
"Tidak bisa begitu, Ay. Setelah enaknya, kamu mau campakkan aku begitu saja? Aku tidak akan tinggal diam." Inez memegangi lengan Derya.
Dengan tidak lembut dan juga tidak kasar, Derya menurunkan tangan Inez dari lengannya. "Kamu yang memulai semuanya, Nez. Aku sudah memberimu jalan keluar terbaik, nyatanya kamu malah memilih mendengarkan bisikan setan. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa mengendalikan aku." Derya menatap tajam pada Inez dan Angelica secara bergantian.
"Berani kamu meninggalkanku, aku akan menyebarkan video kita, Ay!" Ancam Inez, perempuan itu mulai menggila karena panik.
Derya mendekatkan wajahnya pada Inez. Darren dan Senja mengeratkan genggaman. Mereka percaya Derya tidak akan berbuat bodoh kali ini. Angelica dan suaminya hanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Silahkan, Nez. Sebarkan sekarang kalau perlu. Keluargaku sudah tahu, orang lain mau menilai apa? Itu sama sekali tidak mempengaruhi kami. Nama Mahendra Corp dan DNG Corp tidak akan tercoreng sedikit pun. Karena apa? Orang tuamu jelas mempunyai kepentingan pada kami. Kamu pikir publik akan menilai apa? Laki-laki di keluarga kami sudah ditakdirkan menjadi buruan wanita. Mereka akan memaklumi dan menganggap kamu lah yang dengan suka rela mengajarku."
Derya memundurkan wajahnya kembali. "Sudah cukup, Ma, Dadd," ucapnya.
Darren tersenyum sinis ke arah Angelica dan Inez. Kesalahan Derya memang tidak bisa dibenarkan. Tapi sikapnya yang tegas di depan orang yang menekannya patut dibanggakan. Meski dia tahu, Derya sedang mengalami sakit hati dan kecewa yang sangat dalam.
Darren, senja dan Derya meninggalkan rumah Inez dengan perasaan yang tidak berubah dari saat mereka berangkat. Masalah mungkin masih belum selesai, tapi setidaknya mereka sudah mengambil sikap dan tahu apa yang akan menjadi senjata lawan nantinya.
Angelica terlihat sangat tidak terima, dia terus mengumpat. Inez sendiri langsung berlari ke dalam kamarnya.
"Kita ke danau sebentar ya, Pak. Sepertinya kami butuh udara segar." Senja memberikan perintah pada drivernya.
Setelah menempuh 30 menit perjalanan, sampailah mereka di sebuah danau buatan tidak jauh dari perumahan elite tempat tinggal mereka.
Penerangan yang cukup, namun tidak terlalu terang sangat mendukung suasana hati Derya yang sendu.
Senja memberi kode pada Darren untuk berjalan agak jauh dari dirinya dan Derya. Perempuan itu tahu betul anaknya itu sangat membutuhkan teman bersandar di saat seperti ini.
__ADS_1
"Aku duduk di sini saja, Ask. Kalian ke sana lah." Darren duduk di bangku taman tidak jauh dari tepian danau.
Senja hanya mengangguk sembari mengedipkan matanya dengan lembut. Lalu kembali berjalan mengamit lengan Derya mendekati tepian danau itu.
"Teriaklah jika itu bisa membuatmu lega. Menangislah jika perlu. Jangan menahan dan menyimpan kesedihanmu sendiri, Der. Tidak perlu pura-pura kuat di depan Mama." Senja mengusap lengan Derya dengan lembut. Mereka berhenti persis di bibir danau buatan yang dibatasi dengan batu coral.
Derya menatap mamanya dengan sendu. Tidak bisa berkata-kata lagi, dia langsung memeluk Senja dengan erat. "Derya hanya butuh pelukan Mama. Begini saja sudah cukup, Ma. Maaf karena membawa keluarga kita dalam masalah ini."
Senja membalas pelukan Derya dengan hangat. Dia membelai rambut anaknya itu. Senja merasakan pundaknya mulai basah. Meski Derya menahan isak tangisnya, tapi air mata yang menetes tidak bisa diajak kompromi lagi.
"Jangan ditahan Der, lepaskan. Letakkan bebanmu perlahan. Seringkali tuhan membiarkan kita berbuat kesalahan dulu agar bisa tahu yang benar." Senja menjeda ucapannya sebentar untuk memastikan Derya baik-baik saja.
