
Meski sudah berada di lantai satu, Darren tidak langsung menemui Lorenz. Dia sengaja sedikit mengulur waktu sembari mencari alasan agar bisa membuat sang istri keluar kamar. Salah langkah sedikit, bukannya perhatian dan cemburu yang didapat, bisa-bisa kondisi malah semakin kacau.
Setelah mendapatkan sedikit ide, Darren bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Di sana, dia mendapati Senja sedang berdandan dengan mengenakan jeans denim semata kaki dipadu kemeja marun pres body. Tiga kancing teratas sengaja di buka, memperlihatkan liontin berlambangkan huruf 'D' yang sering dia kenakan.
Senja memakai flat shoes senada dengan warna jeansnya. Penampilannya memang terlihat masih begitu muda. Dia terus bergerak, seolah tidak menyadari keberadaan Darren yang sedang menatapnya tajam.
"Aku butuh uang tunai," ucap Darren.
Tanpa menjawab, Senja berjalan menuju brankas yang terletak di bagian paling bawah almarinya. Setelah berhalil membuka kotak besi dengan kode tanggal pernikahan mereka itu, Senja mengambil satu bendel uang seratus ribuan. Dia lalu memberikan uang itu tanpa menatap wajah Darren.
"Terimakasih. Aku mau kasih ini buat perempuan yang datang mengantar kartu member VVIPku. Dia bekerja cukup bagus. Semua selesai tidak sampai puluhan jam." Pria itu sepertinya memang sengaja menyalakan bara api.
Senja menyambar tas selempang, lalu mengenakannya dengan gerakan cepat seperti orang yang sedang kesal. Darren menahan pergelangan tangan Senja dengan kuat. "Mau ke mana? Pantes seorang istri keluar rumah tanpa ijin suami?"
"Kamu sudah membiarkan tamumu menunggu terlalu lama. Lepaskan, aku ingin pergi sebentar." Senja mencoba menarik tangannya, tapi tidak berhasil.
"Seharian menunggu pun tidak akan masalah baginya. Mendapatkan satu member di sana tidak mudah." Darren menarik tubuh Senja agar semakin rapat ke tubuhnya. "Kamu siapa? Kamu bukan Senja istriku, kamu orang yang sangat berbeda. Senja tidak egois, dia mungkin sedikit keras kepala, tapi tidak seketerlaluan ini."
__ADS_1
"Lepaskan aku, cari kesenanganmu sendiri. Lakukan semua semaumu, dan aku pun akan melakukan yang sama." Senja mengatakannya dengan mata yang masih terpejam.
Darren menelan ludah kasar. Seumur hidup pernikahannya, baru kali ini dia merasakan sakit hati dan kecewa luar biasa dengan perilaku Senja. Saat ini, kehamilan bukan lagi alasan. Istrinya bukan orang yang tidak bisa mengendalikan diri, perempuan yang dinikahinya itu adalah perempuan yang bersahaja. Tidak mungkin mendadak berubah berbeda hanya karena kehamilan.
Senja tanpa sadar mencengkram lengan Darren begitu kuat, rasa sakit di perutnya kembali mendera. Sering kali rasa sakitnya itu timbul tenggelam dan tidak dia anggap serius. Senja menenggelamkan kepala di dada Darren. Pria itu sama sekali tidak tahu apa yang dirasakan sang istri. Dia malah mengira kalau itu adalah sebuah pelukan penyesalan.
"Seberapa besar kamu menyakitiku, aku pasti akan memaafkanmu. Aku bisa membiarkan diriku terluka, tapi aku tidak mau kamu menanggung dosa karena sikapmu sendiri. Aku memang bodoh. Setiap menghadapimu, aku kehilangan ketegasanku. Kamu pasti tahu alasannya kenapa bisa begitu."
Senja semakin mengeratkan pelukannya sembari meringis menggigit bibir bawah karena menahan sakit yang luar biasa. Dalam hati dia berdoa, sakitnya segera pergi seperti biasa. Kata-kata Darren hanya terdengar sekilas, karena Senja lebih fokus dengan apa yang sedang dirasakan.
Senja menarik napas lega, sakitnya mulai mereda. Dia melepaskan diri dari pelukan Darren. Lalu dengan terburu-buru tanpa mengucap sepatah kata pun, Senja meninggalkan sang suami sendirian yang bergeming melihat kenekatan sang istri.
"Kamu benar-benar menantangku, Ask." Darren meraup wajahnya sendiri seraya buru-buru berjalan menuju lantai satu. Suara kendaraan meninggalkan halaman rumah membuat dadanya bergemuruh.
"Pak Darren?" Sapaan dan tanya Lorenz yang sudah menunggu hampir satu jam mengingatkan Darren kalau dia sama sekali belum menemui tamunya.
"Sorry, mana member card-nya. Saya tidak bisa lama-lama. Penjelasannya bisa kapan-kapan."
__ADS_1
Lorenz mengumpat dalam hati, tidak seperti kebanyakan calon member baru yang sengaja berlama-lama mengajaknya berbicara dan bertemu di tempat yang privasi. Darren malah menyuruh datang ke rumah, membiarkannya menunggu, dan sekarang mengusirnya secara halus. Dia sedang menduga-duga hal itu pasti berhubungan dengan perempuan cantik yang melewatinya tanpa menyapa beberapa saat yang lalu.
***
Zain di dampingi Sekar, baru saja memberikan seminar tentang metode pengobatan penyakit kanker di sebuah rumah sakit besar di ibu kota. Keduanya berjalan berdampingan dengan raut wajah yang sumringah.
Kanker, apapun spesifikasi-nya, selalu membuat Zain tertarik dan bersemangat. Impiannya selalu sederhana, ke depannya, jumlah pasien kanker yang sembuh, harus semakin banyak.
"Kak, itu mama bukan sih?" Sekar menunjuk ke arah perempuan yang baru saja keluar dari sebuah ruangan dokter spesialis.
Zain mengikuti arah yang dimaksud oleh Sekar. Dia sedikit memicingkan mata agar penglihatannya tidak sampai keliru.
"Mama 'kan?" Sekar kembali meyakinkan diri sembari mengajak Zain berlari mengejar Senja untuk menyapanya. Tetapi baru beberapa langkah, Sekar kembali menangkap sosok lain yang sedang hangat-hangatnya mengacau kehidupan adik iparnya. Sosok itu bersama laki-laki lain. keduanya berjalan bergandengan begitu mesra layaknya suami istri.
"Nez!" Panggil Sekar.
Perempuan itu langsung melepaskan tangannya dari tangan si pria. Wajahnya terlihat gugup dan salah tingkah.
__ADS_1