
"Dadd!" dengus Zain dengan kesal.
"Lanjutkan nanti kalau sempat. Sekarang jaga mamamu dulu. Daddy ada video conference yang tidak bisa ditunda. Jangan perawat yang jaga, Daddy tidak mau." Darren tanpa dosa langsung berlalu meninggalkan Zain dan Airin.
"Ya sudah kita ke atas dulu, nanti jam sebelas Aa ke rumah sakit dulu. Hanya sebentar. Posisi paling aman, jangan jauh-jauh dari mama. Semua yang akan datang hari ini, paling segan kalau mama sudah angkat bicara." Zain merangkul pinggal ramping Airin menuju lift untuk naik ke lantai dua.
Senja tampak tertidur pulas. Wajahnya begitu tenang dan sudah tidak pucat lagi. zain dan Airin duduk berdampingan di sofa panjang. Airin menyenderkan kepalanya di bahu Zain dengan manja.
"A', mama tuh biar pun sudah hampir 50 tahunan, tapi masih cantik banget ya. Pantes daddy masih suka cemburu," ucap Airin setengah berbisik.
"Bukan cuma cemburu, Ai. Daddy tuh over protektif. Mana bisa mama keluar rumah sendiri tanpa pengawalan salah satu anaknya. Sifat daddy itu, menurun pada Dasen."
"Untung bukan Aa yang menuruni sifat daddy. Kalau sampai Aa begitu, bisa stres, Ai."
"Sementara tidak, tapi kalau sudah menikah, tidak tahu lagi." Zain menggoda Airin dengan tatapan mata nakal.
Satu jam berlalu dengan cepat bagi Zain dan Airin tapi tidak bagi laki-laki yang baru memasuki kamar mamanya. Siapa lagi kalau bukan Darren Mahendra.
"Sudah ada, Daddy. Zain mau berangkat ke rumah sakit dulu. Airin akan menemani daddy." Zain menaikkan alisnya untuk memberi signal pada calon istrinya agar mengiyakan ucapannya.
Airin sedikit memaksakan senyuman. "Iya, biar Airin menemani Daddy menjaga Mama Nja."
"Tidak perlu! Daddy lebih senang berdua saja bersama mama," sahut Darren begitu cepat.
Tangan Senja sedikit bergerak, begitu pula kepalanya yang bergerak perlahan untuk menghindari gerakan tiba-tiba.
"Rin ... Mama mau minum," pinta Senja dengan suara lemah.
Airin melemparkan senyum penuh kemenangan pada Darren sembari mengambilkan segelas air putih di nakas.
Zain menahan tawanya, lalu segera berpamitan. Sedangkan Darren mendengus kesal menjatuhkan bokongnya di atas sofa.
"Kamu di sini saja, Rin. Sini, tiduran di samping Mama." Senja yang merasa sakit kepalanya sudah jauh berkurang, menepuk bagian ranjang di sampingnya tepat.
Airin pun menuruti saja permintaan calon ibu mertuanya. Darren pun tidak ingin protes. Karena saat vertigo Senja kambuh, yang dibutuhkan hanyalah ketenangan.
__ADS_1
************
Saat yang mendebarkan bagi Airin pun tiba. Suasana di lantai satu mendadak ramai. Bae, Arham, Chun cha, Suami Chun--Aleandro, si kembar dan Baby De baru saja menginjakkan kaki mereka di kediaman Darren Mahendra.
Jantung Airin mendadak berdetak lebih kencang, mendengar dua suara perempuan entah yang bernama siapa berceloteh dengan nada tinggi dan tempo cepat. Airin sudah bisa menduga kalau keduanya sangat pandai mencela sekaligus berdebat.
Seolah mengetahui kecemasan Airin, Darren menarik ujung bibir merah miliknya, memperlihatkan senyuman yang samar.
Rombongan keluarga itu pun langsung masuk ke ruangan Senja. Wajah panik jelas terlihat dari Bae--eomma tiri dan Arham--appa Senja.
"Kenapa Kemala bisa kambuh vertigonya, Darr. Apa kamu membuatnya stres?" Bae tanpa basa-basi, seperti biasa langsung memojokkan Darren sembari mendekati Senja yang masih memejamkan matanya.
"Waalaikumsalam, Eomma." sindir Darren.
"Owh, iya Eomma sampai lupa mengucap salam."
"Eommamu ini memang kebiasaan. Kalau tidak mencela orang. Tidak enak," sahut Arham.
