
"Satriaaaaaaaa susah banget sih dapatin lo."
Siska berteriak di apartemennya, ia berniat tidak bertemu Satria dan keluarganya karena ia ingin Satria yang mendatangi nya sendiri. Tetapi harapan dia tak sesuai dengan ekspektasi yang ia inginkan.
"Gue udah lakuin segala caraaa buat dapatin lo, gue gaakan rela lo jatuh ke pelukan gadis itu." Ucap Siska
Siska pun menghubungi seseorang.
"Gue butuh lo sekarang sayang." Ucap Siska
Malam harinya Vanessa dkk berkumpul di apartemen Vinda. Vinda menyiapkan banyak makanan untuk teman-temannya.
"Wah masak sendiri lo?" Ucap Viola
"Apartemen gue gada pembantu ye." Ucap Vinda
"Iya deh calon istri pemilik resto terbesar nih." Ucap Viola
"Enak nih keknya." Ucap Irene
"Yaudah makan dulu aja gimana." Ucap Vinda
"Gas dong, butuh asupan nih." Ucap Viola sambil mengelus perutnya.
"Ga dinafkahi lo?" Ucap Vanya
"Gada yang nafkahi." Ucap Viola
"Hubungin kak Mike dulu deh gue." Ucap Vinda
"Gue tampol lu ye." Ucap Viola
"Gimana tadi siang Vi?" Ucap Vanya
"Beuh perdebatan yang buat kak Arjuna kena mental sih." Ucap Viola
"Seketika gue kasian sama barang-barang di kantor Vanya mendengarkan perdebatan mereka." Ucap Irene
"Lo kaga kasian gue anjrit." Ucap Viola
"Ngga." Ucap Irene dan Vinda
"Jahat." Ucap Viola
"Makan dulu." Ucap Vanessa
"Iya makan dulu baru cerita." Ucap Vanya
Mereka pun makan sesekali melempar candaan, sedangkan Vinda yang menatap teman-temannya bercanda pun mulai sendu.
"Lo jadi nikah sama Vinda bulan depan bil?" Ucap Arjuna
"Gue nunggu keputusan Vinda." Ucap Billy
"Kalo emang jadi nikah sama Vinda, lo bakal pindah dari negara ini?" Ucap Rino
"Ya mau gimana lagi, restoran utama milik gue kan dinegara I." Ucap Billy
"Vinda pasti pusing mikirin gimana dia kedepannya sih bil." Ucap Reno
"Maksut lo?" Ucap Billy
__ADS_1
"Secara Vinda kemana-mana sama Vanessa dan yang lain, jelas dia harus pikirin secara matang juga buat itu semua." Ucap Rino
"Apalagi dia salah satu ketua mafia." Ucap Brian
"Gue beri waktu dia buat ngambil keputusan itu." Ucap Billy
"Ngomong-ngomong kenapa lo buru-buru mau nikah aja coba?" Ucap Arjuna
"Vinda pernah mikir gue ada hubungan sama Vanessa, sedangkan Vanessa aja bener-bener diklaim kak Satria." Ucap Billy
"Gerak cepat." Ucap Brian
"Lagipula gue cuma punya mama di negara I, dan Vinda gapunya siapa-siapa. Gue gabisa sepenuhnya mantau Vinda dari jauh." Ucap Billy
"Kalau gue jadi Billy, keknya sama sih cepet-cepet gue nikahin tu Vinda, secara dia cakep ketua mafia pula." Ucap Rino
"Iya tapi kembali ke Vinda lagi, bisa atau ngga dia buat tinggal di negara I." Ucap Reno
"Okey lo mau ngomong apa?" Ucap Viola
"Didepan TV aja bisa ga sih, ngomongnya ga dimeja makan juga anjrit." Ucap Vinda
Mereka berkumpul disofa, Vanessa sebenarnya sudah tau Vinda akan mengatakan sesuatu tentang pernikahan nya.
