
Zain langsung mengendong Sekar dan membaringkannya ke brankar. Tanpa menunggu diperintah, Dasen sudah keluar untuk memanggil dokter jaga.
Beberapa saat kemudian, dokter pun datang. Bukan Zain tidak bisa memeriksa istrinya sendiri. Dalam kondisi panik, seseorang biasanya tidak bisa melakukan sesuatu dengan tenang.
Dokter memeriksa kondisi Sekar. Menghitung detak nadi, memeriksa kondisi mata, tekkanan darah, dan juga bagian perutnya. Perawat mencoba memberikan gosokan di kaki. Tidak berapa lama, Sekar pun kembali tersadar.
Istri Zain itu membuka bola matanya perlahan, karena yang dilihatnya sisi kiri maka yang langsung nampak di penglihatannya adalah Dasen. Kekesalan seketika melanda.
"Das, kenapa kamu lagi---kamu lagi. Bisa kan kamu ngumpet dulu di pojokan? Atau sembunyi di toilet? Aku mual lihat kamu." Sekar memang tidak bohong. Selepas berbicara, dia menahan mulutnya yang mengembung menahan sesuatu ang sudah ingin melompat dari sana. Sekar buru-buru menoleh ke arah berlawanan. Barulah dia melihat sosok yang menyejukkan. Pipi yang mengembung pun kembali tirus karena isinya sudah ditelan kembali.
Dokter, perawat, Zain, dan juga yang lain, kompak saling melempar pandang. Namun sesaat kemudian dokter malah tersenyum.
"Mumpung di rumah sakit, sebaiknya dilakukan USG atau tes kehamialan. Saya belum bisa memastikan. Masih menduga-duga," terang dokter.
Tentu saja ucapan dokter itu membuat Bae dan yang lain sumringah. Sementara Zain malah seperti orang yang sedang kebingungan. Dengan mulut menganga sempurna dan mata membulat penuh tanya.
"Der, beli testpack, Der, cepat!" Bae mendorong cucunya itu untuk segera beranjak.
"Oma, Der malu. Masak Der beli test pack," keluh Derya.
"Biar dari kami saja yang melakukan pemeriksaan. Apa yang Anda rasakan sekarang?" Dokter menengahi pembicaraan.
"Tidak merasakan apa-apa, Dok. Saya tadi terlalu menahan mual. Ini gara-gara Dasen," ketus Sekar di ujung kalimat.
Zain mengernyitkan dahinya. Mulai menghubungkan sikap Sekar saat ini dengan waktu-waktu sebelumnya. Ya, dia baru sadar. Memang Sekar terkesan sangat antipati pada Dasen akhir-akhir ini.
"Baik Dok, lakukan saja pemeriksaan pada istri saya," putus Zain.
__ADS_1
Dokter dan perawat pun pamit terlebih terlebih dahulu untuk mempersiapkan pemeriksaan selanjutnya. Sekar pun beranjak dari brankar. Dia langsung bergelayut manja di lengan Zain.
"Bagaimana mamamu, Zain?" Suara Arham yang sedari tadi hanya diam menyimak, menyadarkan semua orang akan kekhawatiran mereka.
"Ah, ya... Alhamdulillah, kesadaran mama sudah pulih. Hanya saja, mama belum bisa dipindahkan ke sini. Menunggu pengaruh anastesi benar-benar hilang." Mata Zain berbinar-binar saat mengatakannya.
"Syukurlah...." Semua orang yang berada di sana kompak menarik napas lega. Beyza langsung memeluk Genta. Derya dan Dasen saling berangkulan.
"Kabari, daddy-mu. Cepat! Pasti dia khawatir sekali." Bae mengingatkan cucu-cucunya.
Dasen kali ini menghubungi daddynya. Lagi-lagi, belum sampai dua kali nada sambung, suara Darren sudah langsung terdengar di telinga titisannya.
"Dadd, mama sudah siuman. Mama baik-baik saja, Dadd. Mama sembuh." Dasen begitu bersemangat.
Darren pun langsung berdiri tegak. "Benarkah?" tanyanya, masih sedikit tidak percaya.
"Benar, Dadd," tegas Dasen.
