I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 16


__ADS_3

Disinilah mereka berada dimension milik keluarga De Lucania, di ruang keluarga yang di penuhi oleh anggota keluarga dan beberapa perawat dan dokter yang tengah mengobati Arsean dan Vanilla.


Mereka berdua tak luput mendapati luka terutama di bagian kaki yang banyak serpihan kaca dan kekacauan yang memungkin kan untuk melukai kulit mereka. "Wow, kakak ipar tadi itu kau sangat keren ! Bukan hanya cantik tapi kau juga sangat berani dan pintar dalam hal nembak menembak" suara yang berasal dari Jay Vanza sepupu dari Arsean itu memecahkan keheningan dan kecanggungan yang berada di ruangan itu.


"Aku setuju, kakak ipar tadi sangat keren seperti para aktor-aktor yang ada dalam film action" kali ini seolla De Lucania adik Arsean. Arsean sendiri sedari tadi menghembuskan nafas berat bisa-bisa keluarganya hanya membanggakan arin saja sedangkan ia juga ikut serta disana. "Bagaimana dengan keluarga mu ? apa kau tidak mengabarinya jika kau sudah menikah ?" tiba-tiba suara Sesepuh keluarga ini nenek Arsean Rain De Lucania bersuara membuat keheningan terjadi, Vanilla yang tadinya sedang bercanda gurau dengan sepupu dan adik iparnya seketika menunduk "aku sudah tidak memiliki orang tua bahkan kerabat, aku sebatang kara didunia ini" Vanilla berujar seperti itu sambil menatap lekat pada Arsean.


"Oh, Dear sorry. kami tidak mengetahuinya" Renata menghempiri Vanilla dan duduk disampingnya. "kakak ipar tidak perlu khawatir sekarang kita keluarga kakak, jadi jangan merasa canggung dengan kita" kali ini Seolla yang berucap, Vanilla mengembangkan senyumannya dia tidak menyangka jika keluarga De Lucania itu keluarga yang hangat.


Suasana di ruangan itu seketika berubah menjadi begitu berisik karena ucapan selamat, tak hayal dengan Arsean dengan Vanilla yang masih memikirkan penyerangan itu.


*****


Menjelang pagi semua anggota keluarga kembali kekamarnya masing-masing. Arsean memutuskan untuk kembali ke mansionnya tentu saja dengan Vanilla yang sekarang notebenya sebagai istrinya.


Selama perjalana mereka bungkam tak ada percakapan mungkin mereka terlalu lelah untuk membuka percakapan. Vanilla sendiri memilih memejamkan matanya mengistirahatkan dirinya yang terlanjur menguras abis semua tenaganya baik secara fisik dan pikirannya.


Arsean memerhatikan Vanilla dalam diam, pria itu melihat Vanilla yang masih mengenakan gaun pernikahan yang terlihat sudah usang dan tak lupa bagian bawahnya yang di gunting abis oleh wanita itu. Mobil telah berhenti berjalan menandakan jika perjalan mereka sudah sampai tujuan.


Karena Vanilla tak kunjung membuka matanya sejak 5 menit yang lalu Arsean keluar terlebih dahulu dan membuka pintu sisi yang di tempati oleh Vanilla.


Arsean mengendong Vanilla ala bride style jika di cerita picisan mungkin si pria akan memperlakukan dengan lembut ini tidak berlaku untuk Arsean pria itu mengangkat dengan kasar. Anehnya arin tidak terganggu sama sekali, sesampainya di kamar soobin segera menurunkan Vanilla dengan kasar setelahnya soobin segera berbegas menuju kamar mandi yang berada di kamarnya.


****


Mata arin bergerak tak tentu arah menandakan ia tidurnya terganggu, beberapa tetes air yang berjatuhan pada wajahnya yang semakin membuatnya terganggu perlahan arin membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia mendapatkan sesosok Arsean berada di atas tubuhnya dengan rambut yang basah dan telanjang dada. Bentar telanjang dada....

__ADS_1


Seketika kesadaran Vanilla terkumpul dan segera mendorong tubuh Arsean yang berada diatasnya sampai terduduk di ujung kasur hampir saja ia terjatuh.


"Apa yang kau lakukan ?" Tentu saja Vanilla was-was dengan apa yang Arsean lakukan, walau mereka sudah menikah tapi Vanilla tidak ada niat untuk memberikan hak sebagai istri pada umumnya karena ia hanya pengantin pengganti.


"Membangunkan mu" Arsean segera bangkit dari tempat itu menuju lemari. Jelas saja Vanilla masih bisa melihat tubuh Arsean yang telanjang dada itu menjauh Vanilla menarik nafas lega ketika pria itu pergi begitu saja.


"Bersihkan dirimu, kau sangat bau" Vanilla kembali di buat terkejut dengan pernyataan pria itu. Vanilla yang baru sadar jika dirinya tertidur dengan keadaan begitu kotor dan lengket.


