Hot Family

Hot Family
Makan siang


__ADS_3

"Se--Sekar." Inez menyapa Sekar dengan suara terbata.


"Kamu sakit?" Selidik Sekar, sementara itu Zain fokus menatap lelaki di samping Inez dari atas sampai ke bawah.


Tidak seperti Inez yang nampak sangat tidak nyaman, lelaki itu nampak biasa saja. Dia bahkan membalas tatapan Zain dengan sebuah senyuman.


"Apa mereka temanmu, kenapa tidak memperkenalkan aku pada mereka?" Pertanyaan lelaki itu terdengar di telinga Zain dan Sekar.


Inez buru-buru mengajak laki-laki itu pergi tanpa menjawab sepatah kata pun. Zain dan Sekar tidak berniat mengejar. Keduanya saling bertukar pandang. "Kita hubungi Derya dan Beyza, penyelidikan mereka sampai mana? Dan apa saja yang sudah mereka ketahui. Sepertinya nanti malam Derya akan datang, dia ada meeting di Jakarta besok pagi," tutur Zain.


"Baiklah, tunggu nanti dia datang saja. Hmmm... Kayaknya mama sudah pulang, kita sampai lupa kalau tadi mau ngejar mama." Sekar mengamit tangan Zain, keduanya kembali berjalan ke arah lobby rumah sakit.


Zain menoleh ruangan di mana tadi mamanya keluar. Dahinya mengernyit hingga kedua alis tebalnya menyatu. Jika sebelumnya, dia mengira sang mama sedang periksa kehamilan, sekarang tidak lagi. Mendadak perasaannya tidak enak. Dia menggelengkan kepala berkali-kali untuk menepis dugaannya sendiri.


"Buat apa mama menemui dokter spesialis onkologi ? Kenapa harus dokter lain, mama sendiri punya anak seorang dokter spesialis onkologi? Apa mama datang hanya untuk mengunjungi temannya saja?" Zain mulai menggunakan logikanya untuk bertanya-tanya.


Sekar menghentikan langkahnya, lalu merogoh ponsel dari dalam tasnya. Dia membuka notulen seminar hari ini. Dengan seksama mencocokkan daftar peserta yang daftar dengan peserta yang hadir.


"Dari rumah sakit ini, ada satu dokter yang sebenarnya sudah mendaftar, tapi tidak hadir, kak. Namanya dokter pratiwi. Mungkin hanya teman mama saja." Sekar yang langsung menangkap pikiran Zain, mencoba menghapus pikiran buruk sang suami.


Trauma masa lalu kehilangan sosok tercinta, dan juga pernah mengalami sendiri menjadi seorang penderita kanker, membuat Zain sedikit sensitif jika keluarga dekatnya menemui dokter yang sama gelarnya dengan gelar yang dia sandang.


Zain dan Sekar meneruskan langkahnya. Zain lebih banyak terdiam. Anak pertama Senja itu mempunyai logika dan pemikiran yang tajam. Bisa saja hari ini dia langsung bertanya pada Dokter Pratiwi untuk mencoba mengorek informasi, tetapi sebagai sesama dokter. Membocorkan informasi pasien jelas melanggar sumpah profesi. Zain merasa belum perlu melakukannya sekarang. Lebih baik fokus pada permasalahan Derya dan juga Inez yang selalu menyudutkan mereka di sosial media.


Di sisi lain, Dasen dan Denok sedang makan siang di resto yang berada tepat di samping kantor Mahendra Corp. Keduanya mencuri istirahat makan siang untuk menghabiskan waktu sebentarr. Untung saja, kantor keduanya memang tidak terlalu jauh. Meski tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki, tidak sampai 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan roda empat.

__ADS_1


"Nok, besok kamu ikut ke rumahku, ya. Ada acara di rumah. Mama yang mengadakan, tumben kita diperbolehkan mengajak pasangan masing-masing," ajak Dasen.


"Besok?" Denok terlihat kaget.


