
Semuanya pun kembali ke hotel dan berkumpul di restoran. Disana terdapat keluarga Vanessa, keluarga Vanya dan Adisya serta keluarga vebranza. Vanessa tetap dengan tatapan datarnya, ia menatap tajam kepada ketiga kakaknya.
"Jelaskan apa alasan kakak menjodohkanku dengan kak satria." Ucap Vanessa datar.
"Ini demi kebaikan kamu princess." Ucap Rino lembut.
"Tapi kenapa harus kak satria." Ucap Vanessa datar.
"Karena satria menyayangi kamu, bahkan dia menolak semua wanita yang dijodohkan dengannya hanya untuk kamu." Ucap Dean
"Benar Vanessa, saya sudah sering membuat kencan satria dan anak teman saya. Tetapi satria terus menolak, dia bilang bahwa ada wanita yang sudah membuat hatinya menetap pada wanita itu. Dan setelah saya bertanya Dean, ternyata itu kamu. Saya pun tidak masalah asalkan satria bahagia." Ucap nyonya vebranza.
"Tapi maaf nyonya, saya bahkan tidak memiliki rasa apapun pada kak satria." Ucap Vanessa
"Rasa itu akan muncul saat kamu sering menjalani hari-hari bersama satria." Ucap ayah samudra
"Kita sudah tidak bisa membatalkan perjodohan ini. Karena semua orang sudah tau, jika kita membatalkannya yang ada akan membuat malu keluarga vebranza, bukan hanya vebranza yang malu tapi keluarga samudra juga." Ucap tuan vebranza.
"Udahlah nes, lo terima aja. Ini menyangkut dua keluarga." Ucap Irene.
"Kalian pasti tau kan alasannya kenapa aku tidak ingin ini dilanjutkan." Ucap Vanessa datar
"Kami tau nes, tapi kali ini aja lo turutin keluarga lo nes." Ucap viola. Vanessa pun menarik napasnya dan membuangnya berat.
"Baiklah terserah." Ucap Vanessa dengan berat hatinya.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya tersenyum senang. Sedangkan satria tetap dengan wajah datarnya walau sebenarnya ia sangat bahagia karena Vanessa akan menjadi miliknya.
Akhirnya kamu menjadi milikku Vanessa. Batin satria sangat bahagia, tetapi ia masih menetralkan kebahagiaannya dengan wajah datarnya.
Kau akan menyesal karena memilihku sebagai masa depanmu. Batin Vanessa
"Baiklah, kapan pernikahannya di adakan." Ucap ayah samudra.
"Bagaimana jika 2 Minggu lagi." Ucap tuan vebranza.
"Apa tidak terlalu cepat." Ucap Vanessa datar
"Lebih cepat lebih baik sayang." Ucap bunda lembut.
"Terserah ma." Ucap satria datar.
"Kalau kamu bagaimana Vanessa." Ucap nyonya vebranza.
"Biar itu menjadi keputusan ayah dan bunda saja nyonya." Ucap Vanessa
"Jangan panggil nyonya lagi, panggil mama dan panggil dia papa seperti satria memanggil kami." Ucap nyonya vebranza lalu menunjuk ke arah suaminya.
"Baik m.. ma" ucap Vanessa sedikit gugup.
Di negara C.
__ADS_1
Lelaki paruh baya begitu terkejut saat mendengar Vanessa menjadi bagian dari keluarga samudra. Ya siapa lagi kalau bukan Adi Pratama.
"Bagaimana bisa anak itu menjadi bagian dai keluarga samudra. Pantas saja dia kucari selama ini tidak ketemu." Ucap Adi Pratama yang geram melihat tayangan di televisinya.
"Kamu kenapa sih mas." Ucap istrinya yaitu Diana.
"Kamu ingat kan anaknya Lusi yang tidak aku bunuh dan selama ini aku cari tetapi tidak pernah menemukan keberadaannya." Ucap Adi Pratama.
"Ah iya mas aku ingat, tetapi apa hubungannya dengan anak tuan samudra." Ucap diana.
"Dia lah anak itu sayang, Vanessa. Anak dari diriku bersama Lusi." Ucap Adi Pratama. Seketika Diana membelalakkan matanya.
"Bagaimana bisa dia menjadi bagian keluarga samudra mas. Kamu harus berbuat sesuatu mas." Ucap diana
"Terlambat sayang, dia bahkan sudah bertunangan dengan anak pertama keluarga vebranza." Ucap Adi Pratama.
"Kamu ceroboh mas, kenapa tidak dari awal kamu membunuhnya bersama Lusi." Ucap diana mulai kesal.
"Ku kira dia akan menjadi gelandangan, tetapi dia malah menjadi bagian dari keluarga paling berpengaruh di beberapa negara." Ucap Adi Pratama.
"Kamu payah mas, sudah gagal mendapatkan harta Lusi, tidak bisa membuat Vanessa menderita. Sebentar lagi pasti Vanessa akan balas dendam dan menghancurkan kamu mas." Ucap diana.
"Dia tidak akan bisa balas dendam padaku. Aku akan meminta bantuan mafia BLS untuk melindungi kita." Ucap Adi Pratama.
"Terserah mas. Karena aku tidak mau jatuh miskin." Ucap diana lalu meninggalkan Adi Pratama sendirian.
__ADS_1