I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 9


__ADS_3

Arsean mengobati luka Vanilla terlebih dahulu baru ia mengobati lukanya, Vanilla menatap Arsean pria itu masih sama tatapan datarnya dan sikap dinginnya yang acuh tak acuh terhadap dirinya. Tanpa di sadari air matanya turun dengan gerakan cepat Vanilla menghapus air matanya mencoba untuk terlihat kuat di hadapan Arsean. Arsean masih nggan memecah keheningan di antara Vanilla, Arsean tau jika Vanilla kaget dia dirinya bukan orang yang kuat kenapa dia harus pura-pura untuk terlihat kuat di hadapan Arsean.


Arsean yang telah beres dengan lukanya membawa kotak P3K itu, mereka kini tengah di atas kapal pesiar pribadi Arsean tentu saja dengan alasan yang pertama ini jauh dari daratan yang membuat Vanilla tidak bisa kabur, yang kedua karena mereka mencoba mengalihkan perhatian dari polisi. Vanilla terus saja menatap keluar kamarnya, dia terlalu malas jika harus berdebat lagi, Arsean yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Vanilla seperti itu terdiam.  Dia tidak tau harus berbuat apa karena Arsean tidak mengerti Vanilla, Arsean juga masih di kuasai oleh amarah terlebih ketika ia mengingat bagaimana Vanilla membalas ciuman Arga.


Arsean duduk di hadapan Vanilla, Arsean menatap Vanilla dan Vanilla pun kini menatap Arsean. Tangan Arsean terulur menyentuh pipi Vanilla, Arsean mengunci tatapan Vanilla dan mendekatkan wajahnya hingga bibir Arsean menempel di bibir Vanilla.  Tadinya hanya menempel saja kini berubah menjadi sebuah *******, Vanilla tak membalasnya dia juga tidak memberontak hanya terdiam karena dia tahu dia hanya mainan tidak berhak untuk menolaknya. Vanilla pun hanya pasrah, pada dasarnya ia tidak bisa melawan sentuhan yang Arsean berikan “dimana lagi ia menyentuh mu ?” ucap Arsean yang masih menyiumi Vanilla. Vanilla masih diam tidak merespon ucapan Arsean ia memilih menutup matanya membiarkan pria itu berbuat sesukanya pada dirinya. Arsean dengan perasaan yang berapi-api kembali mencium Vanilla dan kembali tidak mendapatkan balasan dari wanita itu Arsean menggigit bibir bawah Vanilla.


“kenapa diam saja ?” bentak Arsean yang memberikan jarak lima cm saja dari Vanilla, Arin membuka matanya langsung berhadapan dengan tatapan Arsean yang terlihat marah, rahang pria itu kembali mengeras begitupun dengan wajahnya yang memerah entah itu karena nafsunya atau karena marah atau karena keduanya. “apa yang harus aku jawab ?” Vanilla membalas dengan dingin seperti yang biasa Arsean lakukan padanya, apa yang di lakukan oleh Arsean padanya sudah sangat keterlaluan.


Rasanya Vanilla ingin mengutuk pria itu bahkan memaki dengan hinaan sepuasnya, ia cukup sadar diri siapa dirinya dan Arsean. “apapun, seharusnya kau menjawab saya !” ucap Arsean menekan kan di kalimat menjawab  dia cukup muak dengan semuanya dari barang kliennya yang harus disita oleh polisi dan beberapa anak buahnya yang mati karena petempuran yang terjadi.


Begitupun dengan wanita yang berada di hapannya yang membangkang ini, ia tahu ia salah dengan mempertaruhkan wanita itu hanya saja Arsean tidak memiliki pilihan lain. “apa saja ? aku baru saja di jadikan taruhan oleh boss ku dan hampir di lecehkan oleh orang lain, dan kau marah seakan yang terjadi itu padamu ? aku ini manusia Arsean ! aku bukan barang yang akan diam jika diriku di perlakukan begitu buruk. Sudah cukup dengan kau yang selalu melecehkan ku, sudah cukup aku berpilaku seperti seorang simpanan dan seperti budak. Aku membenci mu, biarkan aku bebas dan pulangkan aku” marah Vanilla yang di ikuti dengan butiran air mata yang berjatuhan silih berganti, Vanilla berteriak di beberapa kalimat di akhir kalimatnya. Vanilla tidak bisa lagi membohongi bahwa ia sangat membenci dan jijik dengan apa yang di lakukan Arsean padanya sampai ia lupa bahwa ia hanya wanita yang di beli oleh Arsean. Bahkan dia merasa jijik dengan dirinya sendiri.


Arsean mendengarkan ucapan Vanilla, sampai ia merasakan sakit di hatinya rasanya tidak terima dengan apa yang wanita itu katakana apa sebejad itu yang dilakukan oleh Arsean ?. Arsean masih berada di posisi yang sama menatap wajah Vanilla dengan intes tampa melewatkan satu cm pun untuk ia lihat, mata Vanilla yang di basahi oleh air mata membuat Arsean terdiam.

