
Arsean dan Vanilla menatap floor dansa yang diisi oleh beberapa pasangan entah muda atau baya mereka berdansa menikmati iringan lagu yang pas untuk berdansa.
"Kau ingin berdansa ?" Tanya Arsean dia menatap Vanilla yang dengan santainya menatap orang-orang yang tengah melakukan gerakan hilir mudik yang berirama di tempat dansa.
Vanilla menatap Arsean sebentar sebelum kembali menatap kearah tempat dansa didepan sana. "Tidak usah" jawabnya dengan ketus ia masih setia berdiri disamping Arsean dan tetap melempar senyum pada tamu-tamu yang tersenyum padanya dan Arsean.
"Kenapa ? Apa kau tidak bisa berdansa ?" Ada nada mengejek dari Arsean, Vanilla tidak mengindahkan ucapan Arsean membiarkan ucapannya itu berhembus dengan angin.
Jujur saja, dia lelah terlebih lagi ia harus memaksakan moodnya yang hancur untuk pura-pura menikmati acaran pernikahannya ini. Omong kosong memang ketika mengingat ia terjebak didalam sebuah pernikahan yang tak ia inginkan "persetanan" guman Vanilla dengan tersenyum kearah tamu-tamu.
Apa yang baru saja Vanilla ucapkan tak luput dari perhatian Arsean, pria itu tersenyum tipis ketika mendengar itu bisa-bisanya wanita itu masih tersenyum saat memaki orang lain.
"Ayo berdansa, kau harus melengkapi rasa penderitaan mu itu" sial Vanilla benar-benar ingin meledakan peluruh pistolnya kepada kepala Arsean saat ini juga.
Dengan tatapan musuh Vanilla menggapai uluran tangan pria itu yang membawanya kepada tempat dansa. Arsean meletakan tangannya di pinggang ramping milik Vanilla dan Vanilla sendiri menaruh tangannya di pundak milik Arsean.
Arsean mulai menganyunkan tubuhnya mengikuti irama begitupun dengan Vanilla, sesekali wanita itu baik disengaja maupun tak di sangaja ia menginjak kaki Arsean yang dibalut dengan sepatu kulit yang berwarna hitam bermerekan LV. "Apa kau sengaja melakukan itu" ucap Arsean tajam ia tidak bisa menoleransi lagi dengan kaki milik Vanilla yang menginjaknya lagi dan lagi.
"Ups, sorry sir" ada nada mengejek dari Vanilla yang membuat bendera peperangan berkibar di antara mereka. "Lihat saja kau" tiba-tiba irama mereka berubah, lebih kasar dan tak beraturan tentu saja perbuatan kedua sejoli itu menjadi tontonan setia para tamu.
***
Dorrr.....
Suara teriakan dari sebuah pintol yang berhasil mengeluaran peluruh itu menggema di ruangan yang berisik mengubahnya menjadi ruangan yang sunyi beberapa detik dan kembali berising.
Dorr....dor.... dorrr...
__ADS_1
Suara bising itu becampur dengan suara letupan dari pistol, tentu saja hal itu menghentikan dansa soobin dan arin keduanya menatap was-was ke penjuru ruangan. Seorang penjaga menghampiri Arsean, Arsean mengintruksikan segera mengevakuasi para tamu dan selebihnya segera bersiaga.
Arsean mengambil sebuah pintol yang ia taruh di pinggangnya untuk bersiaga. Begitupun Vanilla yang menatap dengan tajam keberbagai penjuru. Ketemu, Vanilla menemukan dimana musuh bersembunyi di sudut lantai dua. Orang yang mengenakan pakaian serba hitam itu mengarahkan pistolnya pada kaca pemanis yang tepat berada di dekat Arsean.
Tanpa berpikir panjang Vanilla segera berlari menuju Arsean dan menarik pria itu, tidak sampai hitungan 3 detik kaca itu hancur lebur karena sebuah peluruh.
"Terima kasih, kau pergi lah sekarang" Arsean yang meletakan kedua tanganya di pundak Vanilla dan menatap wanita itu tegas, ia takut jika wanita satu ini akan keras kepala dan memprotes.
"Tidak, aku akan tetap disini" Arsean semakin mengeratkan peganganya pada pundak arin tak lupa tatapan yang kian menajam. "Di sini terlalu bahaya, ikuti kataku sekarang kau pergi dari sini ! saya mohon sekali padamu jangan buat dirimu semakin kalut dalam traumamu" Arsean cukup sadar jika Vanilla memiliki trauma terhadap tembakan seperti yang terakhir kali terjadi pada wanita itu.
"Aku bilang aku akan tetap disini" tak kalah tajam tatapan Vanilla menatap pria itu, Vanilla tak mau di rendahkan oleh pria itu lagi dirinya yang sekarang bukan dirinya yang dulu."Menurutlah" rahang Arsean mengeras ia ingin sekali membentak wanita itu namun, keadaan saat ini sudah kacau.
