
Lagi-lagi Vanilla terbangun di tempat yang berbeda dari sebelumnya dan dengan suasana yang ricuh. Vanilla memandangi setiap sudut yang gelap yang berakhir di sebuah gelombolan orang yang tengah rebut, Vanilla tak mengenali siapa mereka tapi ada satu orang yang Arin kenali yaitu Arsean.
Pria itu tengah berdiri berhadapan dengan seseorang yang tak di kenal Vanilla, kedua tangan Vanilla memegangi pistol dan wajah Arsean terluka. ‘apa yang terjadi’ pikir Vanilla ia masih menimba logika dengan apa yang ia lihat.
“oh nona manis kau sudah bangun” cemooh arga yang menatap sekilas Vanilla lalu kembali menatap Arsean yang sudah di kuasai amarah.
Rahang Arsean mengeras, tatapannya mendingin dan kedua tanganya semakin mengepal kuat pistol yang berada di tanganya. Arsean mengarahkan pistol tersebut pada Arga dengan sama cepatnya anak buat Arga mengarahkan pistol mereka pada Vanilla. Sontak saja Vanilla semakin membulatkan matanya, sialan sekali. Arsean menatap Vanilla sebentar sebelum akhirnya menunduk dan menurunkan pistol tersebut dari kepalanya Arga, sontak Arga dengan anak buahnya tertawa melihat Arsean yang menjadi lemah hanya karena seorang wanita.
“lihatlah kau menjadi begitu lemah karena wanita, wanita memang sialan” cemooh Arga dengan menatap gentir Arsean yang kini sudah menegakan kembali kepalanya. “kita langsung ke negosiasinya” ucap Arsea. dingin, menatap sebentar anak buahnya yang sebagian terluka. “kenapa buru-buru ?” Arga berhenti tertawa kini raut wajahnya berubah menjadi begitu serius sama halnya dengan semula. Arga mengulurkan tanganya mencoba mengapai pundak Arsean dengan cepat pria itu menepis tangan Arsean dia memberikan tatapan tak suka pada Arga.
"Saya menginginkan wanita itu kau bisa mengambil senjata dari klien saya" ucap Arga dengan tatapan mencemooh kini pria itu sudah berlutut di hadapan Vanilla yang terduduk di bangku, Arga mengulurkan tanganya untuk menentuh pipi Vanilla dengan segera Vanilla memalingkan wajahnya tapi Arga tidak tinggal diam dia mengulurkan tangan satunya lagi dan memaksa untuk menyentuh wajah Vanilla.
"Sial jauhkan tanganmu dari dia" teriak Arsean marah saat dia berhasil menangkap Arga yang terus mencoba menyentuh barang miliknya.
"Kau selalu posesif Mr. De Lucania" Arg terkekeh dia bangun dan berdiri di belakang Vanilla meletakannya di kedua bahu Vanilla. Arsean yang melihat itu hanya bisa menahan emosinya.
"Bagimana jika kita adu balap ? Bukan kah itu ide bagus kita sudah lama tidak bermain-main bukan ?" Arga yang terus mencoba memprovokasikan Arsean, sedangkan Arsean terus terpaku pada Vanilla yang tengah terduduk disana hanya mengenakan bathclothes dan rambut basah sepertinya wanita itu baru selesai mandi, sejak tadi Arsean tidak mendengarkan ucapan Arga karena pria itu terlalu banyak bicara.
“Begini jika yang menang bisa membawa wanita itu dan mendapatkan senjata kelien saya ? Menarik bukan Arsean ” ucap Arsean menantang, Vanilla yang mendengar itu menggeleng memberi isyarat pada Arsean jangan buat dia ikut terlibat dalam hal yang Vanilla tidak ketahui. Arsean menatap lekat Vanilla terus menggelengkan kepalanya.
Arsean masih terdiam sampai akhirnya Samuel memegang pundak Arsean agar pria itu bisa berhenti melamun. “okey” ucap Arsean memalingkan wajahnya dari tatapan kecewa dari Vanilla. Lagi-lagi Vanilla mendapatkan tatapan kecewa dari gadis itu tapi, dia tak memiliki pilihan lain, jika ia membiarkan Arga pergi dengan sejata yang merupakan milik kliennya maka ia sudah menghianati timnya, tapi jika Arsean mengbiarkan Arga membawa Vanilla, Arsean telah melukai harga dirinya sendiri katakanlah Arsean sangat egois.
Arsean mengusap wajahnya kasar didalam mobil lamborghini aventador, ia masih gelisah. Sama halnya dengan Vanilla yang kini duduk bersama seorang wanita pemilik arena balap liar itu di sertai dengan banyaknya ****** yang menjadi penonton. Vanilla terus saja memainkan jemarinya menatap gelisah dan tertunduk ingin rasanya Vanilla menangis tapi, ia tidak boleh menjadi orang lemah karena kini Vanilla tau bahwa dirinya sudah masuk kedalam dunia hitam tampa hati. Namun, Vanilla tetaplah Vanilla yang tak bisa membohongi perasaanya yang kecewa pada Arsean.
