Hot Family

Hot Family
Rencana apa lagi?


__ADS_3

Senja memeluk Zain begitu lama, padahal besok mereka akan bertemu lagi di Jogya. Tapi kali ini ada rasa yang berbeda. Tidak terasa air mata menetes dari pelupuk matanya.


"Jangan menangis, Ma. Besok kita sudah bertemu lagi." Zain mengusap pipi Senja yang basah.


"Mama bukan menangis sedih, Zain. Tapi Mama senang, akhirnya kamu menemukan perempuan yang bisa menemani dan berbagi segalanya dengan kamu." Kini Senja yang mengusap pipi Zain.


"Perempuan hebat yang pertama di hati Zain, tetap Mama." Zain kembali memeluk Senja.


"Dan jangan pernah membandingkan Sekar dengan Mama. Jangan sampai ya, Zain. Tidak di depan orang lain, atau di depan Sekar." Senja mengusap punggung Zain naik turun.


"Kita akan telat kalau kalian terus berpelukan seperti akan berpisah bertahun-tahun," sindir Bae.


Senja buru-buru merenggangkan pelukannya. "Sudah sana berangkat. calon opa-oma buyut, semua sudah tidak sabar." Senja melirik Bae dan Sarita dengan santainya.


"Lebih baik segera menjadi Oma buyut, ketimbang harus menerima cucu lagi. Keturunan Darren Mahendra, di kandungan saja sudah suka aneh-aneh," cerocos Sarita sembari masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.


"Premium sejak berupa sebongkah darah," sahut Darren.


Bae yang masih menunggu gilirannya naik ke mobil, langsung menepuk pundak Darren dengan keras. "Premium, tapi semua kamu ajari manja sama mamanya. Dasar, pimpinan premium sesat," ucapnya.


Darren hanya memanyunkan bibirnya sembari mengamitkan tangan di pinggul Senja.


Setelah mobil itu bergerak meninggalkan halaman rumah, pasangan suami istri itu pun kembali ke dalam rumah.


"Mau beli test pack tidak?" Peetanyaan Darren sukses membuat Senja mencebikkan bibirnya.


"Tidak perlu. Senja tidak hamil, mereka pasti mengada-ada. Setua ini, kalau mau dibuahi, sel telurku pasti sudah pintar menghindar sendiri. Dia sudah sangat mengenali kecebong nakal yang masuk ke sana." Senja ingin mempercepat langkahnya, tapi suara mesin kendaraan, membuatnya kembali menoleh ke belakang.


"Siapa yang datang?" Tanya Senja.


"Mana aku tahu, Ask."

__ADS_1


Keduanya kembali berjalan ke luar pintu utama. Langkah mereka yang pelan, didahului begitu saja oleh Beyza. Putri satu-satunya Darren itu terlihat sangat bersemangat.


"Bey, itu tamumu?" Tanya Senja, langkahnya terhenti.


"Tentu saja tamu kita semua. Kang Genta Mas Menggala sudah datang."


Jawaban Beyza membuat Darren berbalik badan dan menarik tangan sang istri untuk kembali saja ke dalam. "Tidak penting."


"Penting, Ask! Ingat! Kita tidak boleh kecolongan lagi Mulai sekarang, kita akan menjadi security untuk anak-anak kita." Senja menahan tangan suaminya.


"Tidak perlu sampai sebegitunya, Ask. Mau kita jaga seperti apa di rumah. Kalau di luaran mereka berani melangkah jauh, kita bisa apa? Anak itu pasti punya apartemen, paling tidak uangnya cukup buat menyewa kamar hotel. Bagaimana coba?"


Pertanyaan Darren membuat Senja semakin khawatir. "Mulai sekarang kalau keluar rumah, Senja akan menemani, Bey." ucapnya.


Beyza dan Genta semakin mendekati kedua orangtua yang masih asik berdebat masalah jaga menjaga. Darren merasa istrinya berlebihan, padahal saat masih muda dulu, tentu Senja juga mengalami gejolak yang sama dengan anak-anaknya.


Genta mengucapkan salam dan langsung mencium punggung tangan Senja dan Darren satu per satu.


"Baik, sayang." Senja ingin memberikan pelukan hangat seperti biasa. Tapi tidak bisa, karena Darren memang sengaja menahannya.


