
Hari ini Vanilla merasa tidak enak badan sejak tadi pagi dia terus gulak-balik kekamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Pelipisnya sudah dibanjiri keringat dan wajahnya terlihat sangat pucat, Arsean sedang tidak di mansion sejak 1 minggu yang lalu pria itu pergi ke luar negeri ada urusan pekerjaan katanya.
Vanilla mendudukan tubuhnya yang sudah terlalu lemas disebuah sopa, tak lama seorang maid datang "nona anda baik-baik saja ?" Terlihat jelas wajahnya yang cemas akan hal itu. "Apa perlu saya panggil dokter ke mari ?" Tanya nya lagi, Vanilla menggeleng dia menunjuk segelas minum yang berada di nakas "terima kasih" Vanilla hanya menggerakan bibirnya tak mengeluarkan suaranya sama sekali, maid itu mengangguk. Setelah merasa dahaganya hilang Vanilla memberikan gelas itu pada maid itu.
"Tidak perlu memanggil dokter kemari, saya akan pergi sendiri ke rumah sakit" Vanilla menjawabnya dengan lemas, berakhir dengan menyender kepada kepala sopa maid itu undur diri dari hapan arin untuk menyiapkan mobil. Vanilla bangun dari tidurannya mengambil blazer hitam nya, dan mengenakan maid tadi kembali lagi untuk membantu Vanilla turun.
Setelah mengucapkan terima kasih mobil itu membawa Vanilla menuju rumah sakit, Vanilla sempat melihat kedepan dia melihat seorang pria setengah baya itu sedang menyetir menutup wajahnya. Vanilla merasa aneh tapi dia terlalu malas untuk perduli, Vanilla memijit pelan pelipisnya rasa mual itu kembali terasa sebisa mungkin Vanilla tahan dia menyender lemas pada jok mobil.
Perjalan menuju rumah sakit itu lancar tak ada hambatan, Vanilla segera mendaftar dan mengantri untuk menuju gilirannya. Rumah sakit saat ini begitu ramai jadi arin harus sabar. Dia sengaja meninggalkan supirnya itu diparkiran.
Hampir 1 jam Vanilla menunggu akhirnya gilirannya. "Hallo, nona Vanilla apa keluhan anda ?" Setelah masuk dan duduk dokter itu mulai menanyai keluhan Vanilla. "Kepala saya pusing, dan akhir-akhir ini saya merasakan mual saya pikir itu masuk angin" pikir Vanilla, setelah dokter itu menyatat keluhan arin dia berdiri membawa arin untuk berbaring di tempat tidur pasien.
"Apa anda sudah menikah nona ?" Vanilla sempat heran kenapa dokter itu mananyai hal itu sudah jelas di Id card dia sudah menikah. "Yah" Vanilla hanya pasrah "kapan terakhir kali anda mendapatkan menstruasi nona ?" Dan bung Vanilla baru menyadari jika terakhir kali dia mendapatkan menstruasi satu bulan yang lalu dan sudah terlewat tanggal seharusnya ia mendapatkan itu sekitar 2 minggu. "1 bulan 2 minggu yang lalu" dengan takut Vanilla memberi tahu pada dokter itu. "Kapan terakhir kali anda melakukan dengan suami anda ?" Otak Vanilla berpikir jauh, sejauh ini Vanilla dan Arsean jika melakukannya akan menggunakan pengaman jika tidak dia akan mengeluarkannya di luar.
"Sudah lama" Vanilla cukup malu jika ia memberi tahu hal itu, "apa ada yang salah dokter ?" Dokter itu sudah selesai memeriksa Vanilla dengan cepat ikut terbangun. Dia takut, dia paranoid jika apa yang sedang diduga oleh otaknya itu benar. "Tidak ada yang salah nona, hanya saja selama anda sedang mengandung" tubuh Vanilla lemas seketika mendengar apa yang di ucapkan dokter itu. "Dokter anda sedang tidak main-mainkan dengan saya ?" Vanilla sudah sangat takut mata dia mulai berkaca-kaca dokter itupun kaget dengan reaksi Vanilla yang seperti itu.
