
Hari ini Vanessa jalan-jalan bersama Daniar dan Satria. Ketika ia turun dari lantai dua, di ruang keluarga ada Dean dan Reno. Dean yang melihat Vanessa turun dari kamarnya menggunakan pakaian yang biasanya ia gunakan ketika main.
"Mau kemana princess?" Ucap Reno
"Kemarin kan nessa janji sama Dani kalau pulang sekolahnya mau jalan-jalan kak." Ucap Vanessa
"Oh jadi kah?" Ucap Reno
"Jadi dong, kasian Dani kan Nessa udah janji sama dia." Ucap Vanessa
"Mau kakak temani?" Ucap Dean
"Tak perlu." Ucap Satria. Vanessa yang akan menjawab ucapan Dean sudah dijawab oleh Satria.
"Kak Satria kapan datang?" Ucap Reno
"Baru saja tetapi aku mendengar jika ada yang ingin menemani Vanessa pergi." Ucap Satria
"Memangnya kenapa? Dani dan Vanessa juga adikku." Ucap Dean
"Cih adik katamu, aku tidak percaya kau menganggap Vanessa hanya adik." Ucap Satria
"Maksut lo apa sat?" Ucap Dean. Sedangkan Reno mengerutkan keningnya karena ia bingung dengan ucapan Satria.
Vanessa sudah tau jika Satria merasa kalau Dean menyukai dirinya lebih dari adik.
"Sudah selesai sayang?" Ucap Satria yang mengelus rambut Vanessa.
"Sudah." Ucap Vanessa
"Kalau kamu belum makan, kita mampir ke restoran dulu." Ucap Satria
"Sudah kak, nessa udah makan tadi." Ucap Vanessa.
Vanessa melirik ke arah Dean, kedua tangan Dean terkepal dan tatapannya sangat tajam karena Satria belum menurunkan tangannya. Sebenarnya Satria sadar dengan tatapan dan reaksi Dean, Satria hanya ingin menunjukkan jika dirinya yang berhak memiliki Vanessa, dan Dean hanya pantas menjadi kakaknya.
"Bisa berangkat sekarang kak? Dani akan pulang sebentar lagi." Ucap Vanessa
"Baiklah sayang." Ucap Satria
"Kak Dean, kak Reno, Nessa berangkat dulu ya." Ucap Vanessa.
"Hati-hati princess." Ucap Reno
Hati-hati sayangku. Batin Dean
Satria sudah lebih dulu menuju mobilnya, Satria benar-benar tidak ingin terlalu lama menatap Dean.
"Kak, kenapa bilang gitu ke kak Dean?" Ucap Vanessa yang baru masuk mobil.
"Sebaiknya kau benar-benar menjaga jarakmu pada Dean." Ucap Satria yang mulai melajukan mobilnya.
"Kenapa?" Ucap Vanessa
"Lebih baik kau menjaga jarak darinya Nessa." Ucap Satria
"Kak Dean tidak mungkin menyukaiku." Ucap Vanessa
"Aku tau tatapan orang jatuh cinta lebih dari adik atau tidak Vanessa." Ucap Satria
"Kakak saja tidak pernah jatuh cinta." Ucap Vanessa
__ADS_1
"Tatapan Dean padamu itu berbeda dengan kakakmu yang lain." Ucap Satria
"Lupakan saja kak, aku tidak mungkin bersama kak Dean." Ucap Vanessa
"Kau bisa berkata begini, tapi tidak dengan kakakmu itu." Ucap Satria
Vanessa tidak menjawab ucapan Satria, karena ia juga mendengar Dean mengatakan itu saat tidur.
Kenapa jadi gini sih. Batin Vanessa
Di perusahaan milik keluarga Vanya.
Vanya saat ini duduk di hadapan kakak adik yang masih bertengkar.