Beyza mengajak Genta untuk masuk dan duduk di ruang tamu kedua. Ruangan di mana bisa melihat ruangan tengah dan lantai dua dengan lumayan leluasa. Darren dan Senja mengikuti keduanya dari belakang.


"Kamu ke atas dulu, nanti Senja akan menyusul," bisik Senja.


"Enggak, aku ikut di sini." Darren mengajak Senja duduk di sofa panjang di mana Beyza berada.


Beyza dan Derya saling bertukar pandang, merasa aneh dan juga heran dengan sikap kedua orang tua itu. Dulu waktu di Aussie, Rangga lah yang selalu menjadi orang ketiga mereka. Sekarang justru Senja dan Darren langsung.


Ruangan itu hening lumayan lama, Masing-masing hanya bicara melalui tatapan mata. Genta menjadi gelisah, beberapa kali dia mengubah posisi duduknya karena merasa salah tingkah.


"Jadi, kamu ke sini cuma mau diam-diaman, Gen?" Tanya Darren, suaranya memecah keheningan.

__ADS_1


"Tidak, Om. Saya mau memberikan pesanan Beyza." Genta menunjuk paper bag yang diletakkannya di lantai.


"Oh, berarti sudah kan? Terus apa lagi? Kamu kan baru datang, langsung ke sini, apa keluargamu tidak kangen?" Darren kembali bertanya dengan wajah yang sungguh tidak akan membuat orang nyaman berbicara dengannya lama-lama.


"Sudah, Om. Ehm ... besok Beyza mengajak saya ke Jogya ke pernikahan Kak Zain, apa boleh saya ikut, Om?" Genta bertanya dengan hati-hati.


Darren melihat ke arah Beyza, putrinya itu malah mengedipkan satu bola mata kepadanya. "Bukankah acaranya hanya untuk keluarga saja?"


"Genta akan segera menjadi bagian keluarga kita, Dadd. Kami akan menikah setelah Kak Zain. Biar tidak ada dosa di antara kita. Pasti Daddy dan Mama, tidak langsung tua seperti sekarang kan? Dulu pernah muda dan berpacaran juga. Saat berdua apa yang daddy dan Mama lakukan?" Beyza yang memang berani dan pintar bicara membalikkan pertanyaan.


Darren terdiam, dia tidak menjawab. Kenyataannya, pertama kali merasakan benar-benar berpacaran adalah bersama Senja. Saat itu Istrinya juga sedang hamil baby De.


Darren jadi malu dan ngeri sendiri. Sekarang dia dan Senja melarang. Padahal, dulunya mereka pernah tidur sekamar sebelum pernikahan.


"Kenapa diam, Dadd? Pasti Daddy dan Mama berciuman juga kan kalau lama tidak bertemu?"


Lagi-lagi pertanyaan Beyza membuat Darren dan Senja seperti salah kebijakan. Profesi sebagai pengacara, membuat Beyza menjadi semakin pintar melemahkan lawan.


"Iya, tapi tidak macam-macam. Tangan tidak ke mana-mana." Darren lalu memaksa Senja untuk naik ke atas. Istrinya itu sempat menolak, tapi Darren tidak peduli.


Melihat daddy dan mamanya menaiki anak tangga, Beyza pun mengambil napas lega. "Akhirnya."


Genta berpindah duduk di samping Beyza, tangannya mulai menggenggam tangan kekasihnya itu. "Kangen banget aku, Mbak."


"Aku juga, Kang." Beyza menjawab dengan lembut. Hilang cara bicaranya yang tegas, lugas dan mengintimidasi saat menghadapi kasus-kasus hukum yang ditanganinya.


Wajah mereka sudah mulai saling mendekat, tapi ponsel Beyza dengan suara dering untuk panggilan darurat berbunyi. Gadis itu pun segera menerimanya.


Genta memperhatikan raut wajah Beyza dengan serius. Dia tahu persis siapa yang menghubungi kekasihnya itu. Setelah lima menit berlalu, Beyza segera menarik tangan Genta.


"Kita harus sampai ke bandara sebelum Derya tiba. Keluarga Inez memang gila. Sebelum melawan daddy dan mama, mereka harus melewati aku dulu."

__ADS_1


__ADS_2