I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 18


__ADS_3

Vanilla baru saja kembali dari pertemuan dengan Kamal Tomlinson yang merupakan temannya itu, dia dikagetkan dengan kehadiran beberapa orang yang tidak Vanilla kenali di mansion milik Arsean. "ada apa ?" tanya Vanilla pada salah satu penjaga. "tuan sedang marah nona" Vanilla mengerutkan kening nya tidak mengerti yang dimaksud oleh penjaganya. Tanpa menimpalinya lagi Vanilla langsung masuk kedalam Mansion.


"Ada yang terjadi ?" Tanya Vanilla yang sudah menginjak ruang tengah disana ada Arsean yang tengah duduk di sofa tunggal dia tampak jika nafasnya kersenggal-senggal entah kenapa. "kau kemana saja ?" Vanilla mendudukan dirinya santai tak terlihat seperti biasanya akan ketakutan atau apapun. "bertemu dengan rekanku" Vanilla mengangkat tangannya sejajar dengan wajahnya dan menatap kuku yang baru saja di cat dengan warna hitam menampakan ke angkuhnya.


"Kau tau karena kau orang-orang yang di sandra kemarin mati, mereka b*unuh d*ri" ucap Arsean tersulut dengan amarahnya, Vanilla melayangkan tatapan terkejutannya pada Arsean, "semuanya ?" tanya Vanilla kepada seseorang yang berada dibelakang Arsean vanilla tak ada niatan untuk meladeni Arsean yang terngah tersulut amarah itu Vanilla kembali dengan menatap kukunya. "Tersisa satu nona" untung saja orang yang dibelakang saya mengerti dengan yang Vanilla tanyakan.


"Apa sudah mengeluarkan semua racun yang mungkin mereka gunakan untuk b*nuh d*ri ?" Vanilla mengalihkan atensinya pada Arsean seraya berucap dengan serkat. "s--sudah nona" terdengar terbantah-bantah Vanilla mengangkat kedua bahunya tak perduli. "Jika begitu antar aku kesana" Vanilla bangun dari duduknya, Arsean yang merasa dirinya tak dianggap dia menyulut tak suka pada Vanilla.


"Apa kalian diperkerjakan hanya untuk bersantai ? bagaimana kalian bisa selengah itu ?" Vanilla dengan intonasi yang dingin dan marah menatap anak buah Arsean yang menurutnya tak berguna, bagaimana bisa mereka berada di ruangan itu selama 24 jam tapi bisa kecolongan ke satu orang yang mereka jaga itu berhasil kabur. "Aku tidak ingin mendengar alasan kalian, dalam waktu 24 jam kalian harus menemukan orang itu kembali jika tidak kalian memang tidak berguna" Vanilla keluar dari ruang bawah tanah dengan raut kesalnya yang tak bisa dijelaskan. Arsean sendiri sudah tak mengikuti Vanilla.


***


Dua bulan lebih Vanilla menikah dengan Vanilla namun, Vanilla jarang sekali melihat pria itu ada di mansionnya jadi seperti sebelum-belumnya Vanilla melakukan banyak hal dan dia tak perduli sedikitpun dengan Arsean, dia juga masih kesal dengan anak buah Arsean yang nyatanya tak berguna tak menemukan sandraan yang dia inginkan. Ada untungnya juga untuk Vanilla tinggal di mension Arsean karena ia bisa berlatih dengan banyak peralatan olahraga yang ada di sini dan juga lapangan tembak untuk melatih target tembakannya.


Vanilla sudah tidak pergi kekantor Arsean lagi, paska menikah Vanilla mengajukan jika ia ingin keluar dari kantor dan biaya hidupnya di tanggung oleh Arsean. Arsean menyanggupinya jadi tak perlu sungkan bukan jika dirinya terus berlatih.


"Jika kau hanya terfokuskan dengan latihan fisik dan tembak mu tampa berlatih secara insting maka latihan mu selama ini akan sia-sia" tiba-tiba suara barinton yang Vanilla hafal milik siapa menyapa kupingnya dan membuat wanita itu berbalik mencari keberadaan pria itu.


Vanilla pria itu berdiri di belakang Vanilla dengan menggunakan dobok sebagai balutan tubuhnya hari ini, tentu saja itu membuat Vanilla heran biasanya pria itu akan menggunakan kemeja dan cerana formal baik itu hari biasa maupun hari minggu.


"Mari bertarung, ku ingin tau sejauh mana insting mu" Arsean sudah berdiri di hadapan Vanilla yang telah selesai meingikat sabuk hitamnya.


"Benarkah ?" Vanilla cukup terkejut dengan kebaikan hati pria itu, padahal Vanilla sendiri tidak pernah menjelaskan kenapa ia melatih fisiknya itu. Yah seperti di dalam perjanjian jika keduanya tidak boleh ikut campur dalam urusan masing-masing.


*****

__ADS_1


Keduanya sudah memulai pertarungan, tak jarang Vanilla kalah kelak saat pria jangkung itu melayangkan sebuah tendangan.


"Buruk sekali instingmu, itu akan memudahkan musuhmu untuk mengalahkanmu dalam beberapa menit" Arsean mengakhiri pertandingan itu ketika Vanilla dengan mudah terjatuh.


