
"Pelan-pelan, Ask ... Beyza kenapa?" tanya Darren, seketika menjadi ikut panik begitu mendengar nama putri semata wayangnya.
Zain dan Dasen yang tadi melihat mamanya panik setelah menelepon, juga langsung menyusul ke bawah.
"Kita ke Kafe Jingga sekarang. Pemilik kafe cuma mengatakan kalau Beyza pingsan." Senja menyambar tas yang ada di atas nakas.
Darren pun langsung berjalan mengikuti istrinya.
"Biar Zain yang mengemudikan mobilnya. Das ... kamu di rumah saja," tegas Zain.
Dasen mengangguk mengerti. Ketiganya lalu berangkat ke tempat yang disebutkan tadi. Tangan Senja menggenggam tangan Darren dengan erat, tidak sedetik pun terlepas. Seolah lupa, kalau seharusnya dia masih harus menjaga jarak dengan suami yang sudah menamparnya itu.
Zain menghentikan mobil tepat di halaman depan kafe. Dia turun begitu saja bersama Darren dan Senja. Lalu dengan tenang memberikan kode pada petugas valey untuk memarkirkan mobilnya.
Senja dengan tidak sabar bertanya tentang keberadaan Beyza pada karyawan frontliner kafe. Dengan sigap, dia mengantar Senja, Darren dan Zain ke sebuah ruangan.
Di sana Beyza terlihat dibaringkan di atas sofa, wajahnya sama sekali tidak pucat. Darren dan Senja bersamaan mendekati Beyza. Ayah Genta juga berada di sana, tapi Senja tidak melihat Derya.
"Zain, cepat periksa Bey," perintah Darren.
"Daddy sama Mama, mundur dulu sebentar," balas Zain dengan tenang. Dia mencium aroma pengaturan. Jelas terlihat Beyza sangat segar bugar, kulit wajahnya berseri kemerahan seperti biasa.
Benar saja, saat Zain mendekat dan tangannya sedang memeriksa denyut nadi sang adik, jemari Beyza mengetuk kulitnya beberapa kali. Lalu matanya mengirimkan signal pada Zain.
"Bisa kalian, keluar sebentar. Sepertinya Bey, membutuhkan banyak oksigen. Semakin banyak orang di sini akan semakin banyak karbondioksidanya. Biarkan Zain memeriksa Bey dengan leluasa dan membuat Bey segera siuman," pinta Zain.
Darren dan Senja ingin menolak, tapi tatapan Zain membuat keduanya enggan membantah.
"Silahkan, Bu ... Pak ...." Rangga mengajak kedua orangtua dari teman anaknya itu untuk keluar ruangan.
Zain mengunci pintu ruangan. Lalu menepuk kaki Beyza dengan keras. "Bangun! Buat apa melakukan ini?" ucapnya dengan suara tertahan.
Beyza meletakkan jari telunjuk di bibirnya, "Biar dramatis, daddy dan mama akan berbaikan kalau ada anaknya yang sakit. Apa kakak tidak melihat tangan daddy?" tanya Beyza setengah berbisik.
Zain menggelengkan kepala, karena memang tidak sempat memperhatikan tangan daddynya tadi.
"Bey, tidak mau daddy sedih. Tangannya terluka karena memukul meja kaca sampai pecah. Jangan bilang ini karena kakak. Bey, akan meminta kakak bertanggung jawab kalau daddy dan mama tidak berbaikan," ancam Beyza dengan suara lirih.
__ADS_1
"Terus sekarang bagaimana?" Zain tertarik untuk mengikuti kekonyolan adiknya.
"Derya sedang bersama Genta di sebelah ruangan ini persis, mereka sedang menata sesuatu. Bagaimanapun caranya, daddy dan mama harus masuk ke sana. Setelah itu, kita kunci dari luar. Selanjutnya terserah mereka akan seperti apa. Saat banyak kesempatan berdua. Kemarahan mereka bisa menguap begitu saja." Beyza meskipun manja, tapi memang sangat cerdas dan mempunyai banyak akal yang tidak terduga.
"Derya sudah siap belum?" tanya Zain.
"Sudah siap. Tapi Om Rangga, daddy dan mama malah berdiri di sana. Bisa-bisa ketahuan, kalau mereka melihat Derya dan Genta keluar dari sana. Kita harus alihkan perhatian dulu."
Zain tersenyum santai. "Sekarang buka matamu, duduk dan nanti segera katakan kamu baik-baik saja. Jangan lupa katakan kalau kamu kepikiran daddy dan mama sampai lupa makan."
Beyza masih mencerna kata-kata kakaknya. Belum selesai berpikir, Zain sudah membisikkan serentetan kalimat yang membuatnya tersenyum lebar. "Good idea."
Zain berdiri dan membuka pintu, membuat Darren dan Senja yang sedari tadi saling bergandengan tangan tanpa mengucap sepatah katapun langsung masuk ke dalam ruangan. Rangga yang sedari tadi menemani mereka, hanya memperhatikan pasangan yang menurutnya memang sangat serasi.
"Bey, kamu kenapa?" Senja melepaskan tangannya dari sang suami lalu duduk di samping anaknya itu.