__ADS_1


Bibir Vanilla bergetar ia masih ingin mengeluarkan semua yang ada di hatinya sampai akhirnya wanita itu mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar bukan menjadi tenang ia semakin tertekan terlebih posisinya yang berjarak sangat sedekat ini dengan Arsean.


“kenapa sekarang kau diam ? bukan kah kau ingin jawaban ? aku sudah memberikanmu jawaban jadi menjauhlah, kau menjijikan Arsean …..” sebelum Arsean mendengar kata-kata yang kembali mmenyakiti hatinya ia memilih membungkamkan mulut wanita itu dengan bibirnya. Vanilla kembali menutup matanya ia sudah tau bahwa akhirnya seperti ini, air mata Vanilla tak berhenti bermengalir menyalurkan bahwa rasa sakitnya. menarik bibir bawah Arsean dan menggigitnya tentu saja Arsean dapat merasakan gigitan itu. Ia membiarkan Vanilla melakukannya dari pada ia mendengarkan ucapan wanita itu. Gigitan itu setiap detiknya semakin kencang sangat bahkan sekarang merasakan rasa asin di bibir keduanya yang sudah jelas bibir Arsean mengluarkan darah, pria itu tidak meringis sama sekali masih menatap mata Vanilla yang terpejam namun, mengaluarkan banyak air.


Vanilla yang merasa ia keterlaluan melepas gigitan itu dan menjauh memalingkan wajahnya menghindari tatapan Arsean. Bahkan ia nggan menatap luka yang ia tinggalkan di bibir Arsean. “tidurlah” ucap Arsean setelahnya ia pergi meninggalkan Vanilla di kamar itu sendirian. Vanilla yang bodo amat memilih membaringkan dirinya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, mencoba menejamkan matanya berharap bisa langsung memasuki alam mimpinya. Namun, semuanya sia-sia karena sudah hampir satu jam ia mencobanya ia tidak bisa tidur malah menangis menumpahkan rasa yang menjadi benalu di hatiinya.


Dulu Vanilla tidak pernah merasakan hal  seperti ini, bolehkan Vanilla bilang jika ia merindukan masa bersama mantannya yang brengsek ituu ? seberengsekapapun ia pernah menemaninya memperlakukan ia dengan istimewah dan penuh cinta seperti keluarganya dulu. Entah bagaimana ia berubah “aku ingin mati saja” guman Vanilla dengan terus menangis dia menatap kearah jendela yang langsung kearah laut. Tanpa dia pikir panjang dia bangun dari tidurannya dan berjalan menuju jendela itu dia menerjang angin laut yang dan melompat ke arah bawah.


Sedangkan Arsean berpenampilan acak-acakan dengan botol minuman di tangannya terdiam mendengar ucapan Vanilla. Tiba-tiba saja diluar sangat berisik bahkan beberapa kali menggedor-gedor pintu kamarnya "Sial berisik sekali" teriak Arsean dengan berjalan dengan sempoyongan dia membuka pintu kamarnya disana sudah berdiri Samuel "wanita mu menyusahkan sekali dia melompat kelautan" Arsean kembali di buat sadar "dimana dia" Samuel menunjuk kearah sana yang sedang di kerumuni anak buah Arsean.


Arsean dan Vanilla sudah sampai permukaan. Arsean menarik oksigen dengan secepat dia bisa begitupun Vanilla yang berada dalam pelukan Arsean.


"Apa kau sudah gila hah ? Kau ingin mati ?" Arsean berteriak dia sudah terlanjur kesal dengan ulah Vanilla. "Yah jika aku bilang aku ingin mati apa yang akan kau lakukan" Vanilla gemetaran dia takut dan bingung dia tidak tau apa yang dia lakukan.

__ADS_1


"Kau benar-benar yah" Arsean muak dengan sikap Vanilla yang seperti anak kecil itu. Samuel dan anak buah Arsean yang lainnya menuru kan pelampung. Keduanya naik keatas tampa kata lagi Arsean meninggalkan Vanilla.


***


Ke esokan paginya Vanilla sudah terbangun di tempat tidurnya, tempat ini adalah arpatemen nya dulu. Tempat ia tinggal bersama pacarnya bagaimana ia bisa berada di sini ? itu yang masih menjadi pertanyaan di benaknya Vanilla. Ia menatap sekeliling tidak ada siapapun di meja kecil ada makanan dan note yang di tinggalkan.


“makanlah, aku sudah mengikuti ke ingianmu untuk mempulangkan mu. Namun tidak dengan hutang mu kau bisa kembali keperusahaan atau membayarnya suatu saat nanti” Begitulah isi surat itu, Vanilla menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Padahal ini yang ia inginkan tapi kenapa ia tidak merasakan lega tapi ia merasakan sedih di hatinya.


__________________________________________


[Jumat, 07 Januari 2022]


Author : Safira Aulia Hamidah

__ADS_1


Wtpd : Safira Auliya Hamidah


Instagram : Safira19989


__ADS_2