
Keesokannya Vanessa dkk segera bersiap untuk latihan di apartemennya kembali, tetapi bukan gym. Mereka akan melakukan menembak,memanah dan boxing. Setelah selesai sarapan mereka segera turun dari lantai 3 dan menuju ke parkiran.
Mereka memakai mobil yang sama seperti kemarin, melesat menuju ke apartemen. Disana ternyata Sinta sudah menunggu kedatangan 4V. Sinta sebenarnya kesal karena ia sudah menunggu kedatangan 4V sangat lama, ya itu memang disengaja oleh Vanessa dkk.
"Sorry nunggu lama." Ucap viola
"Tidak apa-apa vio." Ucap Sinta. Viola pun tersenyum.
Viola sengaja menghubungi Sinta dan berteman dengannya. Mereka pun segera masuk ke apartemen tempat 4V berlatih senjata. Saat pintu apartemen terbuka Sinta dibuat lebih terkejut karena 4V menyimpan banyak senjata.
Sinta sedikit takut karena aura di apartemen itu mulai lebih dingin ditambah AC di apartemen itu sudah dinyalakan jadi lebih dingin. Vanessa memegang pistol dan mengarahkan ke papan.
Dorr...
Bidikan Vanessa benar-benar tepat di tengah-tengah papan lingkaran itu. Sinta yang melihat itupun menelan ludahnya kasar.
"Sin, lo berdiri di situ dong." Ucap Vanessa sambil tersenyum penuh arti.
Sinta menunjuk dirinya sendiri, 4V pun mengangguk. Sinta pun mendekat dengan kaki sangat bergetar, ia memakai dress warna ungu tanpa lengan. Viola dan vinda sudah selesai meniup balon. 1 balon Vanessa taruh diatas kepala Sinta dan Sinta harus memegang balon itu dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Dua balon lain Vanessa taruh di lengan Sinta yang menekuk ke atas. Satu lagi ia taruh di paha Sinta dan diapit paha yang lain. Vanessa menyeringai lalu memompa pistolnya.
"Jangan bergerak sin." Ucap Vanessa lalu membidik balon yang ada di atas kepala Sinta.
Sialan, gue dikerjai lagi. Batin Sinta
Dorr..
Badan Sinta rasanya lemas, untungnya Vanessa berhasil membidik balonnya, Sinta masih belum bernafas lega karena masih tersisa tiga balon lagi. Viola mengambil pisau dapur yang sedikit lebih kecil, lalu membidik ke arah balon bagian kanan lengan Sinta.
Sinta membelalakkan matanya karena viola memegang pisau, ia membayangkan jika pisau itu tidak tepat pada balon dan malah tepat di lengannya.
"Gue gak janji sin, soalnya dulu gue pernah ngelakuin ini malah pisaunya nyangkut di kepala orang." Ucap viola santai. Sedangkan Sinta sudah keringat dingin mendengar ucapan viola.
Viola membidik balon itu, saat ia rasa sudah tepat. Sinta menutup matanya rapat-rapat dan Viola pun melepaskan pisau itu dan.
Jlebb..darr...
"Ahh lo beruntung sin, karena pisau itu tepat di balon." Ucap viola santai.
__ADS_1
Vinda pun mengambil gunting bedah kecil yang ujungnya sangat runcing. Vinda tersenyum miring menatap Sinta yang sudah keringat dingin karena ulah mereka.
"Sin kalau ini salah tancap gue minta maaf ya." Ucap vinda santai lalu membidik sasaran balon di lengan kiri.
"Vinda, aku belum menikah dan belum merasakan ena-ena jadi jangan sampai salah tancap ya." Ucap Sinta sambil menutup matanya rapat-rapat. Sedangkan 4V yang mendengar ucapan Sinta pun benar-benar jijik. Vanessa mengisyaratkan pada vinda agar segera melepaskan gunting itu, vinda pun mengangguk.
Jlebb....dar...
"Rileks sin, tinggal satu doang." Ucap Vanya santai. Vanya menggunakan panah untuk meletuskan balon yang ada di paha Sinta.
"Vanya, masa depan aku tergantung di panah kamu." Ucap Sinta lalu kembali menutup matanya rapat-rapat. Vanya menyeringai lalu menarik anak panahnya dan...
Sreettt...Dar...
"Selamat sin, lo lolos kali ini." Ucap Vanya santai.
Lolos sih lolos, tapi badan gue lemas. Sialan mereka berani main-main sama gue. Awas aja akan gue balas kalian. Batin Sinta.
"Kita ke mall, untuk merayakan keberanian nona Sinta." Ucap Vanessa santai.
__ADS_1
"Sin kok lo bengong sih, ayo berdiri kita ke mall." Ucap viola. Sinta pun berdiri dan berjalan mendekati 4V dengan kaki yang sangat bergetar.