Dulu, waktu pria itu menyelamatkannya mencoba menolongnya dari pacarnya dia pikir Arsean pria baik. Tapi pria tetap pria yang selalu egois, mereka sama selalu mengorbankan perasaan orang lain demi kesenangan sendiri Vanilla benci fakta lain tentang pria yang baru iya tahui
__ADS_1
Vanilla berharap pria itu bisa memenangkan balap liar ini. Keduanya sudah berada daalam posisi siap masing-masing, Arga membuka jendela mobilnya menatap Arsean “aku akan memenangkanya sialan” ucap Arga sambil mengangkat jari tengahnya. Sial Arsean semakin marah dengan hal itu dia memokuskan dirinya menatap jalan balap itu.
“sedia….” Ucap seorang wanita dengan pakaian seksi mengibar-ingibarkan bendera di tengah antara mobil Arsean dan Arga.
“1”
“2”
“go” ucap para penonton yang hampir semuanya wanita yang mengenakan pakaian terbuka.
Arsean melihat Arga yang di belakang sana mencoba mengejarnya dengan perasaan campur aduk Arsean menginjak semakin dalam pedal gasnya. Arsean harus memenangkan balapan sialan ini setidaknya itu yang di pikirkan pria itu.
Brak…..
Arsean memelankan mobilnya sebentar sebelum akhirnya menabrak sisi belakang mobil Arga yang membuat mobil itu oleng seketika. Hal ini tak disia-siakan oleh Arsean pria itu segera menginjak pedal gasnya menaikan kecepatan sampai batas.
“shit” umpat yeonjun yang baru bisa mengendalikan mobilnya yang sepat oleng.
Dor…. Dor
Suara tembakan itu berhasil memecahkan ban mobil belakan Arsean, “akhhhhh sialan” erang Arsean sambil membanting setir mobilnya padahal hanya beberapa meter lagi. Sial ini semua pasti ulah si brengsek Arga.
Dengan laju yang cepat Arga menlewati Arsean yang tengah mebanting-banting setirnya frustasi.
Suara sorakan menyebut nama Arga terdengar ricuh. Arsean dan Samuel kembali kesana, Arsean menatap Vanilla yang kini berada di pelukan Arga.
__ADS_1
“kau ingat aku bukan tandingan mu” cemooh Arga dengan tatapan rendah pada Arsean, sedangkan Arsean menatap Vanilla tak berkutik dia menatap datar. Vanilla yang merasa di perhatika tersenyum miris entah senyuman itu untuk Arsean atau untuk dirinya yang jelas keadaanya sungguh miris.
Arga mencium bibir Vanilla dan wanita itu membalasnya, Arsean semakin dingin menatap keduanya namun, ia tak berkutik sama sekali.
Arga membawa Vanilla untuk masuk kedalam mobil dan keduanya melesat hilang meninggalkan area balap tersebut. Arga terus saja mencoba menciumi Vanilla yang terus memberontak, padahal saat di arena balap Vanilla membalas ciumannya kenapa sekarang memberontak. “berhenti memberontak sialan” ucap Arga dengan mengambil borgol dan memborgol kedua tangan Vanilla di kaitkan pada atas ranjang.
Vanilla dan Arga berada di sebuah hotel yang Vanilla tidak tau, dia menatap benci Arga. “lepaskan aku” teriak Vanilla dengan menendang-nendang tubuh Arga yang mencoba mendekat. Tak sesekali Vanilla mendapatkan kekerasan karena penolakannya beberapa kali ia ditampar oleh Arga “kenapa kau sulit untuk di kasihani” Arga kehabisan stok kesabarannya dan mengambil senatapanya dan dor… Dia menembak Vanilla,tidak sampai menusuk kulit Vanilla hanya meleset tapi, Vanilla merasakan panas pada tangan kanannya karena goresan peluruh itu. Vanilla menangis merasakan sakit ditanganya dan Arga yang kini menciuminya.
Brakk…..
Pintu kamar hotel di dobrak tampaklah Arsean yang setengah acak-acakan, Arsean menembakan senapanya pada Arga, beberapa kali sampai satu peluruh berhasil bersarang di pundak kiri yeonjun. “apa yang kau lakukan sialan, dimana anak buahku” ucap Arga dengan memegangi pundaknya.
“Saya hanya menjemput wanita saya, waktunya sudah habis dan anak buahmu sudah mati” ucap Arsean santai dan menghampiri Vanilla membuka borgol ditangan Vanilla, sebelum Arga mengembaknya Arsean lebih dulu mengnembakan peluruhnya tidak sampai membunuh hanya melesat saja.
“Saya tidak ingin menjemput ajalmu sekaranh tetapi, jika kau terus mengusik hidup saya kembali akan saya buat jasad mu hilang dari muka bumi ini” ucap Arsean dingin ia mengendong Vanilla ala brindy.
__________________________________________
[Jumat, 07 Januari 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
Instagram : Safira19989
__ADS_1