
"Selamat makan malam, Kang Genta. Saya permisi." Beyza membalikkan badannya dengan anggun, lalu melangkah berniat meninggalkan Genta dan entah siapa, karena Bey tidak mengenalnya.
"Mbak. Aku bisa jelasin. Ini Delia dan anaknya. Delia ini, anak mantan istrinya ayah. Ada sesuatu hal yang harus kami bicarakan. Ini karena ayah yang meminta tolong." Genta mengatakannya dengan pelan, agar tidak menarik perhatian pengunjung yang lain.
Pikiran Beyza tidak sepenuhnya jernih. 50 persen percaya, dan 50 persen lainnya memunculkan dugaan baru. Bukan saudara tapi disuruh peduli, membuat Bey menduga-duga kalau Rangga sedang menjodohkan Genta dengan Delia.
Sangat masuk akal, mengingat ayah angkat Genta itu sering mendengar syarat-syarat aneh dari seorang Darren Mahendra. Bisa jadi Rangga berubah pikiran dengan mengenalkan Genta dengan perempuan lain.
"Kalau tidak percaya, kamu bisa bertanya pada ayah. Sebentar lagi pasti datang. Kalau sudah ada ayah, aku akan bergabung dengan kalian. Nanti pulangnya, Mbak sama aku saja."
"Kita lihat nanti saja. Aku sangat lapar. Aku pikir makan hati bisa membuat kenyang, ternyata tidak sama sekali," ketus Beyza sembari melirik Delia yang terlihat sangat tidak nyaman.
Genta menatap punggung Beyza yang semakin menjauh dari tempat di mana dia berada. "Del, maaf, kamu nanti sama ayah saja ya. Calon istriku sepertinya salah paham. Aku yang salah, karena aku tidak menghubungi dia sebelumnya."
Delia mengangguk sembari tersenyum tipis. "Kamu gabung sama mereka tidak mengapa, Gen. Aku bisa nunggu om Rangga sendiri."
"Nanti saja, Bey sedang bersama saudara-saudaranya. Tidak mungkin mengajak bicara empat mata."
Dasen memperhatikan raut wajah adiknya ketika menarik kursi di seberangnya. Jelas Beyza sedang masih kesal. Dia lalu menoleh ke arah Genta yang ternyata juga sedang melihat ke arahnya.
"Mas, bukannya itu Delia ya?" Bisik Denok dengan pelan. Tapi suara itu tetap terdengar oleh telinga Baby De dan Beyza yang tajam.
"Kalian kenal?" Tanya Beyza.
"Dia salah satu temenku waktu di UK dulu," timpal Dasen.
"Oh." Beyza menanggapi dengan singkat.
"Gentong berani juga ya bikin ulah." Dasen malah memanas-manasi Beyza.
"Mungkin hanya kurang komunikasi. Jika Genta salah, dia tidak akan setenang itu. Jelas Genta tidak ada tampang playboy. Dari cerita Bey, catatan sejarah percintaan Genta hanya dengan Beyza. Intinya, dia bukan playboy seperti kamu, Das."
__ADS_1
Ucapan Baby De yang santai tanpa beban membuat Denok yang sedang minum menggunakan sedotan menjadi tersedak.
"Apa'an sih, kapan Das playboy?" Dasen seolah ingin mencari pembenaran.
"Kapan? Mau diingatkan? Mulai dari yang mana dulu nih?" Pertanyaan Beyza malah semakin membuat Dasen mendengus kesal.
Mereka menghentikan sementara perdebatan yang sebenarnya tidak penting karena makanan yang mereka pesan sudah datang.
Bersamaan dengan itu, Rangga memasuki resto. Matanya dengan jeli langsung menangkap keberadaan Dasen. Ketampanan titisan Darren itu, memang sanggup membuat mata siapa pun langsung tertuju padanya.
Sebelum menghampiri meja Genta, Rangga berniat menyapa Dasen terlebih dahulu. Semakin mendekati meja mereka, dia baru menyadari, kalau ada Beyza juga di sana. Saat masuk tadi, dia tidak bisa mengenali, karena posisi duduk gadis itu memunggunginya. Seketika Rangga menoleh ke meja Genta, bisa dia tebak. Kalau pasti sudah terjadi salah paham. Wajah Genta terlihat tidak semangat, dan Beyza tidak segera menyambutnya seperti biasa.
"Malam semua, Das, Be," Sapa Rangga.
