I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 22


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu, keadaan Arsean sudah sembuh bahkan pria itu sudah mulai berkerja kembali. Sedangkan Vanilla sibuk bersama Tomlinson melacak keberadaan orang-orang yang kemarin menyerang mereka.


"Kamu benar-benar tidak memiliki sesuatu hal yang bisa aku lacak keberadaan mereka?" Tanya Tomlinson untuk kesekian kalinya Vanilla hanya menggeleng yang membuat Tomlinson menghela nafas, "kau belum menerima Chat atau tawaran" kali ini Vanilla sudah tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya pada Tomlinson tentang yang Arsean tanyakan.


"Dari siapa ?" Tomlinson kembali menatap komputernya mulai mengacek tentang mafia Raiteger yang dikata-kata merupakan pebantai keluarga sahabatnya itu. "Arsean De Lucania?" Vanilla melipatkan kedua tanganya di dadanya mengikuti tatapan Tomlinson pada layar komputer yang menampilkan kode-kode yang arin tidak mengerti.


"Suamimu ?" Tomlinson fokus membaca dan sesekali dia mengklik dan memasukan kode-kode kedalam sana "hmm" balas Vanilla tentang pertanyaan Tomlinson. "Aku menolaknya" Tomlinson berucap seperti itu dengan santainya tidak seperti Tomlinson yang Vanilla kenal yang selalu heboh.


"Kamu serius ? Kenapa bukan kah Kamu selalu menganggumi keluarga De Lucania?" Vanilla terkejut tentu saja, perubahan sahabatnya ini terlalu aneh untuknya. "Aku terlalu takut untuk mempermalukan mu arin" ada nada yang tidak enak di dengar oleh Vanilla, dia bisa merasakan kesedihan dari Tomlinson.


"Mempermalukan ku atas dasar apa ?" Vanilla memindahkan atensinya menjadi kembali menatap kearah Tomlinson menatap pria yang sudah tumbuh bersamanya sedang fokus kesana tidak langsung membalas ucapannya. "Karena kemampuan ku mungkin masih lemah dan tak menjanjikan akan bisa melacak dengan tepat" Akhirnya setelah beberapa lama dia bungkam dan mengabaikan Vanilla dia mengeluarkan suaranya.


"Hueningkai, dengar jangan terlalu menganggap Kamu tidak pantas, ini kesempatan Kamu aku percaya Kamu pasti bisa" Vanilla berucap dengan lirih dia mengulurkan tanganya dan mengusap kepala sahabatnya itu. "Tapi, Vanilla Kamu sadar tidak jika aku sedang..." Tomlinson membalik tubuhnya menatap arin, arin merasakan hal tidak enak ketika Tomlinson tiba-tiba saja tersenyum aneh. "Apa !?" Vanilla sudah menatapnya tajam "Sejak tadi aku sedang membohongimu" penuturan itu diakhir dengan tawaran dan rasa kesal oleh Vanilla.


"Kamu benar-benar keterlaluan" Vanilla memukuli Tomlinson dengan pelan dan keduanya tertawa. "Ekhm" sebuah deheman membuat atensi keduanya berpindah menatap kearah pintu yang nyatanya ada Arsean disana bersama Samuel dan Yamooto. Vanilla tersenyum menyambut mereka begitupun hueningkai yang langsung berdiri Vanilla seakan deja vu ketika Arsean hanya menatapnya datar dan tajam.


"Jadi bagaimana Tuan Hueningkai apa kau telah menemukan marks mereka ?" Ucap Arsean tanpa basa basi lagi dia langsung to the poin, semuanya tidak ada yang berbicara terkecuali hueningkai yang merespon ucapan pria itu.


"Saya baru menemukannya, di ujung selatan ada marks penyimpanan mereka dan di sebelah barat ada penyimpanan jejaringan. Benar seperti itukan Mr. Samuel ?" Samuel yang merasa dirinya di tanya mengangguk, dia juga baru mengetahui dan untuk memastikanya keduanya kembali ke layar komputer mencoba merantas jaringan disana.


"Bagus, lanjutkan saja" Arsean menjauh dari layar komputer dan berjalan kearah Vanilla "Saya akan pergi bersama Vanilla" tanpa banyak kata lagi dia langsung menggenggam tangan Vanilla. Keduanya keluar dari tempat yang di penuhi oleh komputer dan peralatan teknologi lainnya.

__ADS_1


"Kita akan kemana ?" Barulah Arsean bertanya saat keduanya masuk kedalam mobil Arsean, yah Arsean kembali mengendarai mobilnya sendiri tanpa supir. "Saya membutuhkan udara segar" entah Vanilla baru menyadari atau bagaimana jika Arsean tengah marah atau moodnya yang buruk.


Tak ingin memperkeruh suasana lagi Vanilla hanya mengikuti Arsean ingin mengajaknya kemana tampa banyak bertanya.


******


Mobil itu berhenti disebuah pergunungan yang di rimbunan pepohonan, udaranya terlihat sangat segar dan jauh mata memandang semuanya terlihat begitu memanjakan.


Vanilla keluar dari mobil pertama sedangkan Arsean masih duduk dikemudinya. Vanilla menghirup udara itu dalam dan memeluk dirinya sendiri berakhir dengan senyuman cukup lebar.