Tampa pikir panjang arin segera pergi ke kamar mandi yang tadi dikenakan oleh Arsean.


****


"Wow, aku baru saja menikah dengan mu kurang lebih 10 jam tapi nyawa ku sudah hampir sirna" ucap Vanilla saat ia baru keluar dari kamar mandi dan bertemu tatap dengan Arsean.


"Saya sudah menyuruhmu untuk bersembunyi bukan ?" Itu bahkan lebih terdengar seperti penegasan di banding pertanyaan, tatapan Arsean masih datar dan dingin. "Yah hanya saja aku tidak mau menjadi janda setelah menikah 10 jam, bahkan itu joke yang sangat menggelikan" Vanilla menatap tajam kearah Arsean sebisa mungkin Arsean tidak tertawa mendengar penuturan Vanilla.


"Tentu saja, setelah melihat musuh dengan mudah membidig mu siapa yang tak akan ragu" Vanilla dengan santainya mengeluarkan pistol beserta beberapa benda tajam di tasnya.


"Saya bahkan tidak percaya kau akan dengan mudah berubah menjadi seorang beringas seperti tadi" jujur Arsean


"Ck, semua makhluk yang memiliki otak akan berubah dirinya ! Terlebih setelah ia mengalami penindasan" setelahnya hening menghampiri namun, tak bertahan lama setelah Vanilla menyelesaikan kegiatan membersihkan benda-benda berharganya itu.


"Aku ingin berbicara serius dengan mu" Arsean hanya menatap Vanilla menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya. "Kemarilah" Vanilla menatap sofa di sampingnya meminta Arsean duduk disana, tentu saja Arsean sedikit merasa terluka dengan harga dirinya. Baru kali ini ia di perlakukan seperti ini.


Dengan terpaksa Arsean duduk di sofa itu dan menatap Vanilla dengan serius, begitupun dengan Vanilla yang menatap serius walau dalam hati ia berdebar dan merasakan perasaan yang begitu gugup.

__ADS_1


"Aku akan mengajukan persyaratan dalam pernikahan ini" to the poin arin ia tak ingin berbelit-belit walau di dalam pikirannya sedang begitu rumit.


"Syarat ?" Ulang arsean sambil menaikan satu halisnya. "Yah, karena pernikahan ini bukan kehendak ku jadi aku ingin mengajukan persyaratan.... begini saja aku perjelas jika di dalam pernikahan ini aku lah yang paling di rugikan, jadi aku tidak ingin semakin di rugikan" Arsean mengangguk-ngangguk mengerti maksud Vanilla.


"Persyaratan nya, kau tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan pribadi ku dan akupun tidak akan ikut campur dalam urusan mu" Vanilla menatap Arsean yang terlihat sedang menimbang-nimbang.


"Selanjutnya" setelah menunggu sekitar 5 menit ia berpikir. "Selanjutnya?" Beo Vanilla yang tak mengerti. "Persyaratan nya" tentu saja itu membuat Vanilla semakin bersemangat berarti Arsean mensetujui persyaratannya.


"Kau tidak berhak melarang-larang ku untuk melakukan sesuatu yang aku suka" bukan tampa sebab Vanilla mengajukan pesyaratan itu ia hanya takut jika Arsean akan memperlambat pergerakannya untuk balas dendam.


Arsean mengangguk "selanjutnya" Vanilla berdemen ia mempersiapkan respon yang akan di berikan Arsean untuk persyaratan ini.


"Aku ingin tidak ada hubungan fisik dalam pernikahan ini" dan benar saja Arsean langsung menatapnya Vanilla dengan tatapan tajam, Vanilla menarik nafasnya kasar seharusnya ia tidak menyinggung hal ini jika tidak akh sudahlah Vanilla sudah pasrah.


"Kenapa harus tidak ada hubungan fisik ? Bukan kah sebelum menikah kita juga sudah melakukan nya ? Bahkan kau selalu berteriak kenikmatan ketika saya menyentuh mu" Vanilla benar-benar pasrah dengan ucapan tidak berakhlak dari Arsean, sebisa mungkin Vanilla menahan malunya.


vanilla membuang mukanya, sebisa mungkin ia tak berkotak mata dengan pria m*sum itu. Arsean berdiri dan berjalan mendekat Vanilla, arin dapat melihat dari ujung matanya saat Arsean mendudukan bokongnya tepat di sisi Vanilla.


"Sedang apa kau" arin menjauh dari Arsean, yang benar saja baru saja ia peringati agar pria itu tidak ada melakukan hal-hal yang merugikan dirinya, semuanya terlambat.


__________________________________________


[Jumat, 07 Januari 2022]


Author : Safira Aulia Hamidah

__ADS_1


Ig : Sfiranjk341


__ADS_2