Hot Family

Hot Family
Sembunyi di kamar


__ADS_3

Senja dan Darren sudah tiba di depan pintu apartemen Beyza. Keduanya sengaja tidak memberi tahu waktu kedatangan mereka pada anaknya itu.


Beyza yang sedang berada di dalam apartemen bersama Genta seketika menjadi panik.


"Daddy... Mama... aduh! Bagaimana ini? Tumben banget sih mereka datangnya tidak dini hari." Beyza menepuk kepala, berusaha mencari ide. Dia dan Genta memang berniat untuk jujur akan hubungan mereka, tapi tidak sekarang juga waktunya.


"Kang, kamu sembunyi di kamarku dulu. Buruan!" Beyza mendorong tubuh Genta ke kamarnya. Bel sudah kembali ditekan, ponsel bersamaan berdering. Pertanda kedua tamu di depan pintu sudah tidak sabar menunggu.


Setelah merasa aman, Beyza segera berjalan mendekati pintu, sedikit mengacak-acak rambutnya dan mengucek kedua bola mata agar memerah seperti layaknya orang bangun tidur.


"Surprise!" Senja dan Darren mengucapkan dengan kompak sembari bergerak ingin memeluk Bey yang masih konsisten berakting baru bangun tidur.


"Silahkan masuk, Dadd, Ma, kenapa tidak memberitahu dulu. Kan, Bey bisa siap-siap dulu." Beyza membalas pelukan Darren dan Senja bergantian.


Sembari masuk ke dalam, Senja mengenduskan hidungnya. Dia hafal betul wangi tubuh Beyza, tapi yang tercium dari tubuh Bey barusan adalah wangi maskulin yang khas. Seperti milik Derya.


Darren langsung duduk di atas sofa ruang tamu. Sementara Senja seperti biasa selalu melihat stock makanan di lemari pendingin. Senja selalu mengingatkan pada Bey, meskipun sendirian dan jauh darinya, Bey harus tetap makan makanan sehat. Sebisa mungkin menghindari junk food.


"Mama membawakan rendang dan abon sapi buat kamu." Senja membuka kopernya, mengeluarkan dua barang yang tadi disebutnya.


Pikiran Beyza sedang tidak fokus, dia hanya tersenyum sembari mengucap kata 'iya' dengan tidak jelas.


Senja segera memanaskan rendang yang dibawanya. Karena dia yakin betul, putri satu-satunya itu belum makan malam.


"Bey, kamu ganti par...." Senja tidak melanjutkan pertanyaannya, karena dia mendengar suara Darren memanggil Beyza.


"Iya, Dadd," sahut Beyza buru-buru sembari menghampiri sang daddy.


"Kamu baru ada tamu?" tanya Darren, matanya melirik dua cangkir coklat di atas meja.

__ADS_1


Jantung Beyza mulai berdetak kencang. Dia tidak biasa berbohong. "I--iya, Dadd. Tadi ada teman kantor datang. Beyza lupa membereskan," kilahnya.


Darren memajukan badannya, sedikit menunduk, lalu memegang cangkir yang isinya belum terlalu banyak berkurang itu. Bahkan ada satu yang terlihat utuh.


"Masih hangat, Bey," selidik Darren.


"Iya, Dadd. Tadi bikinnya terlalu panas. Jadi dianya tidak sempat minum," kilah Beyza sekali lagi.


Genta mendekatkan telinganya ke daun pintu. Mencoba mencuri dengar apa yang terjadi di luaran. Apa jadinya kalau dia terjebak di sini hingga malam hari. Sungguh akan menjadi dilema yang luar biasa. Antara bahagia tapi takut tergoda melakukan dosa.


Beyza buru-buru mengambil cangkir coklat yang ada di meja tadi. Lalu membuangnya ke wastafel dan mencucinya bersih.


"Bey...." Lagi-lagi Darren memanggil Beyza.


"Iya, Dadd." Beyza melangkahkan kakinya mendekati daddy-nya.


Setelah beres dengan urusan perdapuran, Senja segera masuk ke kamarnya. Kamar yang disediakan untuk Senja dan Darren jika datang berkunjung. Sambil menunggu nasi matang, Senja ingin membersihkan diri terlebih dahulu.


"Dadd...Daddy tidak ganti baju dulu. Daddy kan baru saja sampai." Beyza yang sedang tiduran di pangkuan Darren mencoba mencari celah agar bisa mengeluarkan Genta dari apartemennya. Kejujuran akan terlalu cepat jika dilakukan sekarang.