Soobin menyusul Vanilla keluar dan berdiri dibelakang Vanilla sambil menyenderkan dirinya pada mobilnya, Vanilla membalik dirinya ikut bersandar di mobil Arsean. "Kau menemukan tempat ini bagaimana?" Tanya arin menatap sekilas. "Waktu itu ayah saya sering membawa saya kesini jika ada yang mengganggu pikiran saya atau untuk melatih saya" Vanilla menatap mata Arsean didalam sorot matanya terlihat jika dia sangat bangga pada ayahnya.


Mereka jalan beriringan dan tak ada percakapan keduanya menikmati apa pemandangan itu, sesekali arin bersenandung ia sudah lama tak bermain ke tempat yang jauh dari kebisingan kota. Lama mereka berjalan disinilah sekarang mereka di sebuah Sungai yang masih Jernih disertakan dengan padang bunga yang Indah.


"Aku tak menyangka ini akan sangat Indah" Vanilla bermain-main dengan air yang memgalir di selah kakinya. Sedangkan Arsean hanya menatapnya dari atas batu yang ia duduki. "Kau benar-benar tak ingin turun kesini bersamaku bermain air ?" Tanya Vanilla yang sejak tadi tak dihiraukan, tak lama arin ikut naik.


Vanilla pindah berjalan kearah taman bunga entah siapa yang menanamnya disana terdapat banyak sekali jenis bunga, Vanilla mengambil beberapa bunga seperti bunga mawar, Lavender dan daisy. Arsean memperhatikan Vanilla yang sejak tadi tersenyum dengan lebar dan polos membuatnya tak tega untuk melibatkan wanita itu dalam aksinya tetapi dia sudah berjanji akan berkerja sama menghancurkan orang-orang itu.


Sebuah panggilan masuk dan itu membuat Arsean harus beranjak dan kembali lagi kekota. "Kita pulang, saya ada urusan mendadak" seketika itu ekspresi Vanilla langsung berubah dia menunduk sedikit memajukan bibir bawahnya, Arsean mengbil tangan kanan Vanilla dan menggengamnya membawanya kembali. Sampai di mobilpun wajah Vanilla tidak berubah "nanti saya akan ajak Kau kesini lagi jika saya punya waktu luang" Arsean menacapkan gas meninggalkan tempat itu.


Vanilla hanya mengangguk dan memaikan bunga-bunga yang dia bawa, sesekali Arsean mengalihkan perhatiannya pada Vanilla wanita itu terus menatap kearah luar. Sampai akhirnya Arsean menghentikan mobilnya dan menatap Vanilla yang sama sekali tidak terusik, suasana hati Arsean sebenernya sedang tidak bagus terlebih saat mendapatkan panggilan tadi dan semakin kesal atas yang arin lakukan.

__ADS_1


Dia menarik pundak Vanilla agar menatapnya, tampa banyak bicara dia langsung menempelkan bibirnya pada Vanilla. Hanya menempel kan saja tidak lebih hingga 5 detik kemudian Arsean menjauh dari Vanilla.


Semakin hening Arsean membanting dirinya ke kursinya dia, menjambak rambutnya sebentar sedangkan Vanilla masih mematung disana. Vanilla sadar jika suasana hati Arsean sedang tidak baik dia melepas sabuk pengamannya dan menyondongkan dirinya pada kursi Arsean sebenarnya ini bukan kemauan Vanilla, Vanilla juga bingung atas apa yang ia lakukan bahkan ketika ia malah mencium bibir Arsean saat pria itu masih memejamkan matanya. Arsean membalas ciuman Vanilla dan keduanya larut akan apa yang mereka lakukan.


Tepat saat mereka masih di posisi itu terdengar ada suara benda jatuh keduanya dengan resflek menatap keluar, sial ada Helicopter yang kemarin yang menjatuhkan banyak bomb, Vanilla kembali duduk dan memakai sabuknya begitu juga Arsean yang langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelahnya terdengar ledakan diikuti dengan beberapa lainnya. Tak hanya itu ada beberapa mobil dibelakang yang menembakinya.


"Sial, kenapa bisa kecolan kembali" umpat Arsean. "Apa kau membawa senapa ?" Tanya Vanilla dia tak membawanya karena tadi ia tinggalkan di ruangan Tomlinson. "Ada di belakang dan beberapa peluruh" balas Arsean yang masih sibuk fokus kedepan. "Bagus" arin membuka sabuk pengamannya dan ke jok belakang meletakan bunga-bunga itu beralih mengambil senapan.


Vanilla membuka atas mobil itu dan menembak mobil yang mengejarnya, dia mengarahkanya langsung pada ban mobil dan rem yang ada di bawah, sampai di hitungan 10 mobil itu hilang kontrol cukup mudah untuk Vanilla yang biasanya dia main didalam PS. Tapi, tidak seberuntung itu karena ada beberapa mobil yang mengejar mereka.


"Damn it" umpat Vanilla saat kembali kehabisan peluruh, "aku kehabisan peluruh bisakan kau melajukan mobilnya dengan cepat" Vanilla kembali ke jok depan dan mengenakan sabuknya, "telepon taehyun agar mengirim anak buahku" Vanilla langsung memberi tahu Samuel. Mobil Arsean semakin melaju dengan cepat begitupun yang belakang terus menembaki mobil Arsean mereka tidak ingin membunuh tapi hanya ingin meneror saja makanya sejak tadi mereka hanya main-main saja.


Tak lama datang mobil lain berlawanan itu merupakan anak buah Arsean, Arsean terus melajukan mobilnya membiarkan anak buahnya untuk mengurusi orang-orang itu.


__________________________________________


[Jumat, 07 Januari 2022]


Author : Safira Aulia Hamidah


Ig : Sfiranjk341

__ADS_1


__ADS_2