
"Ma ... siapa?" Beyza malah bertanya pada Senja.
"Tidak mungkin daddy, kan?" Senja balik bertanya.
Senja berjalan mendekati pintu, diikuti Beyza yang memegangi lengan mamanya. Di belakang Bey ada Genta yang memegang ujung kemeja kekasih hatinya itu.
Senja mengintip dari lubang kecil yang ada di daun pintu. Setelah mengetahui siapa yang ada di sana, Senja seketika memundurkan langkah.
"Daddy?" tanya Beyza.
Tanpa menjawab pertanyaan Beyza terlebih dahulu, Genta kembali disuruh masuk ke dalam kamar Beyza. Kedua anak itu pun langsung paham.
"Mama ke kamar, buruan!" Beyza mendorong mamanya.
Sebelum bel berbunyi untuk ke empat kalinya, Beyza segera membukakan pintu selebar mungkin. Terpampang nyata wajah Darren yang meringis kesakitan sembari menahan pinggulnya.
"Loh, kok sakit lagi?" Beyza membantu memapah Darren langsung ke dalam kamar.
"Tadi, Daddy bantuin anak kecil jatuh, sekali membungkuk. Sakitnya luar biasa. Daddy gak jadi ikut reuni," keluh Darren.
Senja yang pura-pura baru keluar dari kamar mandi segera menghampiri suaminya. "Astaga, Ask! Sepertinya Tuhan sedang menyelamatkanmu dari pesona mantan teman kuliah."
"Ask, jangan mengejek. Ini sakit." Perlahan Darren membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Iya Senja tahu, kamu sama Bey sebentar. Senja akan carikan sesuatu yang membuatmu lebih nyaman." Senja mengambil dompet di dalam tasnya.
"Eh, kamu mau ke mana malam-malam begini?" Darren terlihat khawatir dan langsung gelisah.
"Tiga gedung dari apartemen sini ada drug store, Senja pengen ngelemesin kaki. Di sini aman. Tenang saja." Senja mengedipkan matanya dengan genit.
Rayuan tidak mempan, karena Darren malah menahan pergelangan tangannya dengan kencang. "Kenapa tidak Bey saja?"
Senja tersenyum genit, menundukkan badannya mendekati daun telinga sang suami. Membisikkan sesuatu dengan sangat lirih.
"Benarkah?" tanya Darren.
"Iya. Kemarin lihat di sosial media. Belum ada di Indonesia, tapi di sini ada. Mau coba tidak?"
Beyza terheran-heran dan sama sekali tidak paham dengan obrolan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Ya sudah, hati-hati. Jangan lama-lama. Aku sudah tidak sabar." Kini Darren yang menaik turunkan alisnya.
Senja meninggalkan kamar dengan lega, dia segera membuka kamar Beyza, dan segera mengajak Genta keluar dari sana.
Kini, Genta dan Senja berjalan berdua menyusuri jalan. Keduanya memang benar-benar menuju apotik. Tapi sengaja memelankan langkah, agar banyak pembicaraan yang bisa dilakukan.
"Seberapa besar, Genta mencintai Beyza?" Senja mengamit lengan Genta yang tingginya sama persis dengan Darren.
"Tidak sebesar cinta Mama, tapi satu hal yang pasti, Genta rela melepas Beyza, hanya jika ada laki-laki lain yang dicintai dan bisa membuat Beyza bahagia." Genta menepuk-nepuk punggung Senja dengan manja.
"Menurutmu adakah laki-laki lain yang akan membuat Beyza sebahagia saat bersamamu?" Senja kembali bertanya.
Genta tersenyum penuh percaya diri. "Tentu saja tidak ada. Karena Beyza sangat setia. Terlalu lama kita berpisah, banyak teman laki-laki yang mendekatinya, tapi Beyza selalu menolak. Itu artinya, Beyza sudah terikat dan terpaut dengan Genta. Lagi pula kalung yang Genta berikan, tidak pernah dilepas sama sekali. Sama seperti ini." Genta mengeluarkan kalung liontin giok pemberian Senja saat mereka akan berpisah dulu.
Senja tersenyum lebar. Entah kenapa, dari awal, dia selalu berharap Genta memanglah jodoh Beyza. Kini memang bagaimana caranya bisa melembutkan hati Darren Mahendra.
"Ma ... ," panggil Genta
"Hmmmmm ...."
"Kapan Genta bisa bertemu dengan Om Darren? Genta siap menghadapi apa pun hinaan Om Darren pada keluarga Genta."
"Apa, Ma?"
"Ajaklah Bey pulang ke Indonesia!" Pinta Senja, wajahnya sangat serius saat mengatakannya.
"Kami akan kembali awal bulan depan, Ma. Sebelumnya sudah kami bicarakan." Jawaban Genta sungguh membuat Senja lega sekaligus bahagia.