Sarita bergegas menghampiri putranya. "Ada kabar apa, Darr?"
"Senja sudah siuman, Ma. Semua berjalan dengan lancar. Alhamdulillah...."
"Syukurlah... Tuhan masih mengijinkan kita semua untuk bersama. Semoga setelah ini, tidak ada cobaan sakit lagi untuk kita semua," harap Sarita.
Darren kembali melihat informasi terkini tentang kondisi cuaca. Masih belum ada perubahan yang menggembirakan. Setidaknya, Senja sudah baik-baik saja.
***
__ADS_1
Kini, semua hanya menunggu waktu Senja dipindahkan ke ruang rawat. Hasil tes kehamilan melalui tes darah, baru akan keluar besok. Karena selarut ini, mana ada petugas laboratorium yang bekerja. Saat menggunakan test kehamilan, hasilnya masih sangat samar. Sementara untuk USG, Sekar menolak. Dia tidak ingin melakukan sebelum semua pasti. Takut kecewa dan sedih melihat rahimnya yang kosong.
Beyza yang sebenarnya sudah kelelahan, tertidur di pangkuan Genta. Dasen masuk ke salah satu kamar yang ada di sana, karena Bae menyuruh dia tidak menampakkan diri di depan Sekar.
"Ajak Beyza tidur di dalam, Gen. Masih ada dua kamar lagi yang kosong. Asal jangan malam lertama di sini saja," ucap Bae, santai tapi mengena seperti biasa.
"Iya, Oma." Genta lalu membangunkan Beyza dengan cara mengecup kening istrinya itu dengan lembut.
"Gen...Gen...Mana ada Bey bangun kalau caranya begitu. Pencet itu hidung, baru dia bangun," cibir Baby De, yang hapal betul Beyza agak sulit dibangunkan.
"Jangan, Kak, kasihan." Perlahan, Genta memindahkan kepala Bey dari pangkuannya. Setelah itu dia berdiri, merapikan kaosnya sejenak, lalu menggendong Bey ala bridal style menuju kamar yang ditunjuk oleh Bae.
"Jomblo nggak boleh ngiri. Cepet cari sendiri," sindir Arham pada Derya dan Baby De yang kompak berdecih begitu melihat adegan barusan.
"Secepatnya, Oma," sahut Derya, begitu cepat dan penuh percaya diri.
"Astaga! Dalam satu tahun, apakah oma akan memiliki tujuh cucu menantu?" Bae menepuk keningnya sendiri.
Baby De terdiam. Jangankan menikah, calon saja tidak punya. Yang dekat pun tidak ada. Be menundukkan wajahnya, menyembunyikan rasa sedih yang menghampirinya.
"Menikah bukan sebuah perlombaan, De. Yang cepat akan dapat, bukan seperti itu. Waktu setiap orang menemukan jodohnya berbeda-beda. Kamu tidak bisa merencanakan kapan dan dengan siapa kamu akan menikah. Waktu Tuhan datang dengan sendirinya. Jangan khawatir, kamu masih muda, bahkan untuk menikah sepuluh tahun lagi. Siapa memang yang akan menanyakan? Jangan bebani dirimu dengan jodoh. Dia akan menemukan jalannya sendiri," tutur Zain.
Membunuh penantian yang terasa begitu lama, semua terus berbincang-bincang dengan berbagai pembahasan. Kini berganti Sekar dan Baby De yang istirahat di kamar. Sedangkan Dasen sudah bergabung dengan yang lain di ruangan rawat utama.
Sampai hari berganti, Senja belum juga dipindahkan. Orang-orang tertidur dengan posisi yang tidak teratur. Bae di atas bed penunggu di samping brankar yang ditiduri Arham. Zain, Derya, dan Dasen berserakan di sofa dengan posisi yang berbeda-beda.
Sampai ada seorang perawat datang, semua masih saja terlelap dan tidak sadar.
__ADS_1
"Mana ini yang namanya Dokter Zainan," gumam perawat, sembari memperhatikan tiga orang pria tampan di depannya.
Tanpa berpikir panjang, perawat itu dengan hati-hati menyentuh kaki Dasen. "Pak ... Pak ... Bu Senja, ingin berbicara dengan Bapak."