I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 149


__ADS_3

Malam harinya Vanessa segera menuju kerumah sakit, karena ia mendapat pesan dari viola mengenai Adisya. Ia segera turun dari kamar dan di ruang keluarga ada Reno dan Dean, tiba-tiba Rino menepuk pundak Vanessa karena Rino baru turun dari kamarnya.


"Mau kemana princess." Ucap Rino


"Rumah sakit." Ucap Vanessa singkat.


"Siapa yang masuk rumah sakit." Ucap Dean,Reno dan Rino serempak.


"Adis. Dia kan keluarganya kecelakaan, Tante Naura dan tuan Ardi meninggal ditempat. Sedangkan Adisya masih koma." Ucap Vanessa lalu menyambar kunci mobilnya.


"Kakak ikut princess." Ucap Rino. Vanessa yang malas berdebat pun langsung memberikan kunci mobil ke Rino.


"Kami berangkat dulu kak." Ucap Vanessa.


"Baiklah hati-hati dijalan." Ucap Dean dan Reno.


Vanessa dan Rino pun menuju ke rumah sakit, di dalam mobil sangat canggung karena Vanessa tidak mengeluarkan suara. Vanessa hanya mengeluarkan suara jika Rino bertanya saja, biasanya mereka berdua akan bernyanyi jika satu mobil. Tapi kali ini mereka saling diam karena Vanessa lebih sibuk dengan ponselnya.


Tiba di parkiran rumah sakit, Vanessa dan Rino segera turun. Mereka berjalan beriringan menuju ruangan Adisya, banyak pengunjung dan karyawan rumah sakit yang menatap Vanessa dan Rino dengan tatapan kagum. Tetapi yang ditatap terus berjalan tanpa memperdulikan sekitar.


Sampai di ruangan Adisya, Vanessa segera meminta Irene untuk memberitahu apa yang terjadi saat ia tidak ada di ruma sakit bersama mereka. Akhirnya Irene menceritakan sejujurnya, tetapi saat Vanya menusuk kaki orang itu tidak ia sebutkan, Irene hanya menyebutkan jika Vanya sempat memukul tengkuk orang itu hingga pingsan. Tetapi orang itu hanya mengelabui Vanya saja.


Irene tidak mungkin bercerita yang sebenarnya karena disisi Vanessa ada Rino yang berdiri sambil mendengarkan Irene menjelaskan pada Vanessa. Sedangkan vanessa tau jika Irene berbohong tentang Vanya karena ada Rino di sana.

__ADS_1


"Viola dan vinda kemana." Ucap Vanessa karena tidak melihat kedua temannya itu. Sedangkan Vanya, Vanessa sudah tau jika temannya yang satu itu ada di markas.


"Mereka sedang membeli makan di restoran depan rumah sakit." Ucap Irene.


"Apakah organ Adisya ada yang sudah terkena racun itu." Ucap Rino.


"Setengah paru-paru Adisya sudah terkena racun itu, kecil harapan jika Adisya bisa bertahan. Karena jika salah satu organ terkena racun itu kemungkinan besar kematian pada korban dalam jangka dekat atau panjang." Ucap Irene panjang lebar. Sedangkan Vanessa sudah menampilkan wajah yang sulit diartikan.


"Tunggu darimana kamu tau mengenai racun."Ucap Rino.


Deg


Nahloh ini yang gue takutin. Batin Vanessa


"Eemm.. aku suka aja kak sama buku mengenai racun dan penawarnya." Ucap Irene berbohong. Padahal ia mengetahui itu semua saat menjadi mafia saja.


"Memangnya ada racun seperti itu." Ucap Rino


"Aishh kakak ini, ya mana mungkin Irene tau jawabannya, mending kakak tanya kepada pembuatnya deh." Ucap Vanessa agar Rino tidak bertanya lagi.


"Kalian aneh." Ucap Rino lalu berjalan ke sofa.


"Hati-hati kalau lo bicara, karena ketiga kakak gue udah curiga." Ucap Vanessa dengan nada berbisik.

__ADS_1


"Kok bisa?" Ucap Irene yang ikut berbisik


"Karena tadi pagi gue lupa ganti kaos, kaos gue kan banyak darah tuh tadi." Ucap Vanessa datar tetapi lirih.


"HAH.." seketika Irene menutup mulutnya kembali, karena Rino menatap Irene lagi sedangkan Vanessa menatap Irene tajam.


"Sorry." Ucap Irene tanpa suara.


Tidak lama pintu ruangan Adis terbuka, lalu viola,vinda dan Vanya masuk bersamaan. Vanya langsung menuju ke arah Vanessa sedangkan viola dan vinda duduk di sofa.


"Eh kak Rino." Ucap vinda. Rino hanya tersenyum menanggapi vinda dan Viola.


Vanessa memberi isyarat pada Irene agar menuju sofa bersama vinda dan Viola. Mereka makan lebih dulu, sesekali vinda menawarkan Rino makanan. Tetapi Rino hanya mengambil minuman saja, mungkin ia hanya butuh minum saja. Sedangkan Vanessa dan Vanya berbincang dengan nada berbisik.


"Orang itu tetap tutup mulut." Ucap Vanya datar


"Kenapa gak lo robek saja mulutnya." Ucap Vanessa dingin


"Sebelum kita dapat informasi, kita tidak bisa membunuhnya. Hanya ada satu yang dapat membuat ia bicara." Ucap Vanya datar. Vanessa menaikkan alisnya sebelah.


"Putri semata wayangnya." Ucap Vanya dingin.


Vanessa dan Vanya pun mulai tersenyum miring, senyuman yang penuh dengan akal licik. Vanessa hanya mengangguk, mereka pun ikut bergabung dengan teman-temannya. Sedangkan Vanessa hanya memakan 1 potong pizza saja dan minum soda. Jam 9 malam Vanessa dan Rino pamit pulang, jika Vanessa tidak bersama Rino mungkin ia akan tetap disana bersama teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2