
Akhirnya Sekar dan Zain sampai di hotel juga, keduanya langsung ke kamar Zain untuk bersiap-siap menghadiri acara makan malam keluarga yang masih akan berlangsung satu jam lagi.
Zain langsung mencari amplop pemberian Darren, dan langsung membukanya dengan tidak sabar. Ternyata, sebuah kunci kamar yang berbeda dengan yang mereka tempati sekarang. Di bayangan Zain, kamar yang tidak biasa sudah disipakan sang daddy untuk melancarkan malam panjang bersama Sekar.
Anak pertama Senja itu memeluk istrinya dari belakang, lalu menghujani punggung istrinya dengan kecupan bertubi-tubi. "Masih ada waktu."
"Kak, Sekar sih tidak masalah. Tapi sungguh Sekar khawatir, kemasukan Tole untuk pertama kali, membuat cara berjalan Sekar berubah. Jadi lebih baik nanti saja ya. Jadi kalau pun harus berubah cara jalan, besok lebih aman ketimbang malam ini," ucap Sekar sembari membalikkan badannya dan mengalungkan tangan di leher sang suami.
"Kamu benar. Sekarang, biar aku berikan sedikit kesenangan dulu padamu. Kita tidak mungkin menunggu waktu dengan hanya diam, bukan? Darren Mahendra bisa menangis kalau tau anak pertamanya tidak kreatif dan sangat pasif." Tangan Zain mulai melepas pengait kacamata berenda milik Sekar.
Bibir keduanya sudah bertautan dengan sempurna, saling berbalas menyesap dan melilit lidah dengan sempurna. Tangan Zain juga sudah begitu aktif memainkan bagian dada Sekar yang membuat sang pemilik mengeliat. Pucuk kecoklatan yang dimainkan Zain semakin mengetat, pertanda sang pemilik sudah benar-benar melayang.
Zain menjatuhkan tubuh Sekar ke atas ranjang membuka bagian atas baju istrinya itu dengan lembut, lalu memindahkan bibirnya ke bagian dada itu. Sekar mereemas kepala Zain dan mendorongnya lebih dalam menyesap sesuatu yang membuatnya melenguuh pasrah.
Tangan pria itu pun tidak tinggal diam. Meski tidak sampai masuk ke celah sempit impiannya, dia tahu pasti gerakan jemarinya sudah cukup membuat Sekar mengeluarkan desiran yang melegakan.
Rengekan Sekar membuat Zain mempercepat semua gerakan tangan dan bibirnya. Perempuan itu mengeliat hebat, hingga perutnya merasakan kaku, lalu diikuti desiran halus melegakan tapi membuatnya ingin mendapatkan sensasi itu lagi dan lagi.
"Kak, gantian, yuk!" Sekar mendorong tubuh Zain yang sudah leluasa bermain di atas tubuhnya.
Rasa penasaran sungguh membuat Sekar sedikit tidak sabar. Dia mengarahkan Si Tole yang sudah dalam posisi maksimal ke dalam mulutnya. Percobaan pertama, membuat dirinya sedikit ingin muntah, tapi dia berhasil menahan diri karena tidak mau membuat mood sang suami berubah. Percobaan kedua, sungguh dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa, bibirnya mendadak penuh, ketat dan melebihi kapasitas yang ada. Sekar pun melepasnya kembali.
__ADS_1
Zain menunggu dengan santai, dia sudah membayangkan kalau Sekar pasti akan mengalami hal ini untuk pertama kalinya.
"Santai saja, jangan buru-buru, nikmati, ikuti kata hatimu. Jangan dipikirkan," bisik Zain.
Karena merasa belum sanggup jika harus menggunakan mulutnya, Sekar pun kembali memanfaatkan tangan mungilnya. Memainkan dengan penuh perasaan, sungguh Sekar masih meraba-raba, dia belum tahu bagaimana cara pasti yang bisa membuat suaminya mengeliat. Zain ingin menuntun Sekar, tapi takut istrinya akan merasa bodoh. Maka dia membiarkan istrinya, menemukan dan mempelajari sendiri secara alami.
"Kak, berasa tidak? Kenapa kakak terlihat biasa saja?" Tanya Sekar, akhirnya.
Zain menggeleng dengan jujur. "Mau diajari atau mencoba sendiri?"