Darren hanya meringis, lalu memeluk appa mertuanya, Aleandro, Chun Cha, si kembar dan baby De bergantian.
"Kalian tidak sekolah?" tanya Darren.
"Beyza dan Derya, kemana, Dadd? sekolah?" tanya Bianca.
"Iya, masih sekolah. Satu jam lagi mereka pasti pulang," jawab Darren.
"Apa kabar, kamu Darr?" sapa Aleandro.
"Sebelumnya lebih baik dari hari ini. Kalau Senja sakit. Semangat rasanya tidak ada." Darren menjawab dengan jujur.
"Sudah tua, masih saja sok romantis," dengus Chun Cha, yang memang tidak pernah sepemikiran dengan Darren.
Arini hanya berdiri terpaku dan terdiam seperti patung, mau berjalan keluar rasanya tidak sopan. Tapi hingga sekarang, belum ada satu pun yang menyapanya. Bahkan Darren tidak memperkenalkan siapa Airin pada semua tamunya.
"Dadd, kami tunggu di kamar Bey saja ya, kasihan Mama Nja. Terlalu berisik kalau semua kumpul di sini." Bianca, Carina dan Baby De bergantian mencium lembut pipi Senja lalu keluar menuju kamar Beyza.
__ADS_1
Meskipun mereka hanya datang ke Jakarta sesekali, tapi hubungan persaudaraan semua anak Chun Cha dan Senja serta anak kedua adik kembar Senja sangat akrab.
Hanya Senja yang tinggal di Indonesia sekarang. Setelah si kembar memasuki sekolah lanjutan, Chun Cha dan Aleandro memilih pindah dan menetap di negara S.
Senja bisa mendengar semua obrolan bersahutan dari orang-orang yang datang. Hanya saja, jika matanya dibuka, bumi masih terasa berputar dengan cepat. Meski tidak separah tadi, tapi dia memilih mencari aman dan nyaman saja.
"Rin ...." panggil Senja, menyadari keberadaan calon menantunya terabaikan oleh yang lain.
Barulah semua orang tersadar kalau sedari tadi, ada seorang perempuan muda berdiri di sisi lain dari mereka.
"Iya, Ma." Airin menegarkan diri mendekati Senja, menyibak kerumunan lima orang yang berdiri berjejer di tepi ranjang Senja.
Bae dan Chun Cha sama-sama menatap Airin dengan pandangan menyelidik. Mereka baru teringat wajah Airin, setelah teringat akan foto yang pernah dikirimkan Zain bersama perempuan itu pada mereka. Hari ini memang hari pertama mereka bertemu langsung.
Seperti Darren, Selain Senja tidak ada yang mendukung hubungan Zain dengan Airin. Sungguh saat semua berkumpul seperti ini, akan menjadi ujian berat bagi Airin. Berharap saja semoga Sarita dan Mahendra segera datang.
"Owh, ini yang namanya Airin?" tanya Chun Cha dengan pandangan menyelidik.
Airin tersenyum lembut dan mengangguk sopan. Dia memberanikan diri mengulurkan tangan pada Chun Cha.
"Mami chun." perempuan itu menyambut uluran tangan Airin dengan ketus, lalu menarik cepat tangannya ketika calon istri Zain itu ingin mencium punggung tangannya.
"Oma Bae." Meski ketus, Bae sedikit lebih baik karena membiarkan Airin mencium punggung tangannya.
Airin melakukan hal yang sama pada Aleandro dan Arham. Kedua pria itu meski cuek, tapi jauh lebih bersahabat dibanding sikap kedua perempuan sebelumnya.
Setelah perkenalan yang terkesan hanya formalitas belaka, Airin mendekati Senja. "Iya, Ma ... Ada apa? apa yang mama rasakan? apa mama butuh sesuatu?" tanyanya dengan lembut.
"Sini, kamu jangan jauh-jauh dari Mama." Senja meraba-raba tangan Airin. Dia paham betul posisi Airin, Senja teringat saat pertama kali mendiang papanya Zain--Rafli, membawanya bertemu dengan keluarga Rafli.
Airin menggenggam tangan Senja dengan erat, merasakan kasih sayang yang tulus dari calon mama mertuanya itu.
"Appa ... Al ... kita bicara di luar saja, yuk!" ajak Darren.
Aleandro dan Arham kompak menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah ketiga laki-laki itu sudah menghilang dari pandangan, Bae dan Chun Cha kembali menatap Airin dengan tatapan menyelidik.
"Kamu serius sama, Zain?" tanya Bae sedikit sinis.