Hot Family

Hot Family
Dua jam menuju akad


__ADS_3

Di luar dugaan, tidak hanya Denok yang mengalami mual dan muntah. Sekar pun mengalami hal yang sama. Namun bukan karena mabuk laut, mendadak istri Zain tersebut tidak bisa menahan gejolak diperut begitu MUA ingin merias wajahnya. Baru saja MUA ingin mengoleskan foundation, Sekar sudah langsung berlari ke kamar mandi.


Satu hal yang aneh, begitu sudah menunduk di depan watafel, rasa mual itu menghilang. Sekar merasakan ketenangan dan kenyamanan yang luar biasa. Semerbak wangi pohon pinus yang keluar dari pengharum toilet, membuat Sekar seolah berada di tengah hutan pinus yang baru saja diguyur hujan. Sesegar itu rasanya.


"Dek ...." Suara Zain disertai ketukan pintu terdengar sayup di telinga Sekar.


Dengan enggan, Sekar mengayunkan kaki mendekati pintu dan membukanya. "Ada apa, Kak?"


"Kenapa lama sekali? Dua jam lagi acara Bey dimulai, kamu belum bersiap sama sekali." Zain mengingatkan Sekar dengan lembut.


Tanpa menjawab, Sekar melangkah kembali mendekati Mua yang sudah menunggunya. Dia duduk di bangku tepat di depan meja rias yang di kelilingi lampu. Tidak sampai hitungan menit, Sekar kembali merasakan mual luar biasa saat Mua mendekatkan beauty blender di wajahnya.


"Sebentar, Ce!" Sekar menepis tangan si MUA agar menjauh dari wajahnya.


Sekar menoleh pada Zain yang sudah kembali rebahan di atas bed sembari membaca sebuah buku. "Kak, boleh tidak Sekar nggak usah dandan. Kalau nggak males, nanti pakai lipstik saja," pintanya.


Zain langsung menurunkan buku yang dipegang sejajar dengan wajahnya, lalu dia menjawab pertanyaan Sekar begitu santai. "Terserah kamu, Dek. Mau dandan atau tidak, juga tetap cantik. Tapi jangan nyesel kalau lihat yang lain pada dandan."


Sekar mengangguk sembari tersenyum lega. Seperti terlepas dari siksaan panjang. MUA meninggalkan stateroom Sekar dan Zain setelah membereskan semua peralatan make up-nya.

__ADS_1


Bukannya bersiap, Sekar malah menyusul Zain merebahkan diri. Perempuan itu menutup badannya dengan selimut. Entah kenapa, dari kemarin dia hanya ingin bermalas-malasan. Jangankan merias diri, mandi saja sekarang dia enggan.


Zain malah salah menduga. Dia mengira Sekar sedang ingin digoda. Dengan semangat, anak pertama Senja itu meletakkan bukunya. Lalu segera memberikan serangan pada Sekar seperti biasa.


"Kak! Sekar mau tidur beneran. keluarin tangannya." Sekar dengan malas dan mata terpejam mendorong tangan Zain yang sudah berhasil menyusup ke dalam kain segitiga yang menutup tempat peraduan si tole.


"Aneh! Tumben nolak." Zain mengernyitkan keningnya.


***


Genta nampak mondar mandir di depan cermin berukuran setinggi badannya. Raut wajah calon pengantin pria tersebut tidak bisa menutupi kegugupan yang memenuhi hati dan pikiran. Bibir Genta tidak henti melafalkan ikrar akad tanpa suara. Ikrar yang secara kata tidak terlalu banyak dan sangat mudah dihafalkan. Namun, mengingat makna yang dalam dan tanggung jawab yang besar dibalik sederetan kata sederhana itu, mengucapkannya tentu tidak semudah saat mengucap hal yang lain. Rasa cemas akan salah ucap dan lain-lain, membuatnya tidak tenang. Apalagi Darren Mahendra langsung yang akan menjabat tangannya saat mengucap akad nanti. Tekanan menjadi bertambah berat. Betapa perfeksionisnya sang calon mertua, semua orang tentu sudah tahu.