"Iya besok. Kamu ikut ya, sepertinya mama sudah pasrah dengan pilihan anaknya masing-masing," tutur Dasen.


Denok menatap Dasen, ingin mengatakan mau. Namun dia rasanya belum ada nyali untuk bertemu dengan Senja.


"Aku takut, aku belum merasa pantas," lirih Denok.


"Kamu baik, kamu berbeda dengan ibumu, itu sudah jelas. Mamaku lambat laun pasti mengerti. Kita mulai perjuangan kita besok. Siapa tahu, kehamilan mama membawa jalan buat kita." Dasen membangun sikap optimes pada diri Denok.


Denok kembali memperhatikan Dasen. Pria yamg sedang meneruskan makannya itu memang tampan. Terlepas dari sifatnya yang kadang sombong, sebenarnya Dasen sangatlah baik.


"Baiklah, aku mau, tapi aku harus pakai baju apa? " jawab Denok, akhirnya.


"Jadilah dirimu sendiri. Pakai baju yang membuatmu nyaman. Yang penting pakai baju," canda Dasen.


Denok tersenyum malu-malu mendengarnya. "Mas, boleh nggak ngomong sesuatu?"


"Boleh banget. Waktu kita hanya tinggal 10 menit. Manfaatkan dengan baik. Atasanmu sangat disiplin dan sayangnya aku tidak bisa membelamu."


Denok malah tertawa mendengar ucapan Dasen. "Aku tidak perlu dibela, mas. Lagian aku cuma tanya boleh tidak ngomong sesuatu, jawabannya malah panjang banget."


"Sudah, mau ngomong apa?"

__ADS_1


Denok menutup mulutnya sendiri, menyamarkan senyumannya yang malu-malu. Dia geli sendiri membayangkan sederetan kata yang ingin dia ucapkan.


"Nok, ayo ngomong. Waktu terus berjalan." Dasen mengingatkan Denok.


"Ehmmm... boleh pinjam tangannya gak?"


Dasen langsung memberikan kedua tangannya tanpa menjawab pertanyaan dari Denok terlebih dahulu. Gadis itu menggenggam tangan putih itu tanpa ragu.


"Aku tresno karo kowe, Mas. Tresnoku guedi tenan. Kowe iku marakno atiku tratap-tratap ora karuan."


Dasen mengernyitkan keningnya sembari menggaruk rambut. "Nggak ngerti artinya."


"Aku cinta sama kamu, Mas. Cintaku begitu besar sama Mas. Kamu membuat hatiku berdebar-debar tidak karuan." Denok menjawab lirih sembari menundukkan kepala karena malu.


Dasen terkekeh sembari berkata, "Kamu lebih pintar merayu dari pada aku."


Berbeda dengan Dasen dan Denok yang sedang dimabuk asmara, Genta dan Beyza yang juga sedang makan siang bersama, tidak terlalu terlihat bahagia. Pasalnya, besok Genta tidak bisa ikut datang ke acara yang diadakan Senja.


"Maaf ya, Mbak, aku tidak bisa datang. Karena Oma Diana juga sudah lama merencanakan acara ini. Aku tidak enak kalau tidak ikut datang. Lagian, kenapa mama mendadak sekali membuat acaranya." Genta mengatakannya dengan sangat hati-hati.


"Kok jadi nyalahin mama? Bilang saja kamu senang karena pasti ada Delia juga di sana," Dengus Beyza.


"Kok nuduh begitu? Kan Delia bukan saudara, jadi nggak mungkin dong dia ada di acara keluarga." Genta mengatakannya tatapan dan suara yang sama-sama lembut.


"Aku nggak mau tahu, pokoknya besok harus datang. Mau sampainya jam 12 malam, pasti aku tunggu. Tidak menerima alasan berbentuk apa pun."

__ADS_1


Genta tersenyum tipis penuh misteri. Sudah dia duga, pasti reaksi Beyza akan seperti itu. Tidak ada yang bisa mengeluarkan seluruh sisi lain Beyza selain dirinya. "Kita lihat besok." ucapnya dengan enteng.


__ADS_2