kamar Zain dulu ya. Aku mau ngobrol sama dia sebentar," pamit Darren sembari mengambil sesuatu dari dalam koper dan menaruhnya di kantong celana.
"Iya, Ask. Nanti kalau Senja selesai mandi, bakalan Senja susul." Istri Darren itu langsung menuju kamar mandi.
Sesuai ucapannya tadi, mantan CEO Mahendra Corp itu langsung ke kamar Zain. Hanya satu kali menekan bel, tidak lama kemudian, daun pintu itu terbuka lebar.
"Bagaimana Zain?" Tanya Darren sembari menepuk pundak anak pertama Senja itu.
"Deg-deg'an, Dadd. Takut salah, kan tidak lucu," ucap Zain.
__ADS_1
Darren terkekeh, "Sama sekali tidak lucu. Tapi bodoh! Masak dokter mengucapkan ikrar akad nikah saja keliru. Padahal ratusan jenis obat hapal," ledek Darren sembari masuk ke ruangan sebesar 4x5 meter itu.
"Dadd, apa dulu Daddy juga gugup?" Tanya Zain, ikut duduk di samping Darren.
Darren seperti sedang mengingat-ingat saat-saat pernikahannya dulu. "Daddy sedikit gugup, Zain. Tapi sepertinya itu tertutupi dengan kebahagiaan yang Daddy rasakan. Menikahi Mamamu, memang impian dan keinginan terbesar Daddy saat itu."
"Daddy beruntung, tapi entah dengan Mama," ledek Zain.
"Jelas Mamamu beruntung, Daddy mencintai dan selalu setia pada mamamu. Dengan ketampanan dan kemapanan yang Daddy miliki, tidak mudah mempertahankan dua rasa itu hanya untuk seseorang," timpal Darren.
"Apa yang membuat Daddy bisa setia sampai sekarang?" Zain memiringkan duduknya agar bisa menatap wajah Darren dengan jelas.
Darren tidak langsung menjawab, dia tersenyum tipis terlebih dahulu. "Mamamu yang hebat, Zain. Dia selalu membuat hari-hari kami serasa berbeda. Setiap hari, selalu saja ada yang membuat Daddy merasa bodoh kalau sampai menyia-nyiakan wanita seperti mama-mu. Lagi pula, Daddy ini sebenarnya sulit untuk jatuh cinta, sebelum bertemu dengan mama-mu, Daddy tidak pernah jatuh cinta."
"Serius Zain, Daddy mungkin nakal. Pernah melakukan ssex bebas walau tidak melibatkan badan. Tapi tetap saja itu salah, memalukan, dan tidak perlu diingat." Darren menceritakan dengan jujur pada Zain.
"Maksud Daddy?"
"Daddy suka membayar perempuan, sekedar memanfaatkan tangan dan mulutnya. Ibu Denok salah satunya. Mamamu menerima Daddy apa adanya. Dengan masa lalu Daddy yang luar biasa tidak baik. Mamamu datang membuka mata Daddy, bahwa perempuan itu tidak semuanya sama. Tidak semua perempuan bisa mudah Daddy takhlukkan. Mamamu berhasil membuat Daddy mengalami yang namanya sakit hati dan cemburu."
Zain menatap daddynya dengan intens, ikut merasakan begitu besar perasaan cinta sang daddy pada mamanya. Sejauh yang Zain tahu, bahkan saat berdinas di luar kota atau pun luar negeri, daddy-nya selalu membuat perjalanan itu lebih singkat dari waktu yang ditentukan.
"Sejauh ini, apa ujian terberat yang sudah Daddy lalui bersama mama?" Zain terus bertanya. Dia yang ingin memulai hidup baru, harus banyak belajar dari seseorang yang menurutnya sangat berhasil menjalani hubungan pernikahan.
__ADS_1
"Ujian terberat?" Darren kembali bertanya, tatapannya menerawang. "Hal terberat bagi Daddy adalah tidak melihat punggung mamamu saat bangun tidur. Karena saat itu terjadi, hubungan kami pasti sedang tidak baik-baik saja."
"Bagaimana Daddy tetap bisa menjalaninya? Padahal Daddy dan mama pernah menjalani hubungan jarak jauh lumayan lama."
"Bisa karena terpaksa, Zain. Bukan karena Daddy memang sanggup. Bagaimana tersiksanya? Hanya Daddy yang tau. Dekat, dan melihat, tapi menyentuh pun Daddy tidak bisa. Tapi setiap kita akan naik level, tentu harus ada ujian yang dilalui."
"Bagaimana cara Daddy membangun kepercayaan pada mama?" Zain menanyakan hal yang penting menurutnya. Dia dan Sekar memang bekerja. di bidang yang sama, Sekar pun menjadi asistennya. Tapi tetap saja masalah kepercayaan itu sulit.
Darren tersenyum penuh arti. "Sampai saat ini, Daddy pun masih belajar, Zain. Daddy ini sangat pencemburu. Logika Daddy masih sering kali kalah karena itu. Tapi Daddy yakin, kamu bisa lebih baik dari Daddy."
Darrren membalas tatapan Zain dengan hangat, lalu menepuk bahu anak tirinya itu sedikit lebih keras. "Kondisi setiap pernikahan itu berbeda. Satu hal yang pasti, tidak ada pernikahan yang berjalan mulus dan sempurna. Pasanganmu, kamu lah yang paling mengenalinya. Caramu memperlakukan Sekar, tidak akan sama dengan cara Daddy memperlakukan Mama Nja."
Zain tersenyum, lalu tiba-tiba memeluk Darren dengan erat. Entah dari mana datangnya rasa haru itu, air mata Zain tiba-tiba menetes. Dia merasa sangat rindu dengan mendiang papanya. Ingatan akan perjuangan dirinya dan Rafli saat menjalani berbagai pengobatan yang terlintas, membuat tangisnya semakin tidak terbendung.
"Jadilah suami yang bertanggung jawab, Zain. Daddy juga jauh dari sosok suami yang sempurna, tapi satu hal yang selalu Daddy usahakan. Jangan ada rasa bosan, jenuh atau membandingkan istri kita dengan perempuan lain. Jangan membuka celah di hatimu untuk memikirkan yang lain. Jadikan istrimu tumpuan, maka setiap kamu rapuh, kamu hanya membutuhkan dia untuk pijakan dan sandaran."
Zain hanya menganggukkan kepalanya. Darren mengacak kasar rambut Zain, lalu meregangkan pelukan mereka. "Rafli akan sangat bangga padamu, Zain. Daddy mungkin bukan ayah kandungmu, sampai kapan pun Daddy tidak mungkin bisa menggantikan kasih sayang dan pengorbanan papamu yang luar biasa. Tapi percayalah, Daddy tidak pernah sekali pun merasa kalau kamu bukanlahh anak Daddy."
"Zain percaya itu, Dadd. Zain hanya kangen sama Papa Rafli. Kita harus bahagia, Dadd. Agar pengorbanan Papa setimpal." Zain kembali memeluk Darren.
Kedua pria itu saling berpelukan erat, Darren menyalurkan setiap kehangatan yang ada pada dirinya untuk Zain.
"Terimakasih, Dadd. Terimakasih untuk cinta dan kasih sayangnya pada, Zain."
__ADS_1