
Darren sengaja duduk di tepian ranjang, Dia mencoba menggoda Senja. Siapa tahu, singa betina itu malah menerkamnya dengan cara yang enak.
Tapi malang bagi Darren, bukannya enak yang di dapat, sebuah timpukan dengan remote televisi mengenai lengannya dengan keras.
"Auww ... sakit, Ask. Kamu sadis sekali sekarang." Darren mengusap lengannya yang terasa pelas.
"Siapa suruh duduk di sini? Kamu nyebelin." Senja kembali menarik menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
Darren semakin tertantang untuk membuat istrinya kesal. Dia harus mengubah rencana. Sepertinya menjadi sasaran timpukan dan kekesalan, masih lebih baik daripada harus berjauhan.
Pria itu merangkak naik ke atas ranjang dan merebahkan diri tepat di samping sang istri. Dia sengaja memeluk tubuh Senja dari belakang.
Di dalam selimut, Senja merasa semakin tersiksa. Kekesalannya mendadak memuncak. Jika sebelumnya Darren adalah pria yang paling dia sayangi, entah kini mengapa Senja merasa ingin membenci suaminya itu. Dia merasa enggan untuk disentuh, bahkan sekedar melihat saja Senja sudah malas.
Pria itu semakin merapatkan tubuhnya, bahkan Darren dengan santai mengecup mesra pundak Senja yang kebetulan tidak tertutup selimut. Daster bertali satu yang dikenakan perempuan itu, membuat punggung putih mulusnya terpampang nyata di depan mata sang suami.
Darren tidak sadar dan tidak mengira, bagaimana tersiksanya perasaan Senja sekarang. Betapa istrinya itu merasakan kekesalan yang luar biasa. Senja ingin sekali menyingkirkan tangan Darren dari dadanya, tapi Senja tidak ingin menyentuh sama sekali tangan suaminya itu.
Menahan kekesalan yang amat sangat, membuat dada perempuan itu terasa sesak, hormon kehamilan juga mulai beraksi. Perempuan itu menangis. Dia memencet hidungnya, agar tidak mengeluarkan suara. Tapi lama kelamaan, isaknya tidak tertahan. Hingga membuat bahunya terguncang.
Saat itulah Darren baru menyadari kalau istrinya sedang menangis. "Kamu kenapa, Ask? Kenapa kamu menangis?" Tanyanya dengan ekspresi heran sembari mengambil posisi duduk.
"Aku benci kamu, Darren Mahendra. Jangan sentuh, aku!" Teriak Senja di sela isak tangannya.
__ADS_1
"Kamu bicara apa sih, Ask? Apa salahku?" Darren beringsut dari atas ranjang. Kini, dia berdiri sembari menatap Senja yang perlahan menyibak selimutnya. Matanya merah karena banyak mengeluarkan bulir bening kekesalan.
Senja semakin terisak, dia meraih tisu di nakas yang masih terjangkau dengan tangannya. Melirik Darren sekilas, lalu kembali mengelap ingusnya yang keluar karena tangis.
Darren masih menunggu jawaban Senja. Tidak tega, tapi dia tidak pernah suka diperlakukan semena-mena. Apalagi, sepanjang pernikahan, baru kali ini, Senja menyebut kata benci dan nama lengkapnya tanpa embel-embel apa pun.
"Jawab, Ask. Aku masih menunggu jawabanmu. Aku salah apa? Hingga kamu merasa pantas untuk membenciku?" Darren merendahkan nada suaranya. Meskipun wajah dan tatapannya sangat tajam.
Senja mengatur napasnya. Dia sama sekali tidak ingin melihat wajah Darren. Tidak ada rasa lain yang dia rasakan saat ini selain kesal dan benci. Tidak ada alasan, itu yang membuatnya enggan dan tidak bisa menjawab pertanyaan sang suami.
"Jawab, Ask. Salahku apa? Apa karena kamu hamil lagi? Lalu seperti biasanya kamu akan menyalahkan aku? Tidak menerima kehamilanmu? Kenapa setiap kamu hamil anak-anakku, rasanya kamu selalu tidak bahagia? Kamu tidak ingat saat kita melakukan prosesnya? Apa pernah aku memaksamu? Kamu sangat menikmati, bahkan tidak jarang meminta lagi. Sekarang? Tetap aku sendiri yang salah." Darren mengeluarkan semua yang mengganjal dihatinya.
Senja semakin terdiam. Tapi bibir ranumnya manyun dua senti. "Bisa diam tidak! Kalau aku bilang benci ya benci. Tidak ada alasan."
