Hot Family

Hot Family
Di ruang ganti


__ADS_3

Zain berusaha melihat sosok perempuan itu lebih dekat. Dia langsung menutup mulutnya sendiri begitu mengetahui dugaannya benar.


"Mau dibawa ke rumah sakit mana, Pak? Saya tahu keluarganya. Saya kenal ibu ini. Saya akan membantu menghubungi keluarganya." Zain bertanya dengan tegas.


Setelah mendapat jawaban dari awak ambulan, Zain segera berlari kembali ke mobilnya. Dengan napas terengah-engah, Zain menepuk bahu Dasen. "Kecelakaan, korbannya ibunya Denok."


Senja dan Dasen seketika menegakkan posisi duduk mereka. Berbeda dengan Beyza dan Darren yang biasa saja saat mendengar Zain menyampaikan informasinya.


"Ibu yang mana?" tanya Dasen.


"Ibu yang melimpah," jawab Zain.


"Sini, Kakak saja yang setirin. Kamu hubungi Denok. Ibunya akan dibawa ke rumah sakit Perminyakan pusat." Zain langsung turun dan memutari kap mobil depan untuk bertukar posisi dengan Dasen.


Tidak peduli dengan tatapan mata Senja yang dingin. Dasen langsung menghubungi Denok. Zain memundurkan mobilnya, memutar arah, menuju jalan lain yang bisa dilewati.


Beyza dan Darren benar-benar merasa masa bodoh. Sedikit pun keduanya tidak ingin tahu. Beyza merasa tidak kenal dengan orang-orang yang disebut. Melihat daddy-nya yang malah memejamkan mata dan bersandar santai di kaca mobil, menyiratkan kalau yang membuat Dasen ribet sendiri itu, tidak penting sama sekali.


Senja kembali memundurkan badannya, dia tidak memberikan pertanyaan atau pernyataan apapun untuk Dasen.


Zain melalui jalan yang melewati rumah sakit di mana Erika dilarikan. Dasen meminta untuk diturunkan di sana.


Senja memalingkan wajah saat Dasen berpamitan padanya untuk menemani Denok di rumah sakit. Tidak ada jawaban keluar dari mulutnya.


Dari sini, Beyza mulai sedikit tertarik. Dia mengirimkan signal bertanya pada Zain, tapi kakaknya itu kembali fokus melajukan kendaran yang mereka tumpangi menuju tempat designer.


Denok sudah berada di depan ruang UGD sendirian, Mbah Gondrong belum juga datang. Denok terlihat murung, dia duduk dengan tatapan kosong.


"Nok." Dasen berjongkok di depan lutut kekasihnya itu persis.

__ADS_1


Wajah Denok terlihat sendu meski tidak ada air mata yang membasahi pipinya. "Aku malu sekali, Mas. Tadi pagi, ibu bertengkar dengan bapak. Karena bapak mengetahui kalau ibu ternyata sering menjual diri di luar. Ibu diusir dari rumah, entah tadi siapa yang menjemput ibu. Aku malu, tapi aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin pura-pura tidak peduli atau meninggalkan ibu sendiri."


Dasen mengusap punggung Denok naik turun, menyalurkan sedikit ketenangan pada kekasihnya itu.


"Bapak tidak mau ke sini. Karena bapak juga sudah mentalak ibu. Yang keterlaluan itu memang ibu, tidak tahu diri dan senangnya bikin dosa terus." Kekesalan sangat kentara terdengar dari mulut Denok.


"Sabar, Nok." Hanya itu yang bisa Dasen ucapkan.


Seorang dokter dan dua orang perawat keluar dari dalam ruangan di mana Erika dirawat. Denok dan Dasen buru-buru menghampiri mereka.


"Bu Erika masih belum sadarkan diri. Kami akan memindahkan ke ruangan intensif karena kami harus melakukan pemeriksaan yang detail pada bagian kepala," jelas Dokter.


"Baiklah, Dok! Lakukan saja yang terbaik." Dasen yang menyahuti. Karena dia melihat Denok sangat kebingungan.


Dokter dan perawat pun kembali memasuki ruangan UGD.


"Aku harus membayar pakai apa, Mas? Kenapa ibu masih bisa selamat? Kenapa ibu tidak mati saja? Seumur hidup, ibu hanya memikirkan kesenangan sendiri. Sekarang, haruskah aku susah lagi karena ibu?" Denok berdiri menghentakkan kakinya. Kesal, sedih, khawatir dan marah berbaur jadi satu.


