Hot Family

Hot Family
Akal Dasen


__ADS_3

Pak Togar memberi tahu papi mami Rama yang dari tadi memang menunggu di depan ruangan. Kelegaan juga langsung nampak di wajah mereka.


Bersama Darren dan Senja, mereka pun ikut mengikuti pak Togar berjalan ke luar gedung.


"Nah, kalian lihat tiang bendera yang ada di tengah itu. Kalian ke sana, hormat bendera lalu menyanyilah lagu kebangsaan negara kita dengan suara merdu kalian." Pak Togar menunjuk tiang tempat bendera merah putih berkibar.


Senja dan Darren kompak menahan senyumnya. Meski titisan Darren, Dasen sangat tidak menyukai menyanyi. Dari semua anaknya, hanya Dasen yang tidak mengikuti les vocal.


"Pak Togar, ada hukuman lain selain menyanyi tidak? Dasen lebih rela disuruh menyapu tempat ini ketimbang harus menyanyi." Dasen mulai berani menawar.


"Das. Sudahlah! nanti kalau malah hukumannya lebih berat bagaimana?" bisik Rama.


Dasen menatap pak Togar dengan memelas. Lalu berbisik pada anggota kepolisian itu.


"Hmmmmm ...." Pak Togar terlihat sedang berpikir.


"Baiklah, tapi awas kalau besok kau mengingkari janji. Aku akan suruh kau menyanyikan lagu dangdut sambil bergoyang di lampu merah." Pak Togar rupanya menyukai apa yang dibisikkan Dasen. Lelaki itu mengancam Dasen, tapi bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Sudah beres. Mari kita pulang!" ajak Dasen dengan santai.


"Terus hukuman kita bagaimana?" tanya Rama, terlihat sangat bingung.


Darren dan Senja, saling pandang dan kompak mengangkat bahu. Pertanda memang, keduanya tidak tahu menahu apa yang Dasen bisikkan. Begitu pula dengan Mami papi Rama, yang hanya bisa menggelengkan kepala karena keunikan sahabat anaknya itu.


"Besok kita datang lagi. Hari ini kita pulang. Semoga Michel segera menyusul kita." Dasen menepuk pundak Rudi.


Mereka pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada pak Togar yang sengaja menjabat tangan Senja paling akhir.


*******


Sepanjang perjalanan, Darren dan Senja sama-sama diam. Mereka tidak memulai pembicaraan apa pun untuk menegur Dasen. Membuat anak itu menjadi salah tingkah.


Darren dan Senja sebenarnya belum tahu harus bersikap bagaimana. Dikatakan salah, jelas memang Dasen salah. Tapi melihat tujuannya, anak itu menunjukkan jiwa membela kebenaran dan keadilan yang luar biasa.


"Dadd, Ma ... kenapa mendiamkan Dasen? lebih baik, Das diomeli dan dicereweti. Kalau seperti ini, kok malah tidak enak jadinya. Dasen ini bisa kok diajak ngomong," ucap Dasen, dengan wajah sangat memelas.

__ADS_1


"Nanti saja di rumah," Darren menyahut dengan cepat.


Senja memijat-mijat pangkal hidungnya, belum beres masalah Derya dan Beyza, lalu Zain dengan Airin. Sekarang Dasen.


Semakin anak-anak dewasa, masalah sepertinya tidak lagi sederhana. Semua menjadi lebih kompleks.


"Kenapa memakai baju seperti ini tadi?" tanya Darren, baru teringat harus menegur istrinya.


"Astaga, Ask ... tadi kan kita terburu-buru. Bagaimana mungkin ganti baju dulu. Sudah deh, jangan mempermasalahkan hal-hal kecil. Masalah anak-anak saja sudah membuatku pusing. Jangan masalah baju saja kamu buat bahan perdebatan." Senja menjawab dengan sangat kesal.


Darren tidak ingin membantah, 18 tahun lebih menikah, membuat mereka saling memahami. Kalau posisi sekarang saling menanggapi kekesalan, yang terjadi di antara mereka pasti pertengkaran yang lebih besar.


"Dadd, Ma ... Das, minta maaf. Jika Daddy merasa apa yang Das lakukan ini adalah kesalahan besar. Dasen terima. Jika Daddy mau memasukkan Dasen ke asrama, Dasen tidak akan menolak. Yang penting Beyza dan teman-teman korban Arnold mendapatkan keadilan dengan melihat Arnold merasakan malu yang luar biasa." Dasen terlihat pasrah.