Sampai di apotik, Senja meminta Genta agar menunggunya di luar saja. Karena ada sesuatu yang harus dia beli Juga selain Painless night glu alias koyo. Akan sangat memalukan kalau sampai Genta mengetahuinya.
Tidak seperti perjalanan saat berangkat yang dilakukan pelan-pelan, perjalanan pulang, Senja dan Genta dilakukan dengan kecepatan jalan yang normal.
Sampai di pintu apartemen, Senja menyuruh Genta untuk langsung pulang saja. "Tunggulah, kabar dari Mama. Berdoa jangan lupa, agar Allah melembutkan hati daddy-nya Bey."
"Terimakasih, Ma. Genta pamit. Tolong sampaikan pada, Bey." Genta mencium punggung tangan Senja dan juga pipi kiri kanan calon Mama mertuanya itu.
Senja buru-buru masuk ke kamar. Tidak terasa dia sudah menghabiskan waktu hampir satu jam. Pasti dia akan disambut dengan omelan kecurigaan.
"Kenapa lama sekali? Apa di sana ada yang ketamnpanannya melebihi Darren Mahendra?" dengus Darren.
__ADS_1
"Tidak ada sayang. Sepanjang jalan dan sepanjang pikiran, sudah dipenuhi dengan bayang-bayang kesakitanmu. Senja tadi hanya sedikit istirahat di bawah. Ternyata tidak sedekat yang kita lihat. Saat berjalan tidak sampai-sampai." Senja pura-pura mengeluh.
Beyza menggelengkan kepalanya dengan takjub. 'Mama memang yang terbaek. Totalitas tanpa batas. Mengharukan,' batinnya.
"Sudah pulang ya, Bey. Eh... Maksud Mama, kembali ke kamarmu, Bey, biar Daddy sama Mama." Senja sengaja salah bicara untuk memberi tahu bahwa Genta langsung kembali pulang.
Beyza tersenyum dan langsung meninggalkan daddy dan mamanya berdua saja. Senja segera mengunci rapat, pintu kamarnya.
"Ada?" tanya Darren dengan semangat.
"Ada, sini, Senja pasangin."
Darren dengan cekatan membuka kancing celana dan menurunkan semua yang menempel di bagian pinggulnya ke bawah.
"Ask? Aku cuman mau nempel koyo ini di pinggulmu yang sakit. Kenapa malah di buka semua?" tanya Senja dengan heran.
"Loh... yang kamu bisikan tadi?"
"Astaga! Ask, kamu kan sedang sakit. Bisa kan besok atau lusa kalau sudah sembuh." dengus Senja sambil perlahan menempelkan koyo di beberapa titik sekitaran pinggul yang sakit.
"Ask ...," panggil Darren.
"Iya, Ask."
"Lihat!" Darren menunjuk bagian tengahnya yang sudah berdiri tegak tanpa disentuh.
Senja menepuk keningnya. "Ask, kamu itu sedang sakit lho."
"Kan yang sakit pinggulnya," kilah Darren.
"Enggak, Ask! Libur! Makin parah baru tahu rasa, kamu." Senja menolak keras keinginan suaminya.
"Ayolah, Ask! Dosa tahu nolak keinginan suami," rayu Darren, pantang menyerah.
"Suami itu masih manusia. Yang punya pikiran dan juga napsu. Dia bukan malaikat. Yang setiap tindak dan ucapannya pasti benar. Tahan diri sebentar kenapa? Pernah satu bulan tidak ketemu, bisa kan nahan? Masa sehari saja tidak bisa?" Ketus Senja.
"Beda, Ask. Kalau dulu kan nggak kelihatan kamu langsung , aku bisa tahan. Sekalipun banyak godaan, lewat saja tidak aku lihatin. Karena cuma kamu yang luar biasa. Bisa membangunkan tanpa menyentuh. Aku bisa apa? Sudah takdirku begini. Kalau sudah lihat kamu, mana bisa menahan." Darren mulai memelas.
"Tidak! Aku yakin, pinggulmu akan lebih parah jika sampai kita mencobanya sekarang. Sabar! Atau Senja akan mengira kalau kamu hanya membutuhkan Senja untuk satu hal itu saja. Bahkan mungkin, melihat perempuan cantik di luaran pun kamu sudah seperti itu." Senja sudah sangat kesal dengan kengeyelan suaminya.
__ADS_1
"Ask! Jika kamu tidak mau. Cukup tinggalkan aku dan keluar ke kamar Bey. Kamu tahu, hanya dengan cara seperti itu, aku bisa diam. Aku paling tidak senang jika kamu menilaiku seburuk itu. Aku memang senang melakukannya. Terserah kamu menilaiku hyper. Tapi aku hanya bisa seperti ini denganmu." Darren memejamkan matanya dengan kesal.