"Bersyukurlah Tuhan menunjukkan bagaimana Inez dan keluarganya sebelum kalian benar-benar mempunyai ikatan. Sekarang, nikmati saja lukamu, jangan terlalu keras ingin menyembuhkan dengan cepat. Sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu kapan datangnya, juga akan sulit memperkirakan kapan bisa perginya," tambah Senja.
Hati Senja turut merasakan sakit. Lukanya mungkin lebih dalam dari luka yang Derya rasakan. Siapa yang paling tidak tega melihat anaknya sedih? Tentu saja seorang ibu. Tapi Senja harus berusaha tegar, jika dia sendiri rapuh, kemana lagi Derya akan bersandar?
"Katakan apa yang harus Derya lakukan, Ma?" Derya bertanya dengan suara yang lirih dan serak.
"Berdoa, Der. Berserah diri. Memohon ampunan pada Allah. Apa yang kamu lakukan salah, tapi mama rasa, benar-benar tidak menikahi Inez jika dia hamil anakmu, itu tidak benar." Senja merenggangkan pelukannya. Lalu mengajak Derya duduk di atas rumput yang lembab karena udara malam.
"Kenapa harus menikah, Ma? Kami bisa membesarkan anak itu tanpa ikatan pernikahan? Jangan tanya bagaimana nasib anak itu jika tidak terlahir di keluarga yang utuh? Sekarang, coba Mama kasih tahu, Der. Apa enaknya hidup di keluarga yang terlihat utuh, tapi di dalamnya hanya ada pertengkaran, dendam dan benci? Bukankah lebih baik hidup dengan orang tua yang terpisah, tapi melihat papa dan mamanya masing-masing bahagia?" Derya bertanya masih dengan setengah terisak.
"Der, berharaplah dan berdoa, Inez tidak hamil. Percaya akan kekuatan doa. Mama dan daddy akan melakukan hal yang sama. Kamu anak mama. Mau sebesar gunung sekali pun kesalahanmu, punggung mama tetap kuat membantumu membawanya."
Derya menyandarkan kepalanya di bahu Senja. Lalu memejamkan sejenak matanya, merasakan angin semilir yang membelai membawa kesejukan.
__ADS_1
Dari kejauhan, Darren tidak sedikit pun mengalihkan pandangan matanya pada yang lain. Sepasang bola matanya terus tertuju pada sosok istri dan salah satu anaknya itu.
"Aku bersyukur, Ask. Aku memilih istri, dan ternyata aku juga mendapatkan ibu yang hebat untuk mendampingi anak-anakku. Aku tidak pernah berhenti mengagumimu." gumam Darren, sangat lirih.
Senja menoleh ke belakang. Meski penerangan lampu di sana hanya temaram, dia bisa melihat kalau suaminya itu sedang melemparkan senyuman mempesonanya dengan sangat tulus.
"Masih mau di sini?" Tanya Senja.
"Sebentar lagi ya, Ma. Maaf, apa Mama bisa meninggalkan Derya sendiri? Sebentar saja," pinta Derya dengan sopan.
Senja mengangguk sembari berdiri. "Mama samperin daddy dulu."
"Terimakasih, Ma."
Senja melangkahkan kakinya perlahan menghampiri sang suami yang langsung berdiri dan menyambutnya.
"Kita tunggu Derya sebentar, apa yang dihadapinya tidak mudah, Ask. Semoga peristiwa ini bisa mendewasakan Derya, dan membuatnya lebih hati-hati dalam melangkah. Pelajaran hidup tidak selalu dipetik dari hal-hal yang indah dan manis," harap Senja.
Darren mengamit pinggul Senja. "Aku percaya semua akan kembali baik-baik saja. Karena ada kekuatan doa ibu yang luar biasa tulus untuk anak-anaknya."
Senja tersenyum dengan tatapan tetap tidak beralih pada sosok Derya yang tampak tenggelam dalam tangisnya. Jelas dari jauh bahu anaknya itu bergetar dan bergerak naik turun.
"Badai pasti berlalu, Der. Mama akan lakukan apa pun, untuk membuatmu tidak tergulung badai yang sudah terlanjur kamu terjang. Melihatmu sesakit ini, hati Mama hancur, Der." Senja menyandarkan kepala di pundak suaminya.
"Menangislah, Ask. Kamu boleh pura-pura kuat dan tegar dihadapan anak-anak. Tapi jangan di depanku. Aku akan selalu ada, untuk menjadi tempat bersandarmu." Darren mengecup kening Senja dengan lembut.
__ADS_1