
Belum juga mendapat tanggapan dari Darren, Genta beralih menatap Senja. Memang inilah yang diinginkan, Dia ingin berbicara satu per satu terlebih dahulu dengan sebelum daddy dari Beyza itu menanggapi apa yang menjadi tujuannya hingga berani datang dengan Rangga secara mendadak.
"Ma, di dunia ini tidak akan ada seorang pun yang menjaga dan menyayangi seorang anak lebih dari orangtua. Sebesar dan sedalam apa pun cinta Genta pada Bey, tidak sedikit pun sanggup menggantikan kasih sayang Mama dan Om Darren pada Bey. Genta memiliki rasa yang bukan hanya sekedar cinta untuk Bey, Genta ingin menjadi penyempurna perjalanan hidup Bey." Kali ini Genta mulai berkaca-kaca saat mengatakannya. Setiap kali melihat Senja, bayangannya akan sosok seorang ibu seolah dijadikan nyata.
Beyza menggigit bibir bawahnya, gadis yang sama sekali tidak cengeng itu, kini menengadahkan kepalanya, menahan bulir bening yang ingin berontak untuk membasahi pipinya yang mulus. Bukan kesedihan yang membuatnya ingin meneteskan air mata, melainkan rasa haru luar biasa. Merasa begitu beruntung karena dicintai laki-laki seperti Genta.
Darren yang paham benar reaksi Beyza, segera merengkuh pundak satu-satunya putri yang dia miliki. Pria itu membiarkan pundaknya basah karena tangisan sang putri. "Hei... kenapa kamu menangis, apa daddy harus menyuruh Genta diam dan menyuruhnya pulang?"
Candaan Darren, membuat Beyza buru-buru menyeka air mata dan menggeleng manja. "Bukan sedih, tapi seneng yang berlebihan," ucapnya, dengan rengekan manja.
Dasen mencebikkan bibirnya, sungguh dia ingin berdiri dan segera menikmati acara yang seharusnya. Sepanjang Genta tadi berbicara Denok seperti sangat tersihir, mata kekasihnya itu terus menatap kagum pada Genta. Sesekali Denoj membisikkan padanya, "Mas, mau ya dilamar kayak gini. Tapi pakai bahasa jawa. Biar beda dan keren." Sungguh ucapan itu lebih sulit dilakukan ketimbang membangun 100 pusat perbelanjaan.
"Kak Zain, Kak Dasen, Kak De, Der, ijinkan Genta ikut menjaga Beyza dengan mengambil tanggung jawab yang lebih besar lagi. Genta siap kalian salahkan jika sampai terjadi sesuatu pada Beyza." Genta menatap nama-nama yang dia sebutkan satu per satu.
Sekar berbisik pada Zain, "Terima saja, Genta terdengar sangat tulus dan sungguh-sungguh. Tidak perlu ditunda."
Rangga yang sedari tadi terdiam dan hanya menyimak, kini menarik napas dalam. Ada sesak di dadanya. Lega sekaligus sedih. Sedari Genta terlahir di dunia, dialah satu-satunya yang dimiliki Genta. Dari bayi yang masih sangat merah, hingga kini sudah tumbuh dewasa menjadi laki-laki yang tidak hanya tampan secara wajah, namun juga sangat taat pada ibadah, dan setia memegang janji.
Beberapa kali Rangga menggoda dengan mengatakan agar Genta berkenalan, makan malam atau sekedar jalan-jalan dengan gadis lain untuk sekedar menyelami perasaannya sendiri. Akan tetapi, Genta tetap teguh pada pendirian dan janji setianya. Sungguh membuat Rangga merasa sangat bangga.
__ADS_1
Melihat Genta sudah terdiam dan sepertinya sudah tidak ada yang ingin disampaikan. Darren pun membisikkan sesuatu pada Beyza. Gadis berparas lebih dominan mewarisi raut wajah daddy-nya itu hanya mengangguk sembari menegakkan kembali duduknya.
"Begini, Gen. Om rasa, kamu sudah bisa menebak jawaban kami. Kamu jelas tahu, betapa bahagianya Beyza sekarang melihat kedatanganmu. Ditambah lagi kamu datang dengan kejutan yang biasa saja. Sungguh tidak modal."
Beyza dan Senja kompak mencubit lengan Darren. Keduanya secara bersamaan juga memelototkan matanya.
"Ya sudah, langsung saja, karena Om sudah lapar, Om akan mempersingkat waktu. Om merestui kalian, tapi tetap ingat syarat dari Om sebelumnya," cetus Darren.
"Ask, tidak bisa begitu dong. Sudahlah, jangan pakai syarat yang aneh-aneh. Cukup syarat serumah dengan kita," sahut Senja.
