
Senja nampak heran dengan apa yang dilakukan Zain. Tidak biasanya kesedihan anak pertamanya itu begitu meluap-luap. Yang lain pun merasakan hal yang sama. Sekar, Darren, Derya dan Beyza, tidak kalah herannya dengan Senja. Semua mengabaikan ponsel Zain yang tergeletak di lantai begitu saja.
"Ada apa, Zain? Cerita sama kita, jangan buat bingung seperti ini," ucap Senja seraya mengusap rambut Zain.
Suami Sekar itu merenggangkan pelukannya. Mengatur napas dari isaknya yang sedari tadi membuat orang lain bingung. Zain menatap mamanya dengan sendu, "Kita harus bicara, Ma. Berdua saja." Zain menuntun tangan Senja menuju lantai dua, keduanya masuk ke dalam kamar Senja.
Sementara itu, yang lain masih di bawah dengan tanya yang semakin luar biasa. Darren kembali duduk di atas sofa diikuti Beyza dan Derya. Sedangkan Sekar yang baru menyadari keberadaan ponsel Zain, segera mengambil ponsel itu. Dia mengetuk layar dan memaksukkan kata sandi di sana. Seketika layar ponsel itu menampilkan fitur terakhir yang dibuka oleh sang suami.
Sekar membaca semua dengan teliti. Sama halnya dengan Zain yang mengulangnya beberapa kali, Sekar pun melakukan hal serupa. Perempuan itu menggelengkan kepala kuat. "Ini pasti salah," lirihnya.
Beyza yang sedari tadi memperhatikan Sekar, beranjak dan mendekati kakak iparnya itu. "Ada apa, Mbak? Apa Mbak mengetahui sesuatu? Apa yang ada di dalam ponsel itu hingga kalian menunjukkan reaksi berlebih setelah melihatnya?"
Pandangan mata Bey begitu menyelidik. Derya dan Darren hanya menyimak dari kejauhan. Kedua pria itu juga sedang menduga-duga dengan pikiran masing-masing.
"Tidak ada, Bey. Aku ke kamar dulu." Sekar buru-buru menghindar. Kalau pun apa yang dibacanya benar. Bukan hak nya sama sekali memberi tahu semua orang. Apalagi mengingat Zain yang lebih memilih berbicara empat mata dengan Senja. Tentu suaminya itu juga mempunyai pertimbangan sendiri.
Beyza mengedikkan pundaknya dan berbalik kembali duduk di samping daddy-nya. "Kenapa Kak Zain dan Kak Sekar aneh sekali. Ada apa sebenarnya? Apa Daddy tahu sesuatu?"
Darren memberikan senyuman tipis pada Beyza. "Semua pasti baik-baik saja. Mungkin kak Zain sedang butuh ditenangkan sama mama. Nanti kita akan tahu, entah mama atau Kak Zain yang akan bercerita."
Beyza sebenarnya masih belum puas dengan jawaban Darren. Namun mata Derya yang menatapnya tajam, membuat gadis itu mewurungkan niatnya untuk mengejar jawaban yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Derya mau ke kamar dulu," pamit Derya.
Darren menganggukkan kepala, sementara Beyza mengabaikan saudara kembarnya itu begitu saaja. Tinggallah Beyza dan Darren di ruangan itu.
"Daddy tidak naik?" Tanya Bey.
"Nanti saja, Bey. Daddy nunggu Kak Das dan Kak De pulang," kilah Darren. pria itu hanya tidak ingin mengganggu pembicaraan Zain dan Senja. Jelas tadi Zain mengatakan kalau hanya ingin berbicara empat mata saja.
Beyza pun menemani Darren berdiam diri di tempat favorit pertama saat berkumpul dengan keluarga. Tidak ada lagi percakaan yang dilakukan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Sesaat setelah memasuki kamar Senja tadi, Zain langsung kembali memeluk tubuh sang mama. Air mata kembali mengalir dari sudut matanya.
"Kenapa mama diam? Kenapa mama menyembunyikan dari Zain?" Tanya anak itu di sela isak tangisnya.
Keduanya lalu saling melepaskan diri dari pelukan. "Zain menjadi dokter spesialis kanker karena ingin lebih banyak menolong pasien yang yang mengidap penyakit itu. Bukan untuk menangani keluarga Zain sendiri."