"Malam," sahut De dengan senyum ramah.
"Malam, Om." Denok dan Dasen menjawab dengan kompak.
"Bey, boleh Om bicara sebentar?" Rangga menatap Bey dengan hangat.
Dasen memberikan kode pada Denok untuk beralih ke meja lain sembari membawa sepiring makanan pesanannya. Mau tidak mau, Denok pun setuju. Padahal dia sedang tidak bersemangat. Kata-kata dua saudara Dasen yang mengatakan mantan kekasihnya itu seorang playboy membuatnya benar-benar kesal.
Beyza menahan tangan Baby De agar tidak ikut berpindah. Padahal tanpa diminta, De memang tidak ingin beranjak dari sana. Bey mempersilahkan Rangga untuk duduk. Dari jauh, Genta mengawasi dengan raut cemas.
"Om, kenalin, ini Kak De. Kakaknya Bey juga." Meski kesal, Bey tetap berusaha menjaga adab.
Baby De mengulurkan tangan pada Rangga. Gadis itu menampilkan senyuman yang sangat menawan.
"Kenapa dipanggil Om? Padahal kelihatan muda banget, boleh nggak Bey manggilnya kakak saja?"
Beyza reflek menendang kaki Baby De. Matanya melotot sempurna, dengan mulut yang mengucap kata "Diam" tanpa suara. Rangga hanya tersenyum dengan manis seperti biasa.
__ADS_1
Baby De tidak peduli, dia malah menopang dagunya dengan tangan. Matanya menatap Rangga penuh kekaguman. Kaos merah polos di padu jeans denim dan sneakers warna putih bergaris merah, sungguh sempurna di mata De yang memang mendamba pasangan yang lebih dewasa darinya.
Sementara Rangga sibuk menjelaskan kesalahpahaman Genta dan Beyza, De seolah enggan mengedipkan mata karena pesona pria di depannya.
Di meja lain, Denok terus cemberut karena ucapan De dan Bey berhasil menggoyahkan pikirannya.
"Nok, kalau cemberut terus, nanti aku cium lho," goda Dasen setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Cium saja kalau berani. Dasar playboy," ketus Denok.
"Ada yang cemburu ternyata. Mana ada aku playboy, tanya sama daddy kalau tidak percaya. Aku hanya laki-laki yang tidak tegaan sama perempuan. Kalau ada yang datang ke rumah, aku tidak bisa menolak. Terlalu baik hati, ternyata membuat perempuan salah mengartikan," kilah Dasen dengan santai.
Denok mencebikkan bibirnya. "Sekali playboy, tetap playboy."
"Jangan berbicara begitu, Darren Mahendra tidak akan terima. Jangan remehkan seorang playboy, casanova, don juan, atau sejenisnya. Sekali mereka jatuh cinta, beruntunglah perempuan pilihannya itu. Kayak daddy sama mama gitu."
"Benarkah?" Denok memicingkan matanya.
"Benar. Kamu bisa buktikan nanti. Kita pacaran lagi yuk?" Dasen lagi-lagi mengajak Denok menjalin hubungan dengan cara yang sama sekali tidak romantis.
Denok tidak menjawab, dia mendorong piring di depannya yang sudah kosong. Lalu tangannya malah terulur untuk memeriksa kening Dasen. "Tidak panas, mungkin ketempelan jin."
Dasen mendengus kesal, lalu memanggil pelayan dengan mengankat satu tangannya. Dia memberikan kartu debitnya untuk menyelesaikan pembayaran. Dasen ingin mengajak Denok pulang lebih cepat, dan berduaan di mobil lebih lama. Sepertinya, kehamilan sang mama, adalah moment yang tepat untuk memperkenalkan Denok lebih dekat dengan wanita yang paling dia sayangi itu.
Kembali pada Beyza yang kini sudah mulai paham pada apa yang sebenarnya terjadi. Meski ada yang masih mengganjal dan tidak dia setujui, tapi dia tidak mau mengungkapkannya di depan Rangga. Bey akan membicarakan nanti bersama Genta.
"Kamu mau pulang bareng Genta, kan?" Rangga berdiri sembari bertanya.
Beyza berpikir sejenak, dia tidak enak kalau harus meninggalkan Baby De.
"Kamu sama Genta saja, Dasen sama Denok, dan aku bisa numpang Kak Rangga. Boleh kan, Kak?"
__ADS_1
Beyza lagi-lagi menendang kaki Baby De dengan gemas.