"Syarat apa sih?" Sekar bertanya dengan suara yang sangat lirih pada Zain.
"Itu tidak adil dong. Hamil dan melahirkan adalah salah satu proses perjalanan hidup juga. Sebuah kebanggaan dan pencapaian sendiri bagi kami kaum perempuan. Bahkan kadang juga digunakan sebagai bukti nyata keperkasaan seorang pria. Wah, nggak bisa begini dong, Dadd. Sebagai perempuan Sekar keberatan."
Zain hanya menepuk jidatnya. Sang istri bukannya memendam dalam hati, malah menyuarakan isi hatinya dengan sangat frontal.
"Benar, daddy sangat tidak adil. Hamil dan melahirkan adalah kodrat perempuan. Kalau Daddy melarang, itu berarti Daddy menentang hukum Allah," sahut Baby De. Sebagai perempuan modern, dia ikut tersentil dengan syarat konyol Darren yang baru dia ketahui dari bisikan Derya.
"Kamu jangan ikut-ikut, sudahlah, Daddy hanya tidak ingin keturunan premiumnya bercampur dengan keturunan Gentong. Atau bisa jadi, Daddy ingin menyerahkan masalah keturunan padaku saja. Karena Daddy tahu persis kuatitasku yang terbaik. Makanya, kita harus kalahkan pasangan Darren dan Senja dengan membuat kesebelasan." Bisikan Dasen membuat bergidik ngeri.
__ADS_1
"Mama saja sekarang hamil, jadi kenapa Bey tidak boleh hamil." Bey memberikan jawaban yang membuat Genta dan Rangga seketika mengernyitkan dahi.
Rangga menepuk tangan Genta, membisikkan sesuatu, namun anaknya itu menggeleng mantap. Dia pun akhirnya tidak jadi ikut menyuarakan isi hatinya. Lalu matanya melirik Senja, baru sesaat, deheman Darren membuatnya buru-buru mengalihkan pandangan yang akhirnya terantuk pada Baby De. Gadis itu langsung menyunggingkan senyuman menawan sekaligus menggoda, membuat Rangga seketika menundukkan pandangannya.
Senja meminta bertukar tempat dengan Beyza. Perempuan itu lalu berbicara dengan lirih pada sang suami. Keduanya nampak sangat serius. Mengabaikan semua orang yang ada di sekeliling untuk sementara. Akhirnya pembicaraan singkat itu berakhir dengan kecupan lembut di kening Senja.
"Baiklah, kamu boleh menikahi Bey. Tetapi ingat! Setelah pernikahan, kalian harus tinggal di rumah ini. Abaikan syarat yang lain, dan lakukan pernikahan tidak lebih dari satu bulan dari sekarang. Tidak ada nunggu hari baik segala." Darren melirik Sekar saat mengatakannya. Dia sebenarnya masih tidak terima, anak pertamanya menikah tanpa resepsi. Sedikit banyak, Sekar lah yang disalahkan.
Genta pun menerima keputusan Darren dengan senang hati. Soal waktu sama sekali tidak menjadi masalah. Karena selama ada uang, sesingkat apa pun, impian Beyza saat acara pernikahan, pasti bisa diwujudkan.
Karena waktu makan malam sudah hampir lewat, akhirnya semua beralih langsung ke lantai empat. Kali ini obrolan lebih santai. Berbahagia bagi yang berpasangan. Karena kelembutan dan perhatian yang ditunjukkan Darren pada Senja, sungguh membuat setiap mata yang memandang akan merasa iri.
"Kenapa, Kak?" Sekar menyodorkan sosis jumbo bakar pada Zain. Suaminya itu sedang menatap Senja dan Darren yang nampak bergandengan tangan menuju tempat desert.
"Keduanya sedang berpura-pura, seolah semua dalam keadaan baik-baik saja. Lihatlah mata daddy yang tidak ingin beralih memperhatikan yang lain."
Sekar mengangguk setuju. Bahkan jika dia boleh berpendapat, saat ini, mungkin yang paling tidak baik kondisinya adalah Darren.
Baby De mengambil minuman hangat, lalu dia melangkahkan kaki mendekati sesosok pria yang sedari tadi ingin didekatinya. Melihat ada kesempatan, Baby De pun bertindak.
__ADS_1
"Silahkan, Kak. Biar hangat, sehangat senyuman kakak yang sulit dilupakan. Meski hawanya dingin, rasanya tidak butuh perapian lagi kalau deket Kak Rangga." Baby De menyodorkan secangkir minuman rempah pada Rangga. Pria itu nampak bingung dengan perlakuan dan ucapan De.