"Nanti saja, sekalian setelah makan malam. Daddy masih kangen sama kamu." Jawaban Darren membuat Beyza menarik napas dalam-dalam. Dia tidak bisa membayangkan keresahan yang dialami Genta di dalam sana.


Sampai Senja keluar dari kamarnya kembali, posisi Beyza dan Darren tidakk berubah. Tentu saja dengan wajah Beyza yang lumayan cemas.


"Dad, Ma, Bey, makan malamnya di kamar. Karena ada video conference dengan client dari US. Hanya sebentar, maaf ya Dadd, Ma." Wajah Beyza terlihat memelas saat mengatakannya.


"Itulah kenapa, Daddy berharap kamu kembali ke Indonesia, menggantikan mamamu. Kamu bisa bekerja sesuai jam normal. Buat apa memperkaya perusahaan orang lain," ketus Darren.


"Bey, ingin bekerja sesuai disiplin ilmu yang Beyza pelajari dulu. Kalau memang Tuhan mengijinkan, dan semua berjalan sesuai harapan, Bey akan segera pulang dalam waktu dekat ini. Mama akan pensiun. Daddy dan mama akan menikmati masa tua dengan bahagia. Kami akan menitipkan cucu yang lucu-lucu pada Opa Darren dan Oma Senja." Beyza bangkit berdiri dan tersenyum penuh arti pada Daddy dan mamanya bergantian.

__ADS_1


"Apa kamu sudah mempunyai calon? Apa yang mama lewatkan? Kenapa putri cantik ini berani bicara soal cucu?" Cecar Senja. Dia menjadi curiga, selama ini Beyza sangat menghindari perbincangan tentang teman dekat laki-laki.


"Bey, benarkah kamu sudah mempunyai calon? Ingat! Dia harus melebihi daddy dari segi apapun. Yang menjadi suami Beyza, tidak bisa lelaki biasa saja," tegas Darren.


"Sudahlah! Kita lihat nanti, Bey akan memperkenalkan pada kalian beberapa hari lagi." Beyza menjawab setenang mungkin, padahal di hatinya masih tersimpan ketakutan dan kecemasan yang besar akan penerimaan daddy-nya.


Genta mengelus dadanya, mendengar kata-kata Darren tentang sosok pendamping Bey harus bp melebihi pria itu, sungguh bukan perkara yang mudah.


Di tengah kekhawatirannya, cacing-cacing di perut Genta mulai meronta. Memang sudah waktunya makan malam. Entah sampai kapan dia akan terkurung di kamar ini.


Senja dan Darren mengernyitkan keningnya secara bersamaan. Melihat makanan yang di ambil Bey, sungguh tidak seperti putri yang mereka kenali selama ini. Makanan itu lebih tepat untuk dimakan oleh dua orang dewasa.


"Bey... Memangnya bisa habis?" Senja bertanya sembari menelan ludahnya sendiri dengan kasar.


"Habis dong. Bey sedang program menggemukkan badan. Dan kebetulan menu hari ini sangat cocok. Nanti kita ngobrol lagi, setelah video conference. Semoga tidak selama biasanya." Beyza langsung masuk ke dalam kamarnya, lalu buru-buru menguncinya dari dalam.


Genta mengelus dada karena terlampau lega. dia bersyukur Beyza masih ingat kalau dia sedang berada di dalam kamar. Bersembunyi sampai kelaparan.


"Kita makan dulu, karena aku tidak tahu bisa mengeluarkan Kang Genta dari sini kapan," bisik Beyza.


Genta menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Sungguh terjebak dalam situasi seperti ini sungguh tidak mengenakkan. Berada di kamar berdua saja dengan orang yang dicintai bukanlah sebuah anugerah. Tapi lebih tepat disebut sebagai cobaan.


"Ask... apa kamu tidak merasa kalau sikap Bey begitu aneh?" tanya Darren pada Senja yang sudah mengulurkan tangan berisi makanan untuk disuapkan pada suaminya.


Senja menggeleng lemah, meskipun dia merasakan hal yang sama. Wangi parfum maskulin dari tubuh Beyza, jelas menjadi tanda tanya besar baginya.


🍇🍇🍇🍇


Yang pengen tahu kisah keluarga Genta dan Rangga, bisa mampir di "Cinta di 2 hati"

__ADS_1


__ADS_2