Hot Family

Hot Family
Bertemu Genta


__ADS_3

Senja menoleh sebentar pada Beyza. "Banyak yang ingin Mama tanyakan, tapi daddy-mu sedang membutuhkan Mama sekarang. Besok, kamu dan Genta harus menjelaskan pada Mama," tegas Senja.


"Di mana? Bersama daddy juga?" Beyza bertanya dengan nada khawatir.


"Tentu saja tidak! Kita bertiga dulu." Senja melepaskan tangan Bey dari lengannya, lalu memasukkan air hangat ke karet kompres.


"Terus, daddy disembunyikan di mana? bukankah daddy tidak bisa ketinggalan Mama?"


"Besok, daddy-mu akan bertemu beberapa teman kuliahnya yang ada di sini. Reuni kecil-kecilan. Jadi mama bebas di jam makan siang." Senja berjalan menuju kamarnya.


"Baiklah. Besok pasti oke. Waktu dan tempat terserah Mama. Love you, Ma. Terbaik memang." Beyza mencium pipi Senja sekilas, lalu kembali masuk ke kamarnya dengan wajah ceria.


Senja hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Beyza.


"Lama sekali, sih. Sakit tahu, Ask. Kalau sampai besok tidak enak buat bergerak bagaimana?" Keluh Darren, selalu manja dan melebih-lebihkan seperti biasa.


Senja menempelkan karet kompres di pinggul suaminya yang mengalami keluhan. "Itu tandanya, kamu disuruh istirahat, Ask. Sesekali disuruh anteng. Lagian, selama kita menikah. Kok jarang banget ya, Senja ini dapat libur."


Darren mendengus kesal. "Nyonya Darren Mahendra, tidak usah sok tidak senang. Jangan terus berkata seolah yang doyan cuman aku. Ingat, siapa yang de5ahannya paling keras. Siapa yang minta gaya ini itu. Jelas?" Ucapan Darren membuat Senja mencebikkan bibirnya.


"Mau tidur dulu! Capek." Senja merangkak naik ke atas ranjang, menarik selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.


"Kebiasaan, kalau sudah kalah telak, pura-pura ngantuk," cibir Darren, lalu diakhiri dengan meringis menahan nyeri.


Dengkuran halus pun terdengar dari mulut Senja. Suara yang tidak pernah sedikit pun mengganggu Darren. Bahkan dengkuran itu terdengar merdu bagaikan lagu tidur yang mendayu. Tidak ada dengkuran itu, tidur Darren malah tidak akan nyenyak.


"Ask, aku tidak bisa miring ini. Mana tangannya, Peluk aku." Darren tidak berani menggerakkan pinggulnya, hanya tangan yang meraba dan bola mata yang bergerak mencari tangan istrinya. Setelah ketemu, Darren menarik lembut tangan itu dan meletakkan di atas dadanya.


.


.

__ADS_1


Pagi hari sebelum berangkat ke kantor. Dasen dikejutkan dengan satu notifikasi di ponselnya yang membuat harinya semakin bersemangat.


Denok menerima tawarannya untuk bergabung di perusahaan milik Senja. Tentu saja hal itu merupakan kabar yang baik. Jalan untuk menjalin hubungan dengan Denok semakin lebar. Dengan sedikit kenekatan, dia akan mencoba berspekulasi pagi ini.


Karena terlalu bersemangat, Dasen sampai lupa berpamitan terlebih dahulu pada Sekar dan Zain yang sedari tadi sudah menunggunya di ruang makan. Dia malah langsung berangkat ke kantor begitu saja, sembari terus berbalas pesan dengan gebetan barunya itu.


Dasen menyuruh Denok menunggu di kantornya. Ternyata keduanya malah datang bersamaan.


"Pakai mobilku saja, mobilmu biar diparkirkan sama security." Dasen memberi kode pada Security untuk memarkirkan mobil merah milik Denok.


Keduanya lalu menuju ke kantor milik Senja dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Rudi.


Hati driver itu kini mulai was-was, melihat tampilan Denok dan cara berbicara gadis itu dari awal mereka bertemu hingga sekarang. Rudi menjadi yakin, jika nanti Dasen dan Denok menjalin hubungan, nasibnya akan kembali ke awal-awal saat menjadi driver Senja dulu.


"Nok, kamu sudah punya pacar belum?" tanya Darren to the point.


"Belum, Tuan. Susah cari weton yang cocok. Bapak ribet soal jodoh. Dulu sudah ada yang mau nikahin saya, tapi gak cocok arah rumah. Belum lagi, Ibu. Maharnya minta macam-macam. Belum apa-apa, sudah mundur lakiknya." Denok bercerita dengan gaya ceplas ceplosnya yang tanpa beban.