Rangga yang sedari tadi menemani dan memperhatikan Genta hanya bisa mengulum senyum kebahagiaan. Hampir semua impian Genta terwujud. Itu yang paling melegakan. Besar tanpa didampingi sosok ibu, tidak membuat Genta tumbuh berbeda. Sebuah pencapaian luar biasa, baginya, dan bagi Genta sendiri. Pernikahan ini adalah perayaan sempurna untuk


Mendengar suara Rangga dengan samar, Genta seketika menghentikan kegiatannya. Dia lalu menghampiri dan duduk di samping sang ayah.


"Terimakasih, Yah. Terimakasih atas semua yang sudah Ayah korbankan. Genta seperti sekarang, semua karena Ayah."


Rangga memeluk Genta dengan erat. "Maafkan Ayah karena tidak bisa menjadi orangtua yang sempurna. Semoga kamu bahagia, dan jangan pernah lupakan Ayah. Sesibuk apa pun, usahakan sering-sering menengok Ayah."

__ADS_1


Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Rangga. Di balik kebahagiaan, masih saja terselip kesedihan. Sebentar lagi, Rangga akan benar-benar sendirian. Kehidupan rumah tangga, belum lagi pekerjaan, tentu akan membuat Genta sangat sibuk. Dirinya mungkin bukan lagi prioritas. Sungguh sangat berat bagi Rangga. setelah dua puluh tahun lebih mencurahkan seluruh jiwa raga pada Genta, kini dia harus kembali terbiasa sendiri.


"Bagaimana mungkin Genta bisa melupakan Ayah? Sepanjang hidup Genta, Ayah sudah pertaruhkan semua. Ayah tidak menikah lagi, juga karena Genta. Entah bagaimana Genta bisa membalas semua kebaikan Ayah."


Rengga merenggangkan pelukannya. "Ada hubungan yang tidak bisa selesai, bahkan oleh kematian. Yaitu hubungan orang tua dan anak. Gen, meski Ayah ini bukan Ayah kandungmu. Bisa kah kita begitu? Bisakah kematian Ayah suatu saat nanti tidak memutus hubungan kita? Bisakah kamu tetap melantunkan doa seperti kamu melakukannya untuk Bunda Jingga dan Ayah Aris?"


"Ayah ini ngomong apa? Mungkin tidak ada darah Ayah yang mengalir di tubuh Genta. Tapi disetiap helaan napas dan langkah Genta adalah bentuk kasih sayang yang tulus dari Ayah. Tidak ada satu pun alasan yang bisa membuat Genta tidak memperlakukan Ayah dengan baik. Seperti yang Ayah katakan, hubungan anak dan orangtua tidak akan berakhir meskipun ada kematian yang menjarak. Kandung atau bukan, itu hanya status bukan?"


Rangga menarik napas begitu berat. mengajak Genta berdiri saling berhadapan. Kedua tangannya memegangi pundak Genta dengan tepukan yang mantap.


"Jangan berhenti membuat Ayah bangga padamu, Gen. Di pundakmu ini, sesaat lagi akan menangung tanggung jawab sebagai seorang suami. Tidak ada pernikahan yang mulus tanpa ujian, apa pun terjadi, berjanjilah pada Ayah, kamu akan menjadikan kebahagiaan Beyza adalah prioritas. Hadapi setiap masalah, jangan pernah lari dan diam. Belajar banyak dari kisah Ayah Aris dan Bunda Jingga, jangan mudah menunda menyelesaikan masalah. Hadapi berdua, jangan pernah beranggapan menyimpan permasalahan sendiri akan lebih baik."


Genta menganggukkan kepalanya. "Insya Allah, Ayah. Genta tidak akan pernah sanggup mengecewakan Ayah dan Beyza. Kalian berdua sangat penting. Kehadiran Beyza, tidak sedikit pun menggeser posisi Ayah di hati Genta. Kalian sama-sama menempati tempat yang teristimewa."


Keduanya kembali saling berpelukan. Hening, tanpa suara. Larut dalam perasaan masing-masing.


Di sisi lain, Darren terlihat duduk termenung merangkul pundak Senja dengan satu tangan saling menggenggam. Keduanya sudah hampir lima belas menit bertahan dengan posisi seperti itu tanpa ada pembicaraan berarti. Keberadaan mereka di balkon stateroom kali ini, seolah hanya untuk memandangi air laut.


"Ask ...," panggil Darren.

__ADS_1


"Hmmmm...."


"Apa aku boleh menangis di pangkuanmu?" Darren bertanya dengan tatapan berkaca-kaca.


__ADS_2