"Kamu nyebelin, pokoknya aku benci kamu. Kecebongmu selalu datang di saat yang tidak tepat. Enak kamu gak hamil, habis netesin, selesai. Nah aku? Aku hamil, nggak tahu nanti pas hamil bakalan pengen apa, dan perasaan bagaimana. Sekarang apa lagi, malu sama menantu."
Darren mengelus dada dan menarik napas berat Berharap bisa menambah stock kesabaran. "Ya kan sudah ada tugas masing-masing, Ask. Kalau kamu tidak keberatan, aku juga bisa menjadi Quality control untuk memastikan kecebongku berkembang baik di dalam rahimmu. Aku bersedia melakukan kunjungan lebih sering, jika kamu khawatir usiamu mempengaruhi perkembangannya."
Mendengar ucapan Darren yang konyol, Senja langsung mengambil bantal dan melemparkannya tepat ke dada sang suami. Dengan sigap, pria itu menangkap bantal tersebut sembari menjulurkan lidahnya dengan nakal.
"Darren Mahendra! Aku benar-benar benci sama kamu." Senja menggesek-gesekkan kaki ke kasurnya yang empuk, seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Darren sedikit lega, kini dia yang lebih banyak sabar, dan menahan emosinya. Kebencian yang dirasakan Senja, pastilah benci karena hormonal. Bukan karena benci yang sebenarnya. Meski menyiksa, dia bisa apa?
__ADS_1
"Kenapa masih berdiri di situ? Ambil yang kamu perlukan, lalu keluar. Kalau perlu bawa baju dan semua yang mungkin kamu butuhkan. Besok dan besoknya lagi, biar kamu gak keluar masuk terus," dengus Senja.
"Padahal keluar masuk kan biasanya kamu suka. Terus kalau yang aku butuhkan kamu bagaimana? Apa aku harus membawamu sekalian?" Darren benar-benar sengaja memancing auman macan betina.
Lagi-lagi, sebuah bantal melayang. Kali ini, Darren tidak sempat menghindarinya. "Kamu sadis sekali, Ask. Aku sumpahin anakmu mirip aku."
Senja dengan cepat turun dari ranjang. "Biar aku yang keluar kalau begitu."
Darren masih bergeming di tempatnya, sudah dua hari tidak mencium sang istri. Rasanya kekuatannya melemah. "Ask, aku saja yang keluar, tapi boleh tidak minta cium dulu? Sebentar saja."
Senja melirik Darren dengan ekor matanya. Sinis, sadis, dan dingin. "Mana ada orang benci mau dicium." Perempuan itu akhirnya memutuskan keluar kamar. Dia malas berdebat lebih panjang.
"Ya Allah, Ask. Jangan lama-lama bencinya. Kalau cium saja sulit, bagaimana dengan elusan naga? Dua hari masak nganggur sih. Tega kamu, Ask." Darren mengelus naganya seolah ingin menyuruh rekan duet saat menggempur Senja itu untuk bersabar.
Kembali ke kantor Beyza. Kini dia sudah kembali sendiri di dalam ruangan, karena Dasen sudah pulang ke kantornya sendiri begitu pembicaraan mereka selesai.
Karena ini hari pertama Beyza bekerja, membuat pekerjaannya menjadi sangat padat. Bahkan dia berencana untuk lembur. Dia harus mempelajari semua dari awal dengan sangat teliti. Karena profesi yang dia geluti dulu, jauh berbeda dengan dunia bisnis yang harus dia pimpin sekarang.
Beberapa kali, Beyza melirik ponsel dan juga pintu ruangannya. Ya, dia sedang menunggu Genta datang atau menghubungi untuk memberi kabar kalau dia sudah menuju tempat Beyza. Karena kekasihnya itu, sudah janji akan datang untuk menemani.
Namun, sampai pukul tujuh lewat, Genta belum juga ada kabar dan tidak kunjung datang. Karena tidak sabar, Beyza menghubungi Genta terlebih dahulu. Ponsel yang aktif, tapi hanya terhubung dan tidak berbalas.
Karena sudah sangat dekat, Beyza pun memutuskan untuk menghubungi Rangga. Biasanya, ayah angkat Genta itu selalu tahu keberadaan kekasihnya.
__ADS_1
Hanya satu kali nada sambung, telepon Beyza langsung diterima oleh Rangga. Tanpa basa basi, Bey pun menanyakan tentang Genta. Raut wajah gadis itu seketika berubah begitu mendengar jawaban dari Rangga.