
Vanessa dkk pun turun dari lantai 20 menuju ke lantai 5 karena restoran hotel berada di lantai 5. Disana tidak terlalu banyak pengunjung karena jam sarapan sudah lewat. Vanessa dkk duduk di pojok paling kiri, karena mereka tidak suka bila harus berada dimeja tengah.
Sampai disana mereka segera memesan makanan. Sambil menunggu makanan datang, mereka berbincang hal yang kurang berfaedah.
Sampai Reno dan Rino tiba-tiba datang ke meja mereka dan ikut duduk disana. Padahal meja lain masih banyak yang kosong.
"Boleh kami duduk disini." Ucap Rino sambil mengedipkan mata kepada teman-teman Vanessa. Sedangkan Reno duduk di samping Vanessa dengan menarik kursi lain.
"Sorry gengs dia bukan kakak gue." Ucap Vanessa datar. Seketika Rino pun cemberut mendengar ucapan Vanessa.
"Princess kamu jahat banget." Ucap Rino dengan nada sedih.
"Salah sendiri ganjen." Ucap Vanessa santai. Rino pun duduk di samping Reno dengan menarik kursi lain.
"Princess kamu nanti malam sudah punya gaun." Ucap Reno sambil mengelus kepala Vanessa.
"Udah kak, semua sudah nessa siapin dari jauh-jauh hari." Ucap Vanessa santai. Reno hanya menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1
"Viola, apa kak Barrack tidak pulang." Ucap Reno.
"Kak Barrack akan pulang kak, sekarang sudah di jet pribadinya kok." Ucap viola lembut. Reno pun mengangguk saja.
Mereka pun berbincang dan bercanda, sampai makanan yang mereka pesan datang. Vanessa dkk pun makan tanpa canggung.
"Kak Reno sama kak Rino gak makan?" Ucap Vanessa di sela-sela makannya.
"Kita tadi sudah makan princess, mangkanya hanya pesan minuman saja." Ucap Rino lembut. Vanessa hanya mengangguk saja.
Vanessa dkk fokus makan sampai piring mereka benar-benar habis. Entah kelaparan atau doyan karena beda tipis. Setelah itu mereka masih santai-santai disana dengan memainkan ponsel mereka.
"Gue bosen, jalan-jalan yuk." Ucap viola.
"Kita ke pantai aja, sekalian lihat orang-orang yang menyiapkan untuk nanti malam." Ucap Vanessa santai lalu beranjak dari tempatnya.
"Belum juga ngomong iya udah nyelonong pergi aja dia." Ucap Irene yang melihat Vanessa sudah berjalan meninggalkan area restoran menuju ke lift.
__ADS_1
Mereka pun segera menyusul Vanessa dan memasuki lift yang sama, sampai di lantai dasar mereka berjalan dengan wajah dingin khas mereka. Banyak para petugas hotel yang kagum dengan kecantikan milik Vanessa dkk. Tetapi mereka juga sedikit ketakutan karena aura yang dikeluarkan Vanessa dkk cukup membuat orang ketakutan.
Tatapan mereka tajam dan terus menatap lurus ke depan, berjalan dengan penuh ketegasan di wajah mereka. Karena untuk menuju ke pantai harus menyebrang jalan raya yang cukup besar jadi mereka berhenti di trotoar dan menengok ke kanan dan ke kiri. Entah kenapa para pengendara tiba-tiba menghentikan kendaraan mereka, Vanessa dkk sangat bingung kenapa para pengendara mendadak berhenti secara tiba-tiba.
Ternyata mereka memberikan jalan untuk Vanessa dkk agar menyebrang. Vanessa dkk hanya menganggukkan kepala dengan tatapan datar lalu segera menyebrang dan menuju ke pantai. Sampai disana mereka mengedarkan pandangan sekilas menatap tempat yang di hias lalu menuju ke dekat pohon kelapa untuk bersantai disana menikmati hembusan angin pantai.
"Sesekali kita lepaskan beban mafia kita bolehkan." Ucap vinda menyandarkan tubuhnya dibawah pohon kelapa.
"Jujur, sebenarnya gue sedikit lelah dengan beban mafia tapi di sisi lain gue nyaman gabung dengan mafia." Ucap Irene sambil menatap lurus ke arah pantai.
"Gue kan udah pernah bilang pada kalian, jika kalian keberatan lebih baik jangan terlalu dipaksakan, gue gak mau kalian asumsiin gue sebagai TEMAN PEMAKSA." Ucap Vanessa sambil menekan ucapan terakhirnya.
"Kita gak terpaksa nes, kita juga seneng bisa gabung dan bantuin beban lo. Pasti lo juga ngerasa lelah kan ngurusin mafia besar." Ucap Adisya
"Gue emang lelah, tapi kalau gue nunjukin rasa lelah gue, yang ada pembalasan untuk pak tua itu semakin lambat. Karena ini janji gue saat didepan jasad nyokap." Ucap Vanessa yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Asal lo tau, sebenarnya gue rapuh, ingin banget gue akhiri ini semua. Tapi gue gak bisa karena gue udah terlalu kecewa. Walau gue udah punya keluarga baru. Tapi sedikit berbeda karena gue bahagia bukan dari keluarga kandung, melainkan keluarga angkat. Terkadang gue iri dengan orang lain yang masih dapat kasih sayang dari bokap nyokap kandung mereka."
__ADS_1
"Sedangkan gue, nyokap kandung gue dibunuh bokap gue sendiri. Dan gue pun dibuang sama bokap gue, di negara ini gue punya keluarga baru walau mereka bukan keluarga kandung tetapi mereka perlakuin gue layaknya keluarga sedarah. Gue masih gak ngerti kenapa takdir permainkan gue seperti ini." Ucap Vanessa yang mulai menangis, antara sadar atau tidak ia mulai menunjukkan sikap rapuhnya kepada teman-temannya.