Perkataan Zain seketika membuat Senja berpikir. Dia memilih dokter lain dengan maksud agar anaknya itu tidak mengetahui apa yang sedang menimpanya.
Zain mengajak mamanya duduk di sofa sudut ruangan. "Kenapa mama menemui Dokter Pratiwi?"
"Ehmm... Itu teman lama Mama. Buat apa kamu menanyakan tentang dia? Terus kenapa kamu tiba-tiba memeluk Mama histeris seperti itu?" Senja mencoba berkilah. Dia berharap arah pembicaraan tidak ke sana.
__ADS_1
"Bukan itu jawabannya, Ma. Please, Mama jujur. Zain berharap data peralihan pasien yang Zain baca hanya kesalahan. Dan keberadaan Mama di rumah sakit menemui Dokter Pratiwi hanya kebetulan." Zain menatap mata Senja dengan lekat. Dia melihat kecemasan dan sedih di sana.
"Dokter Pratiwi teman Mama. Memang kenapa? Apa maksud peralihan pasien, Zain?" Lagi-lagi Senja masih bersikeras untuk berbohong.
Zain menggelengkan kepala, mengusap wajah dari sisa aliran air mata yang sudah reda. "Senja Khairunisa Kemala, kanker ovarium stadium dua, memasuki kehamilan enam minggu. Apa itu terdengar seperti kebetulan, Ma?"
Senja seketika tergagap, merasa sudah percuma untuk berkelit. Perempuan itu tidak berani menatap Zain. Dia menundukkan kepala begitu dalam.
"Dokter Pratiwi mengajukan pelimpahan pasiennya yang bernama Senja pada Zain, itu Mama 'kan? Mama jujur sama Zain?" Zain mengangkat dagu perempuan yang melahirkannya itu hingga mata keduanya saling beradu.
"Mama takut, Zain." Senja berhambur memeluk Zain.
Suami Sekar itu bergeming. Kini dia berusaha sekeras tenaga untuk tidak menangis lagi, meski air mata mulai menggenang. Berkali-kali dia mengatur napasnya. "Zain lebih takut, Ma. Zain benar-benar takut. Zain tidak sanggup melihat Mama menjalani kemo dan yang lain. Zain tidak akan sanggup."
Senja semakin memeluk Zain dengan erat. Dia paham betul, anaknya itu memiliki trauma jika orang terdekatnya mengidap penyakit kanker. Kematian Rafli, begitu membekas di dalam pikiran Zain. Di mana Zain tahu persis kematian papanya terjadi akibat tidak ada pengobatan serius yang dilakukan.
"Tolong, jangan katakan apa pun pada adik-adikmu, Zain. Mama tidak ingin semua menjadi kepikiran dan sedih. Mama mohon," pinta Senja, sembari melepaskan pelukannya.
"Bagaimana dengan daddy?"
"Daddy tahu, Mama sudah memberi tahu kemarin. Mama tidak mau kamu menjadi dokter Mama. Biar Mama melakukan pengobatan di China. Di tempatmu dulu." Senja berdiri karena tidak tega melihat wajah Zain yang sendu.
__ADS_1
"Zain periksa kondisi Mama senin nanti, Mama harus mau. Setelah Zain tahu kondisi sebenarnya, kita tentukan langkah selanjutnya. Karena Mama sedang hamil, banyak hal yang harus kita pertimbangkan. Kita harus bergerak cepat, perkembangan kanker ovarium sangat cepat, Ma. Itu yang harus kita tahu dan tidak boleh kita remehkan. Mama tidak perlu menyembunyikan apa pun dari kami. Anak-anak Mama sudah dewasa. Mungkin kami tidak bisa mengurangi sakit fisik yang mama rasakan, tapi banyak hal yang bisa kita lakukan jika bersama. Bukankah dulu Mama pernah mengatakan. Biar pun sakit, tapi jika bisa bersama dengan orang dicintai, maka obat akan bekerja lebih maksimal."
Senja memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya sendiri. Andai kematian tidak meninggalkan luka pada orang terkasih yang ditinggalkan, sungguh dia ingin menyerah. Dia sungguh takut.