"Jangan panggil, Tuan. Panggil saja Askim. Karena sebentar lagi, kamu akan menjadi Askimnya Dasen Kyun Mahendra." Dasen tidak berpikir panjang saat mengatakannya.


Denok mengernyitkan keningnya. Tidak mengerti sama sekali pemicaraan Dasen.


"Askim itu artinya cintaku. Aku merasa kamu cocok menjadi pacarku. Kamu tidak boleh menolak. Kita jalani saja. Nanti biar Mbah Gondrong yang menentukan, kita cocok apa tidak. Masalah mahal jangan khawatir. Sejak di dalam kandungan, aku sudah menjadi anak sultan."


Denok semakin terheran-heran. "Jadi ini, Denok ditembak? Semacam ungkapan cinta mendadak? Seperti serangan fajar?"


Terlihat jelas kebingungan Denok, siapa yang tidak senang ditembak seorang seperti Dasen. Kesombongan dan keangkuhan yang nyata sekalipun jelas dapat dimaklumi karena ketampanan juga kekayaan yang memang terpampang nyata.


Tapi cara Dasen mengutarakan perasaan dan mengajak perempuan menjalin sebuah hubungan, sungguh sangat aneh. Jangankan romantis, sekedar manis pun tidak.


"Tenang saja. Ini belum pada intinya. Kalau Mbah Gondrong sudah mengatakan weton kita cocok. Aku baru akan menyatakan perasaanku dengan benar. Kamu mau di mana? Private jet? Kapal pesiar? Rooftop hotel bintang tujuh? Empang Mang Engking? Jembatan ancol? Aku siap!"

__ADS_1


Ucapan Dasen membuat Denok benar-benar menggelengkan kepalanya. Heran sekaligus senang. Karena baru kali ini dia bertemu laki-laki yang begitu apa adanya.


"Baiklah, Askim. Temui Mbah Gondrong segera. Setelah cocok, aku ingin kamu menyatakan cinta dengan cara yang benar. Sedikit hadiah mungkin akan membuat hatiku semakin bergetar."


Rudi mengusap wajahnya dengan kasar. 'Edan tenan. Tumbu oleh tutup. Podo dene. (Gila sekali. Cocok. keduanya sama saja),' batin Rudi.


.


.


Darren mengubah jadwal pertemuannya dengan beberapa teman kuliahnya menjadi waktu makan malam. Hal itu disebabkan, kondisi pinggulnya yang belum pulih benar saat siang tadi.


Perubahan jadwal itu, tentu merubah jadwal bertemunya Senja dengan Genta juga. Karena tidak mau resiko lain, Senja menyuruh Genta datang ke apartemen saja.


Mereka bisa makan malam bertiga dengan lebih santai dan hangat. Karena dugaan Senja, Darren setidaknya akan bertahan dua sampai tiga jam bersama teman-temannya.


Sepuluh menit Darren keluar dari apartemen, Genta dan Beyza datang bersamaan. Seolah lupa dengan kemarahan dan kekesalan yang disimpan karena kejadian kemarin malam. Senja malah merasakan haru luar biasa begitu berhadapan langsung dengan Genta.


Saat anak itu mencium punggung tangannya, Senja merasa kehangatan yang dalam seperti saat Derya, Dasen, Zain dan Beyza melakukan hal yang sama dengannya.


"Mama apa kabar? Genta, kangen sekali sama Mama? Mama, boleh marahi Genta, Mama, boleh pukul Genta. Tapi tolong! Peluk Genta sebentar saja," pinta Genta dengan tatapan wajah memelas.


Senja menganggukkan kepala sembari merentangkan kedua tangannya. Saat Genta berhambur dalam pelukannya, Senja memberikan balasan pelukan yang sangat erat. "Kamu ke mana saja, Gen? Dasar anak nakal! Kamu bisa menyusup ke kamar Beyza. Tapi kamu tidak menghubungi Mama sama sekali." Senja mengatakannya dengan lirih, suaranya tertahan dengan sedih dan haru.


Genta memejamkan matanya, lagi-lagi, dia seperti merasakan dekapan seorang ibu yang sebenarnya.


"Mama kangen kamu, Gen."


"Genta juga, Ma. Kali ini, Genta kembali bukan hanya untuk menikahi Beyza. Tapi juga karena Genta ingin kembali menjadi anak Mama," lirihnya.


"Menikah?" tanya Senja sembari melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


Genta meraih tangan Beyza. "kami sudah saling jatuh cinta sejak lama, Ma. Kami sudah mencoba melupakan satu sama lain. Tapi nyatanya, kami tidak sanggup. Kami dipertemukan kembali dengan perasaan yang masih sama. Tidak ada alasan bagi kami untuk berlama-lama pacaran. Kami akan menikah."


Senja hendak menjawab, tapi bel pintu yang berbunyi, membuat ketiganya saling pandang.


__ADS_2