"Sendiri saja, biar lebih tahu bedanya. Jadi kalau begini tidak berasa ya? Sebentar Sekar ubah dulu." Perempuan itu mulai berani mengetatkan genggaman yang tadinya memang seperti di permukaan kulit saja. Kini, Sekar bisa merasakan beberapa gelombang otot yang menonjol di genggamannya.
"Ini pasti beda," gumam Sekar, mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan lincah. Zain pun mulai mengeliat. Mendekati sesuatu ingin keluar dari Si Tole, gerakan Sekar melemah karena lelah. Zain mengambil alih, sembari meminta Sekar mendekatinya. Seolah tahu apa kebutuhan sang suami, Sekar menyumpal mulut sang suami dengan salah satu bagian dada kenyalnya.
Pintu kembali di ketuk. Dengan santai, Zain menaikkan celana dan memakainya dengan benar lalu menoleh ke arah Sekar yang sudah berlari ke kamar mandi. Pria itu membuka pintu tanpa ragu.
"Belum siap?" Senja bertanya dengan wajah senyum-senyum menggoda.
"15 menit lagi, Ma." Zain mengedipkan satu matanya
"Oke." Senja sangat memahami. Dia tidak akan mengomel kali ini. Senja pun kembali melanjutkan perjalanan menuju kembali ke salah satu ruangan hotel yang mereka pesan untuk makan malam.
__ADS_1
Di dalam lift, tanpa disengaja, Senja bertemu dengan Aleandro. Keduanya berdua saja di dalam sana. Sedikit canggung, karena Senja merasakan tatapan Aleandro sungguh sama dengan cara pria itu melihatnya puluhan tahun yang lalu. Saat Senja belum menikah dengan Darren.
"Aku akan bercerai dengan Chun. Berumah tangga dengan cinta yang pura-pura itu capek. Aku menyerah." Aleandro memulai pembicaraan.
"Kenapa kakak harus berpura-pura? Bukankah kakak bisa mencoba mencintai? Hilangkan bayang-bayang kak De. Sudah ada si kembar, dan kakak masih mempermasalahkan cinta?"
Pintu lift seharusnya sudah terbuka, tapi Aleandro sengaja membuatnya tertutup dan memencet angka tertinggi di gedung itu. Senja tidak ingin protes, dia memang butuh berbicara dengan Aleandro.
"Hubungan badan bisa kita lakukan tlanpa perasaan cinta sekali pun, Nja. Kamu tahu persis itu. Bersama Chun, setiap detik aku berharap agar bisa mencintainya, bukannya aku tidak mencoba. Aku pernah terlena, merasa dia begitu mirip denganmu. Tapi semakin ke sini, dia berubah atau mungkin beginilah aslinya Chun," keluah Aleandro.
"Tidak ada sikap yang sama, kak. Dalam perjalanan pernikahan, tentu ada yang berubah. Dari kita tanpa kita sadari, atau dari pasangan. Keadaan berubah, tidak mungkin kita bersikap sama. Apa kakak tidak malu pada De, pada si kembar? Sebentar lagi, mereka akan menemukan pasangan mereka masing-masing. Lalu mereka malah menghadapi kenyataan orangtua mereka pisah?"
Aleandro menatap Senja semakin dalam. "Kehidupan kami, tidak sesempurna kamu dan Darren. Semua yang Darren inginkan, ada di kamu. Aku? Kamu tahu pasti, aku berharap Chun Cha itu siapa."
"Kak, pikiran kakak yang salah. Kenapa kakak tidak bisa melihat Chun sebagai Chun secara utuh? Tidak hanya sebagai istri kakak, tapi juga sebagai sosok Ibu dari anak-anak kakak?"
"Dia tahu dari awal aku memandangnya seperti apa, kami selalu membicarakannya. Aku menceraikannya, karena aku tidak ingin menyakitinya lebih jauh lagi." Aleandro mencoba meraih tangan Senja dengan posisi yang hanya berjarak selangkah, tapi bersamaan dengan itu pintu lift terbuka.
"Aku tidak seberuntung Darren, Nja. Dia memilikimu secara utuh. Aku hanya menyimpanmu dalam angan. Aku tahu ini tidak pantas, aku minta maaf. Seolah perasaan ini merendahkanmu. Tapi aku tidak bisa bohong. Aku masih mengagumimu," bisik Aleandro sembari menahan pintu lift agar tidak kembali tertutup.
Jarak dan posisi Aleandro dan Senja membuat yang melihatnya sedikit salah paham. Pria itu seketika menarik tangan Senja dengan posesif.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan bersama Al di dalam sana? Kenapa sedekat itu?"