Arsean membenarkan dobboknya dan mendudukan diri di sisi Vanilla yang masih terbaring. Tak lupa pria itu mengambil sebotol air dan meminumnya dan menawarkan pada Vanilla tampa pikir panjang Vanilla ambil dan meminum air yang tersisa setengah itu dengan rakus.


"Satu minggu mulai dari besok saya libur, apa kau ingin saya membantu melatih mu ?" Lama keduanya bungkam akhirnya Arsean membuka suaranya terlebih dahulu. Vanilla menatap Arsean tak percaya apa pria ini sedang mendapatkan hidayah dari tuhan ? Benar-benar sebuah kejutan Vanilla membatin.


"Aku rasa tidak perlu, aku akan meminta temanku yang lain untuk membantuku" untuk kejadian terakhir kali ia merasa ngeri sendiri, kebaikan seorang Arsean itu harus di ragukan karena pasti ada apa-apanya di balik kebaiknya.


Seperti satu minggu setelah pernikahan mereka, Vanilla meminta daftar tamu undangan di pernikahan arin yang serba penuh kejutan itu. Vanilla bilang jika itu bersifat pribadi jadi ia tidak bisa membocorkannya.


Sebelum Vanilla keluar pergi dari ruang kerja itu Arsean berkata jika ia bisa membocorkannya pada arin asal wanita itu mau membantu Arsean.


Vanilla berpikir jika Arsean meminta bantuan yang biasa saja seperti diambilkan makanan atau minuman tetapi pemikirannya salah ketika Arsean menciumnya dan ******* bibirnya dan berakhir dengan kegiatan panas di sopa ruang kerja milik pria itu. Memikirkan itu Vanilla geli sendiri bagaimana bisa pria itu.


"Hmmm, tapi maaf sebelumnya Mr. De Lucania aku pikir tidak perlu dan terima kasih atas tawarannya" Vanilla mencoba bangkit dari duduknya ia berniat untuk menyudahi latihannya kali ini namun, sebelum wanita itu bangkit kakinya begitu nyeri "ahh" Vanilla kembali terduduk dengan cukup keras.


Arsean segera menatap Vanilla horor dab tajam, Vanilla yang di tatap seperti itu segera menatap kembali Arsean sampai pandangan keduanya bertemu. Keduanya menatap cukup lekat "kenapa ?" Vanilla melemparkan pertanyaan pada Arsean yang menatapnya dengan horor.


"Apa kau sedang mengoda saya ? Hmm" ucap Arsean dia akhiri dengan deheman yang dalam mampu membuat bulu kunduk Vanilla berdiri seperti melihat hantu saja.


"Ahhh.... ti--tidak bukan seperti itu" kenapa Vanilla menjadi begitu gugup hanya karena ucapan Arsean, oh tuhan rasanya Vanilla ingin menghilang saja dari tempat itu sekarang juga.


"Kau !!" Arsean menekankan ucapannya itu ketika mendengar ucapan wanita di hadapanya. Vanilla semakin salah tingkah ketika Arsean mendekatkan duduknya menghapus jarak dengan tatapan yang sulit Vanilla artikan.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, saya belum mengambil jatah saya beberapa bulan ini jadi ayo lakukan jika kau terus menggoda saya seperti itu tidak akan puas, sayang" di akhir kalimat Arsean membisikan di telinga Vanilla dan mulai menjilat daun telinga itu jarak keduanya telah terkikis dalam hitungan detik Arsean menarik wajah Arsean dan menyatukan bibir keduanya.


Keduanya saling ******* satu sama lain bahkan Vanilla telah mengalungkan kedua tanganya di leher milik Arsean. Tangan Arsean tidak tinggal diam sedari tadi ia telah memasukan kedalam pakaian Vanilla dan meremas pelan benda dibalik pakaian Vanilla itu. Tidak perlu di jelaskan lagi adegan apa yang akan terjadi setelahnya.


****


Arsean mengerang keras saat pria itu mencapai puncaknya dan mengeluarkan sesuatu didalam diri pada Vanilla. Nafas keduanya masih tidak teratur setelah latihan lebih panas di ruang gym itu.


"Sialan" umpat Vanilla ketika menyadari jika Vanilla selalu menumpahkan di dalam. Arsean yang mengetahui jika Vanilla menyumpatinya hanya tersenyum tantuan mereka belum terlepas.


"Awas menyingkir dari atas tubuhku" ucap Vanilla dengan dingin, bukannya menyingkir Arsean malah memeluk wanita itu dan mengubah posisi mereka membuat tubuh mereka miring dan saling bertetapan.


Arsean terdiam ia memilih menutup matanya pura-pura akan tertidur, Arsean tersenyum menyeringi ia menyingkirkan rambut Vanilla yang menutupi wajah wanita itu dan mendekatkan diri menciun kening wanita itu.


"saya puas dengan mu, apa lagi saat kau mend*sah nama saya" sialan itu sudah cukup mewakili jika Vanilla sangat benci dengan kalimat Arsean.


Arsean memeluk tubub arin dan menutup menggunakan baju dobbok miliknya dan ikut terpejam seperti yang di lakukan Vanilla. Tak perlu khawatir ini ada dimansionnya dan ada penjaga juga di luar ruangan jadi ia tak perlu khawatir.


__________________________________________


[Jumat, 07 Januari 2022]


Author : Safira Aulia Hamidah


Wtpd : Safira Auliya Hamidah

__ADS_1


Instagram : Safira19989


__ADS_2