"Baiklah, ada apa?" Ucap Vanya
"Gue sama kak Billy mau nikah bulan depan." Ucap Vinda
"Hah serius lo?" Ucap Vanya dan Viola
"Serius lah." Ucap Vinda
"Sialan lo Vi." Ucap Vinda
"Ya terus apa masalahnya?" Ucap Viola
"Setelah nikah gue gabisa tinggal disini lagi." Ucap Vinda
"Hah gimana?" Ucap Viola
"Setelah menikah, Vinda bakal dibawa ke negara I sama Billy, karena nyokap Billy kan ada disana dan restoran utama milik Billy juga ada di sana." Ucap Irene
"Kenapa harus pergi sih?" Ucap Vanya
"Gue disini gapunya siapa-siapa lagi Van, yang gue punya juga kalian. Makanya gue ngomongin ini ke kalian." Ucap Vinda
"Vin, jabatan lo di mafia bukan main-main. Lo udah bersumpah buat jadi ketua Mafia juga kan." Ucap Vanya
"Gue tau, tapi gue juga punya kehidupan Van. Dan gue juga butuh menikah ga cuma gue doang kalian juga pasti butuh menikah kan." Ucap Vinda
"Mending lo gausah nikah daripada lo jatuhin jabatan mafia lo." Ucap Vanya
"Van, lo gabisa egois gitu." Ucap Vanessa
"Dia juga gabisa egois nes, menjadi ketua mafia juga kemauan Vinda, dan dia gabisa ninggalin jabatannya gitu aja." Ucap Vanya
"Menikah juga kemauan Vinda." Ucap Vanessa
"Mending lo diam nes, gue ga ngomong sama lo." Ucap Vanya
"Apapun yang menyangkut Vinda gue gaakan diam Van." Ucap Vanessa
"Diam bang*at." Ucap Vanya
__ADS_1
"Jaga mulut lo, sebelum kesabaran gue habis." Ucap Vanessa
"Mau apa lo, gue gatakut sama lo." Ucap Vanya
"Vin, apapun keputusan lo kita tetap hargai kok. Meskipun lo harus pergi dari BLS." Ucap Vanessa
"Gabisa nes, Vinda harus tetap disini." Ucap Vanya dengan sedikit berteriak
"Bisa ga sih lo ga egois." Ucap Vanessa dengan nada tak kalah tinggi.
"Lo yang egois, Vinda memiliki tanggung jawab tinggi di BLS dia gabisa ninggalin gitu aja." Ucap Vanya
"Sumpah yang dilakukan Vinda waktu menjadi ketua Mafia juga ga main-main, emang lo mau nanggung karma itu hah?" Bentak Vanya
"Iya, gue tanggung karma yang bakal terjadi." Ucap Vanessa
"Gila lo ya, Vinda harus tetap disini anj**g." Ucap Vanya
BRAKK
Vanessa menggebrak meja karena dia sangat lelah menghadapi sifat Vanya yang akhir-akhir ini sering memancing emosinya.
"Lo kenapa sih, akhir-akhir ini mancing emosi gue hah." Bentak Vanessa
"Vinda punya kehidupan sendiri, dia berhak atas hidupnya sendiri. Lo gaperlu terlalu ikut campur, Vinda udah dewasa dan dia tau mana yang terbaik buat dirinya sendiri." Ucap Vanessa
"Lo kenapa sih Van, akhir-akhir ini suka banget marah-marah." Ucap Vinda
"Bacot lo pada." Ucap Vanya lalu meninggalkan teman-temannya di ruang tamu.
"Intinya Vinda gaboleh pergi dari sini." Ucap Vanya
Vanya meninggalkan seluruh temannya di ruang tamu, ia keluar dari apartemen Vinda.
"Gue harus gimana?" Ucap Vinda dengan mata yang berkaca-kaca
"Gapapa lo tetap ikut Billy, gue yang akan hadapi Vanya." Ucap Vanessa
"Tapi karma itu gimana nes?" Ucap Vinda
"Gue yang nanggung Vinda, lo tenang aja." Ucap Vanessa
Karna dari awal aku yang menyeret kalian untuk menjadi bagian dari BLS. batin Vanessa
"Gue heran sama Vanya, akhir-akhir ini suka banget marah-marah." Ucap Viola
"Mungkin Vanya capek banget Vi." Ucap Irene
"Ntahlah." Ucap Viola
Vanessa mengikuti vanya menuju markas, karena Vanessa tau jika mood Vanya sedang tidak baik selalu menuju markas. Vanessa menuju ke ruang latihan dan benar saja Vanya sedang menembak banyak botol kaca yang sudah pecah.
"Apa dia dari tadi begini?" Ucap Vanessa
"Benar bos." Ucap salah satu anggota bls.
"Sejak tadi bos Vanya terus menembak dengan brutal bos, kami yang menyaksikan menjadi takut sendiri." Ucap anggota BLS
"Tinggalkan kami berdua." Ucap Vanessa. Anggota bls pun mengangguk lalu mengundurkan diri meninggalkan kedua bos besar di dalam ruang latihan.
Vanessa berjalan mendekati Vanya, Vanya yang masih fokus membidik pun sadar jika seseorang mendekatinya dan..
Dorr
__ADS_1