Brakkk....
Sebuah kaca besar membuat keduanya mengakhiri perdebatan itu, Vanilla mengangkat gaun pernikahannya dan mengambil sebuah pistol yang ia sengaja selipkan di sana.
Vanilla berhasil mengnembakan peluruh tepat pada sasaran yang membuat orang yang menargetkan Arsean itu terluka. Sedangkan Arsean sendiri sibuk dengan beberapa orang yang berhasil mengalahkan anak buahnya, dengan susah payah Vanilla berlarian ke berbagai penjuru guna melindungi dirinya dari tembakan-tembakan peluruh dari para bajingan itu.
Beberapa kali Vanilla melihat situasi untuk menyerang namun gagal karena bajunya yang begitu berat, Vanilla menemukan sebuah gunting yang berada di sebrang sana. Dengan menghitung-hitung jaraknya Vanilla bersiap berlari dan sesekali ia tembakan peluruh-peluruh yang ada didalam pistolnya.
"Selamat tinggal baju yang menyusahkan" guman Vanilla sambil memotong gaun itu setinggi lututnya, dia beralih mengambil sebuah karet balon dan mengikat rambutnya. Gaya anggunya seketika hilang di gantikan dengan sebuah gaya yang swag dan juga seksi.
Dorrr......
Satu peluruh Arsean tepat mengenai tubuh bagian jantung orang itu, yang akan memangsa Vanilla. Vanilla sendiri sempat terkejut namun itu hanya beberapa detik sebelum wanita itu tersenyum kearah Arsean.
"you let your guard down baby !" Ucap Arsean dengan kedua pistol di tangannya menatap tajam kearah Vanilla. "But, I'm okey like you see" jawab Vanilla dengan enteng, wanita itu seakan menikmati waktunya di tengah petempuran yang memakan banyak korban terutama anak buah dari Arsean.
__ADS_1
Tak ada lagi percakapan keduanya sibuk dengan lawan masing-masing sampai akhirnya mereka terkepung, Arsean menempelkan punggunya kepunggu Vanilla dan sebaliknya keduanya menatap was-was musuhnya yang tersisa 10 orang lagi.
"Apa kau memiliki cadangan peluruh ? Peluruh aku tinggal tersisa 5" bisik Vanilla kearah Arsean. "Tidak" Arsean yang fokus dengan orang-orang itu hanya bisa menjawab singkat.
"Ck, sial" tentu saja Vanilla merasa kesal karena kini nyawanya juga ikut di pertaruhkan. Bukan tanpa sebab Vanilla ikut adil dalam hal ini hanya saja ia berharap dia bisa menemukan petunjuk soal orang-orang yang membantai keluarganya.
"Jika begitu, bisa kah kau jangan membunuh mereka ? Buat mereka pingsan saja" lagi-lagi Vanilla berbisik memberitahu pria itu, Arsean tidak bodoh jadi ia mengetahui motif apa yang akan di lakukan wanita yang menjadi istrinya itu. Vanilla tau jika Arsean akan setuju saja jadi ia mengalihkan perhatian orang-orang itu dengan melempar pistolnya, sontak saja orang yang mengenakan baju serba hitam dan penutup wajah itu tercengah dengan apa yang wanita itu lakukan.
Tampa membuang-buang waktu Vanilla mengeluarkan sebuah bambu berukuran kecil dan jarum-jarum yang sudah ia oleskan racun. Dengan sekali tiupan di ujung bambu itu jarum itu tertanclap di lengan bagian nadi orang yang berada didepannya.
Letupan pistol kembali terdengar dari pistol Arsean, setidaknya ada 4 orang yang terbius dengan jarum beracun milik arin dan selebihnya pingsan karena rasa sakit di bagian paha akibat tembakan yang di berikan Arsean.
Setelah memastikan tidak ada lagi musuh yang berkeliaran di situ Arsean membalikan tubuhnya menatap Vanilla yang tengah berdiri di hadapan orang yang ia bius.
Kali ini terdengar suara seperti alarm tapi Arsean cukup mengerti jika ini bukan alarm melainkan boom, Arsean berdecih "sungguh licik sekali" Arsean menyuruh anak buahnya yang baru saja datang untuk membawa orang-orang itu dan menyuruh orang dalam gedung itu untuk keluar.
"Sebenarnya ada apa ?" Sejak tadi Vanilla terus bertanya tapi Arsean enggan untuk menjawab ia menggenggam tangan Vanilla dan membawanya menuju pintu keluar, lebih tepatnya menyeret.
"Ada boom, saya tidak tau kapan akan meledak jadi cepatkan jalan kamu" keduanya mencepatkan jalannya. Dan beruntungnya saat gedung itu meledak Arsean dan Vanilla sudah berada di luar bahkan sudah didalam mobil keluar dari tempat sialan itu.
__________________________________________
[Jumat, 07 Januari 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
__ADS_1
Instagram : Safira19989