Senja memejamkan mata dan menutup telinga. Dia sangat anti jika Dasen atau Darren sudah berbicara tentang asrama. Darren tidak menanggapi. Dia benar-benar masih berpikir apa yang terbaik untuk Dasen.


Darren memperlambat laju mobilnya, ketika masuki gerbang kokoh dan megah rumahnya, dia terus melaju hingga mengentikan mobil tepat di depan pintu utama.


Rudi buru-buru membukakan pintu. Driver itu, tampak sangat ketakutan.


Memasuki ruang keluarga utama, di sana sudah menunggu Zain, Derya, Genta dan Beyza. Mereka tidak bisa menyembunyikan wajah heran, begitu melihat wajah Dasen yang babak belur.


Darren melewati semua anaknya begitu saja dan langsung menyusul Rudi yang sudah ada di ruang kerjanya.


"Zain, tolong obati Dasen ya," pinta Senja, lalu segera menyusul sang suami.


"Baik, Ma ..." jawab Zain.


"Bey, tolong ambil perlengkapan kakak dikamar," Zain menoleh pada Beyza.


"Siap, Kak." Beyza langsung melangkahkan kaki menuju kamar zain.


"Bagaimana cerita yang sebenarnya? kenapa sampai dibawa ke kantor polisi segala? terus babak belur begini, berantem sama siapa?" cecar Zain pada adiknya itu.


"Panjang ceritanya, Kak." Darren menjawab dengan santai.

__ADS_1


"Dipendekin biar cepet ceritanya," sahut Beyza sembari memberikan tas darurat p3k lengkap milik Zain.


"Memang rambut, bisa dipendekin," timpal Dasen.


"Anggep saja begitu," Derya ikut berbicara.


Genta hanya diam dan menyimak. Dia merasa tidak perlu ikut campur. Genta cukup tahu diri kalau Dasen tidak pernah menyukainya.


"Das ... ini lukamu lebih parah dari Derya dan Genta lho. Ini robeknya dalam. Kok kamu bisa tidak merasa sih? untung saja darahnya tidak mengucur terus. Mau dijahit atau dibiarin saja?" tanya Zain terheran-heran sembari terua membersihkan luka yang tadi mungkin hanya di bersihkan sekedarnya saat di kantor polisi.


"Mungkin, Kak Das merasa kalah keren sama kita, Kak. Karena luka kami kan, luka perjuangan. Makanya kak Das ikutan berantem dan minta digebukin orang," ledek Beyza.


"Aduh ... pelan-pelan, Kak. Perih tau," keluh Dasen, setengah mendengus kesal. Saat Zain memberikan antibiotik cair di sekitar lukanya.


"Makanya jangan sok jagoan, kalau sakit begini baru tahu rasa," nasehat Zain.


"Dengerin kalau orangtua ngomong, jangan lewat aja kayak gajian," sambar Beyza.


"Kakak belum tua, Bey. Dan dari mana kamu tahu kalau gajian itu cuma lewat?" tanya Zain kadang heran dengan pemikiran adik-adiknya.


"Tau dong, kan sering dengar curhatan mbak Wati."


Zain hanya menanggut-manggutkan kepala mendengar jawaban Beyza.


"Kak, ayolah cerita. Penasaran ini. Kakak ini pahlawan atau pecundangnya?" Derya kembali bertanya karena penasaran.


"Jelaslah kakak ini pahlawannya. Intinya adalah kalian akan melihat video permintaan maaf Arnold cs di billboard yang terpasang sepanjang sekolahmu ke sekolahku. Keren bukan?" tanya Dasen dengan gaya sombongnya.


"Keren banget, bisa jadi panutan ini." Genta menatap Dasen dengan penuh kekaguman.


"Enggak! keren tuh tidak pakai muka bonyok begini." Zain berdiri meninggalkan adik-adiknya.


Beyza, Derya dan Genta pun mendengarkan cerita tentang kejadian yang menimpa Dasen dari mulut yang bersangkutan langsung. Pujian dari Genta membuat Dasen semakin besar kepala dan bersemangat saat mereka ulang kejadian yang menimpanya.


Sementara itu, di ruang kerja. Keringat dingin bercucuran dari dahi dan ketiak Rudi. Padahal, pendingin ruangan berfungsi dengan baik.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya mengaku jadi bapaknya Dasen, Rud?" tanya Darren pelan tali terasa seperti lemparan paku yang menembus telinga Rudi.


__ADS_2