I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 158


__ADS_3

Keesokannya Tania segera bangun dan menuju ranjang Vanessa, tetapi tidak ada tanda-tanda Vanessa membuka matanya. Bahkan sedikitpun tangannya tidak bergerak.


"Desy." Ucap Tania dengan nada tinggi. Seketika Desy yang masih memeriksa vinda yang sudah bangun pun berlari ke Tania.


Setelah Desy menghadap Tania, Tania langsung menarik kerah jas dokter milik Desy.


"Lo bilang Nessa akan bangun, mana hah. Lo niat gak sih sembuhin dia, kalau lo gak niat lebih baik lo pergi dari sini." Bentak Tania. Desy melepaskan tangan Tania yang masih mencengkeram jasnya.


"Lo keluar, biar gue periksa dia." Ucap Desy dengan tenang. Tania pun meninggalkan Desy bersama Vanessa.


Pintu ruang medis terbuka, Vanya dan Viola masuk dengan tangan yang penuh perban dan plester.


"Apa luka kalian ada yang dalam." Ucap Tania


"Tidak kak, kami hanya luka kecil saja. Yang paling besar menerima sayatan adalah Vanessa saat mau melepaskan ikatan tangan kak Dean." Ucap viola


Tidak lama vinda pun keluar dari tempat ia istirahat. Vinda bisa melihat wajah panik dari Tania.


"Vanessa gimana kak." Ucap vinda.


"Masih di cek Desy." Ucap Tania


"Perasaanku semakin gak enak." Ucap Vanya


Desy keluar dengan wajah sendu, Tania yang melihat wajah Desy pun ingin sekali menonjoknya.


"Gue udah usaha, tapi Vanessa menolak untuk bangun. Karena ia kemarin keadaannya sangat lemah. Gue hanya bisa bilang kalau Vanessa....


Desy tarik nafas sebelum mengatakan yang sebenarnya.


"Dia....KOMA." Ucap Desy lirih. Tetapi 3V dan Tania masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


"Jangan bercanda Des." Ucap Tania datar


"Gue gak akan pernah main-main Tan, ini menyangkut keselamatan seseorang." Ucap Desy datar


"Aarrrgghhhh kenapa semua adikku harus begini." Teriak Tania


"Kak, tenang." Ucap viola


"Adisya belum juga sadar Vi, dan sekarang Vanessa juga sama dengan Adis." Ucap Tania lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa dan mengacak-acak rambutnya.


"Tenang kak, ini semua cobaan." Ucap vinda


Tanpa berkata Vanya, menuju ke penjara bawah tanah untuk bertemu dengan ketua macan putih dan tangan kanannya. Vanya memegang 2 katana, sedangkan Dinda yang mengetahui Vanya menuju penjara bawah tanah pun bergegas menyusul.


Dengan berlari Dinda berhasil menghentikan Vanya, mata Vanya memerah antara Manahan tangis dan amarah.


"Van, kakak mohon tenanglah." Ucap Dinda


"Tenang dulu Van, kamu membunuh mereka pun belum tentu Vanessa segera sadar, biarkan mereka disana terlebih dahulu Van." Ucap Dinda. Vanya membuang katana miliknya ke sembarang tempat dan memeluk Dinda.


"Hiks.. kenapa kak..kenapa semua temanku harus seperti ini hiks.." Ucap Vanya yang mulai menangis dipelukan Dinda.


"Ini semua cobaan Van, jadi kita harus sabar." Ucap Dinda sambil mengusap punggung Vanya.


"Aku gak sanggup kak hiks.. melihat mereka menderita begini.." Ucap Vanya


"Kamu jangan lupa Van, Adisya dan Vanessa gadis yang kuat, kakak yakin mereka bisa melawan masalah yang sedang menimpa mereka." Ucap Dinda. Tetapi Vanya masih tetap terisak di dekapan Dinda.


"Sudah ya, jangan sedih. Kamu juga sedang terluka kan." Ucap Dinda.


Tidak lama Vanya melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya, ia juga meminta maaf pada Dinda karena membuat bajunya basah. Tetapi Dinda hanya menanggapi dengan senyuman.

__ADS_1


Vanya dan Dinda menuju ruang medis khusus BLS, sedangkan Tania yang berada di ruang medis sangat senantiasa di samping ranjang tempat Vanessa terbaring. Vanya dan dinda masuk ke ruang medis, Vanya menuju ke ranjang Vanessa dan menggenggam tangannya.


"Lo yang dibilang kembaran gue kan, jadi gue sebagai kembaran lo meminta lo untuk segera bangun nes, ini perintah." Ucap Vanya datar. Tetapi Vanessa masih dengan mata tertutup dan wajah yang sangat damai.


"Bangun nes, tega lo jadi kayak Adisya hah. Woi iblis bangun." Bentak Vanya.


"Vanya." Tegur Dinda lembut. Vanya pun kembali memasang wajah sendu dan bergabung dengan viola,vinda dan Dinda.


"Bagaimana dengan keluarga lo Van?" Ucap vinda


"Jadi.....


-Flashback on-


Vanya diseret papanya keluar dari mansion keluarga samudra, Vanya harus menahan rasa sakit di lengannya yang terluka dan dicengkeram kuat oleh papanya. Papa Vanya sudah bisa berjalan karena semangatnya untuk sembuh sangat kuat.


Mereka kembali ke mansion yang Vanya beli dengan meminta anggota BLS mengantarkan mereka, dengan senang hati salah satu anggota BLS menjadi supir untuk keluarga ketuanya.


Di dalam mobil tidak ada yang berbicara, Felisha yang terbiasa dengan dunia mafia pun tidur dipangkuan Vanya. Ingin Vanya membelai rambutnya, tetapi telapak tangannya sudah dipenuhi darah yang terus mengalir, sehingga ia harus mengurungkan niatnya dan memilih membalut tangannya dengan jubahnya.


Sampai di mansion keluarga Bagaskara, Vanya keluar dengan badan tegap. Ia juga meminta pada anggotanya untuk kembali ke markas saja. Sedangkan Felisha harus digendong oleh mamanya, papa dan mama Vanya tidak berbicara satu kata. Mereka menuju ke ruang keluarga sedangkan Vanya tetap berdiri.


"Sejak kapan kamu menjadi ketua mafia." Ucap papa Vanya datar


"Sejak mengenal Vanessa." Ucap Vanya


"Apa tujuanmu menjadi mafia?" Ucap papa Vanya


"Untuk membuktikan pada papa, kalau Vanya lebih kuat daripada Sharon." Ucap Vanya


"Sharon anak yang baik, sedangkan kamu sering menyiksa dia." Ucap papa Vanya datar

__ADS_1


"Baik papa bilang? Baik bagaimana pa? Saat mama dan papa pergi, Vanya selalu disiksa oleh Sharon, kalau Vanya cerita pasti kalian tidak akan percaya, karena Sharon itu ratu drama." Ucap Vanya datar


__ADS_2