"Vi, sampe kapan lo gini ke kak Barrack?" Ucap Vanya
"Sampai kakak memberi alasan yang logis dan bukti yang kuat atas larangannya." Ucap Viola
"Mike bukan laki-laki baik buat kamu." Ucap Barrack
"Lalu kakak sebaik apa?" Ucap Viola
"Kakak selama ini sibuk sama pekerjaan, pernah kah kakak mikir tentang Vio? Keadaan Vio bagaimana? Vio bahagia atau engga? Kakak aja mikirnya kerja mulu." Ucap Viola
"Ketika Vio bahagia bertemu kak Mike malah dipisah." Sambung Viola
"Apa untungnya Mike untuk kehidupan kamu?" Ucap Barrack
"Tanya aja sama Vanya." Ucap Viola
"Mike melukainya?" Ucap Barrack
"Tidak kak, Vio terluka ketika perang. Vio mungkin biasa saja tetapi kak Mike yang panik, karena kak Mike takut jika kakak akan marahi Vio karena luka yang ia sebabkan itu." Ucap Vanya
"Kakak tidak pernah menanyakan jika Vio terluka karena perang." Ucap Viola
"Itu salahmu karena ikut mafia." Ucap Barrack
"Karena mafia itu keluarga Vio juga ketika kakak tidak ada disini." Ucap Viola
"Mansion sebesar itu, hanya Vio sendiri yang menempati, beberapa maid tinggal di belakang." Sambung Viola
Tak lama kemudian, Mike datang bersama Arjuna. Mereka langsung masuk, Barrack menatap Mike dengan tatapan tajamnya. Sedangkan Mike biasa saja.
"Hai bar, hai vi." Ucap Mike
"Halo kak." Ucap Viola sedangkan Barrack mengacuhkan sapaan Mike.
"Sudah makan sayang?" Ucap Arjuna
"Belum, nanti saja Juna." Ucap Vanya
"Kak Barrack tumben kesini?" Ucap Arjuna
"Ada urusan." Ucap Barrack
"Meeting jam berapa sayang?" Ucap Arjuna
"Sebentar lagi." Ucap Vanya
__ADS_1
"Berkas-berkas sudah kamu siapin?" Ucap Arjuna
"Sudah Juna." Ucap Vanya
"Semangat sayang." Ucap Arjuna
"Ekheemm." Deheman Mike membuat Arjuna menatap ketiga orang yang ada di depannya.
"Baiklah, Vanya meeting sebentar. Jun temani mereka bertiga dulu ya." Ucap Vanya
"Meeting bos." Ucap Rani
"Iya kak." Ucap Vanya
"Semua berkas sudah siap." Ucap Rani
Vanya dan Rani menuju ke ruangan meeting, sedangkan diruangan Vanya, ada Vio, Barrack,Mike dan Arjuna. Arjuna merasa akan ada perdebatan diantara mereka pun mulai siap mental.
Oke Juna, akan ada perang dari ketiga orang yang ada dihadapanmu ini. Siapkan mentalmu Juna. Batin Arjuna
"Jauhi adikku Mike!" Ucap Barrack dengan penuh penekanan.
"Semua keputusan ada di Vio, dia berhak memutuskan semuanya bar, ga selamanya lo bisa ngatur dia." Ucap Mike
"Aku kakaknya." Ucap Barrack
"Vio punya hak sendiri bar meskipun lo kakaknya." Ucap Mike
"Jangan kau pikir aku diam saja ketika kau mendekati adikku, kau sering gonta ganti wanita." Ucap Barrack
"Mereka yang mengejar ku." Ucap Mike
"Kau tidur dengan mereka." Ucap Barrack
"Ada bukti?" Ucap Mike santai
"Sudah banyak yang mengatakan itu." Ucap Barrack
"Kau pasti paham menjadi orang yang berpengaruh pada negara juga sering mendapat rumor palsu dari media." Ucap Mike
"Aku belum tidur dengan wanita manapun karena aku tidak menginginkan hal itu dari wanita lain." Sambung Mike
"Sampai kapanpun aku tidak akan menyetujui kau bersama adikku." Ucap Barrack
"Jangan halangi kebahagiaan Viola, kau sendiri sering tidur dengan sekertaris pribadi mu yang cantik itu tanpa sepengetahuan Vio." Ucap Mike.
Viola pun melotot pada kakaknya, sedangkan Barrack mengalihkan pandangannya dari Viola, Viola paham ketika kakaknya begitu maka ucapan Mike benar.
Vanya... Selamatkan aku dari perdebatan ini. Batin Arjuna
"Kau harus segera menemuinya."
"Belum waktunya aku menemuinya."
"Aku khawatir kau tidak diterima dia."
"Dia pasti menerima ku."
"Terserah mu saja, karena dia yang bisa membantu keluarga kita jadi kuharap secepatnya kau menemuinya."
__ADS_1