"Biar aku yang menanggung biaya perawatan ibumu, Nok. Sejahat-jahatnya ibumu, jangan berucap seperti itu. Ada masanya, orang akan kembali pada jalan kebaikan. Berdoa saja ibumu akan menyadarinya." Dasen menatap lembut Denok.


"Aku ini ingin sekali bersyukur mendapatkan kamu, Mas. Tapi aku malu. Harusnya aku tahu diri. Kalau kamu yang membayar, apa kata Bu Senja nanti. Beliau pasti akan semakin tidak menyukai kami." Denok mengucapkan itu dengan suara bergetar.


"Mamaku tidak seburuk itu, Nok. Ada beberapa hal yang sebenarnya bisa ditoleransi sama mama. Kalau mamaku setega yang ada dipikiranmu, tentu kamu sudah tidak bisa bekerja di kantornya." Dasen memijat pelipisnya, kepalanya semakin terasa berat dan tidak enak, tenggorokannya pun semakin gatal.


Denok kembali duduk di samping Dasen. Kini, dia tidak tahu harus berbuat apalagi selain menunggu kabar selanjutnya dari dokter.


"Aku urus administrasinya dulu," Dasen berdiri dan langsung berjalan menuju gedung utama di mana layanan untuk mengurus administrasi itu berada.


Sementara itu, Darren sedang berada di dalam satu ruangan bersama Senja, mencoba setelan tuxedo yang akan dipakai saat acara pernikahan Zain nanti.

__ADS_1


"Senja malas mengatakan ini. Tapi kamu memang ganteng, Ask." Senja membantu Darren mengancingkan kancing kemeja yang baru saja dikenakannya.


"Kamu sudah mengakuinya sejak pertama bertemu denganku dulu. Hanya saja, kamu gengsi. Aku baru tahu, ternyata ada seorang janda yang lebih jual mahal dibanding perawan." Darren mengecup kening Senja sekilas.


"Harusnya seperti itu, kami sudah tahu semua rasa dan gaya. Jelas value kami lebih tinggi," Senja menimpali dengan santai.


"Berani mencoba di sini?" Darren menahan tengkuk leher Senja dengan lembut sembari mengikis jarak wajah keduanya.


"Jangan gila, Ask! Ingat umur! Kelakuan harus dijaga." Senja tanpa sadar malah merapatkan tubuhnya pada sang suami, tangannya perlahan meremaas lengan kekar itu. Hangat sapuan napas Darren membuat tubuhnya menerima, meski mulutnya menolak.


Di sisi lain, di tempat designer yang sama, Zain dan Beyza masih setia menunggu kedua orangtuanya. Padahal Zain yang mau menikah, tapi Darren yang lebih cerewet memilih tuxedo yang akan dikenakan.


"Daddy nyobain baju atau bikin baju sih," sungut Beyza.


"Kayaknya ngelepasnya gampang, makainya yang susah,Bey. Tahu kan?" Tanya Zain, dengan santainya.


"Iya sih. Tahu banget. Kita bukan bocah yang harus dititipkan Ibu Ulfa dan Mbak Wati lagi." Beyza menyebut dua nama pengasuh mereka yang sering tiba-tiba menjadi teman mereka bermain saat mama dan daddynya itu tiba-tiba menghilang.


"Eh, Kak, berarti yang kecelakaan tadi calon mertuanya kak Das?" Beyza baru saja teringat kalau dia ingin bertanya tentang ekspresi mamanya.


"Betul. Sekaligus entah apanya daddy. Yang pasti perempuan itu masih mengejar dan genit sama daddy," jelas Zain dengan singkat.


"Oh, Pantes," ucap Beyza.


Keduanya kembali sibuk dengan ponsel masing-masing sembari menunggu kemunculan kedua orangtuanya.


Hampir 15 menit menunggu dari waktu terakhir Beyza dan Zain saling berbicara. Yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul tanpa dosa. Wajah Darren lebih sumringah ketimbang saat masuk ke dalam tadi. Sementara Senja menepuk lengannya karena merasakan sedikit pegal.


Setelah urusan dengan designer beres, mereka langsung kembali ke rumah. Sepanjang jalan, hanya suara Zain dan Beyza yang terdengar. Senja dan Darren sudah memasuki alam mimpi akibat keenakan dan kelelahan mencoba sensasi baru di ruang ganti.

__ADS_1


__ADS_2