"Mama jangan marahin Daddy, Bey tidak bisa makan kalau melihat Daddy sedih," rengek Bey, melebih-lebihkan keadaan.
Darren dan Senja saling bertukar pandang. Tidak ingin menjawab ucapan Beyza, karena ada orang lain di sana.
"Di sini, Ma. Tadi sama Genta ke luar membelikan Beyza vitamin ini." Derya menunjukkan vitamin C yang sebenarnya milik Rangga.
Ayah Genta hanya menggelengkan kepala dengan pelan sembari tersenyum kecil. Ikatan keluarga yang memang sangat luar biasa, hingga mampu menyeret anak dan juga dirinya menjadi ikut terlibat dalam rencana konyol.
"Bey, belum makan kan? bagaimana kalau saya menjamu kalian semua untuk makan malam. Owh ... saya belum sempat berkenalan. Saya Rangga, Ayahnya Genta yang tadi menghubungi Bu Senja." Pria itu mengulurkan tangannya.
Darren menyambut uluran tangan Rangga dengan tangan kanannya yang masih diperban. "Darren," ucapnya.
Senja baru menyadari kondisi tangan suaminya. "Ask ... kenapa harus begini? sakit?" tanyanya dengan lembut dan dijawab anggukan manja oleh suaminya.
Semua yang berada di sana geli melihat ekspresi Darren, terutama Rangga. Dia tidak biasa melihat keromantisan seperti yang sedang dipertontonkan pasangan matang usia itu.
Zain, Derya dan Beyza hanya mencebik. Begitulah daddynya. Sedih, marah dan kecewa sekalipun, kalau mama Nja sudah turun tangan, semuanya bisa kembali normal jauh lebih cepat.
"Yuk kita ke ruangan sebelah, kita makan malam di sana." ajak Rangga, yang mendapatkan pengarahan dari Genta.
Dalam hati Rangga berharap Genta hanya mengalami cinta monyet dengan Beyza. Sungguh tidak bisa dibayangkan kalau sampai keduanya benar-benar berjodoh. Satu masalah yang menimpa, seluruh keluarga akan bertindak dengan ide-ide dengan beragam keanehan.
__ADS_1
"Dad, boleh pinjam ponsel sebentar?" tanya Zain, tiba-tiba.
"Daddy tidak membawa ponsel karena tadi buru-buru," sahut Darren.
Senja tanpa banyak bicara, langsung memberikan ponselnya pada Zain.
"Kalian duluan saja, kami di sini sebentar," ucap Derya.
Darren dan Senja kompak mengangguk, lalu berjalan mengikuti Rangga ke ruangan sebelah.
"Silahkan, Pak ... Bu ...." ucap Rangga, dengan gantle menarik dua kursi untuk tamunya.
Meja bundar berbalut taplak merah dengan dua lilin putih di atasnya, lengkap dengan keranjang bundar terbuat dari anyaman dengan bunga Anyelir putih dan merah muda di dalamnya. Alunan musik romantis terdengar lembut.
'Genta bisa teracuni menjadi romantis kalau begini caranya. Pergaulan yang meresahkan. Bisa-bisa dia minta nikah muda,' batin Rangga.
Baru dua menit mereka duduk bersama, ponsel Rangga berbunyi. Membuat laki-laki itu meninggalkan ruangan untuk menerima panggilan meresahkan dari Genta.
Darren dan Senja pun berada di ruangan berdua, Dan ....
Lampu ruangan padam, pintu langsung di kunci dari luar.
Zain, Beyza, Derya dan Genta langsung melakukan hi-five. Sementara Rangga langsung masuk ke ruangan di mana Beyza pura-pura pingsan tadi.
"Ask ...." Senja menelan ludah dengan kasar, bukannya panik, tangan Darren malah menyusup ke dalam dress selutut yang dikenakannya. Mengelus paha mulus sang istri dengan lembut.
"Ask, kita harus ke luar." Senja beranjak, sementara Darren tidak bereaksi, cahaya lilin yang redup tidak memberi penerangan yang cukup. Alam seolah merestui, Satu lilin padam karena hembusan pendingin ruangan.
Senja meraba-raba, mencari pintu. Setelah merasa menemukan gagang pintu, baru dia menyadari kalau dirinya sedang terkunci dari luar.
"Ask ...kita terkunci." teriak Senja dengan panik,
Masih terpaku di balik pintu dengan kekhawatirannya, Senja merasakan benda keras menempel di bokongnya. Hembusan nafas hangat Darren kini juga terasa di lehernya. Benda itu seperti sedang menyampaikan salam padanya. Berkedut sebanyak dua kali, sebuah kode yang hanya Senjalah, yang mengetahui artinya.
"Ask ... Ini tidak lucu!" Senja terlihat kesal, karena dia sama tidak berpikir kalau sedang dikerjai.
"Dadd ... Ma ... Bicarakan masalah kalian! Saat ke luar nanti, pastikan kalian sudah berbaikan ... Just 30 minutes." Beyza berteriak diiringi suara cekikikan dari luar.
__ADS_1