"Saya tidak sedang bermain-main, yang saya ucapkan benar anda sedang mengandung nona" Vanilla memejamkan matanya dia tidak boleh menangis disini. "Tapi dok, bagaimana bisa saya dan suami saya tidak pernah melakukannya dengan benar-benar... maksud saya,... ketika kita melakukannya selalu menggunakan pengaman jika tidak dia akan mengeluarkannya di luar... bagaimana bisaa.." Vanilla sedikit frustasi dia duduk dihadapan dokter itu, dokter wanita itu kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Vanilla. "Nona tenangkan diri anda, mungkin tidak sengaja suami anda mengeluarkannya didalam" Vanilla menarik nafasnya dalam-dalam dia juga mencoba mengingat-ngingat apa Arsean pernah melakukan hal itu tampa sepengetahuan Vanilla.
Vanilla keluar dari ruangan dokter itu dengan membawa obat dan vitaminnya. Dia masih memikirkan hal yang sama. Vanilla masuk kedalam mobilnya "jalan" ucap Vanilla menyuruh supir itu segera beranjak dari tempat ini, rasanya mood Vanilla hancur dia tak merasa sangat marah,sedih dan apa yah semuanya menjadi satu dia ingin menangis saja karena dia ingat ucapan Arsean.
Dulu saat Vanilla akan diam-diam meminum obat pecegah kehamilan walau dia tau saat dia melakukannya dengan Arsean menggunakan pengaman tapi Vanilla merasa itu kurang jadi dia meminum obat itu sampai Arsean memergokinya dia mendukung apa yang arin lakukan dengan berujar "jangan sampai kau hamil" jantung Vanilla merasakan denyut sakit.
Tiba-tiba sebuah kepingan kejadian melintas di otak Vanilla, yah diruang tempat ia berlatih saat dia dengan Arsean melakukan pertarungan satu bulan yang lalu sampai mereka melakukannya dan Arsean mengeluarkannya di dalam "Damn it" dan dengan bodohnya Vanilla juga lupa untuk meminum obatnya karena di sibukan dengan latihan insting sialan itu setelahnya ia sering melakukannya dengan Arsean. "Sialan bagaimana aku bisa lupa dasar bodoh" Vanilla memaki dirinya sendiri.
__ADS_1
Tanpa Vanilla sadari mobil yang didudukinya berlaju begitu kencang, Vanilla yang merasa tidak nyaman dia bangun dari sandaranya melihat apa yang terjadi. "Ada apa ?" Vanilla mulai panik saat mobil itu terus melaju kencang. "Ramnya blong nona" seakan semuanya kejutan untuk Vanilla, arin berpegang dengan erat sabuknya saat Vanilla mencari ponselnya di tas dengan tangan satunya dia pakai untuk menggenggam sabuk pengaman dia tak menemukannya dia lupa jika tadi sewaktu dia akan keluar dia lupa memasukan ponselnya yang tengah di isi daya.
Vanilla meruntuki dirinya, dia merasa hari ini sangat apes, "pak bisakah anda memelankan laju mobilnya ?" Vanilla yang sudah takut sekali, dia sedang berpikir akan loncat dari mobil itu. Dia melihat keluar tampaknya ini bukan jalan menuju mansion Arsean ini jalan yang begitu sepi yang jarang orang lalui. Itu menambah rasa takutnya, Vanilla mati-matian menahan nangisnya atau menjerit takut saat supir itu melewati turunan yang curan.
"Maaf nona, saya tidak bisa mengikuti perintah anda untuk yang ini karena..." pria paruh baya itu menggantung ucapannya membuat Vanilla semakin takut dan menduga-duga. "Saya bukan supir anda, tapi saya malaikat yang akan mengantar anda ke neraka" lutut Vanilla semakin lemas ketika mendengar itu. Dia sangat berharap jika seseorang bisa menolongnya, didalam hati Vanilla memanjatkan doa-doa yang ia telah lama ia tak panjatkan dia bukan umat yang taat.
Entah bagaimana dia berharap Arsean datang untuk menyelamatkannya, tapi semua itu pupus ketika dia faktanya Arsean sedang tidak ada didekat Vanilla. "nona kenapa anda diam saja ? Apa anda takut ? Kasihan sekali" pria itu tertawa dengan angkuhnya sedangkan Vanilla dia sendiri sedang memaki dirinya kenapa disaat seperti ini dirinya tidak bisa di ajak kompromi.
Suara kelakson mobil lain membuat arin menengok kebelakang melihat siapa dibelakang sana, Vanilla melihat plat mobil itu dan seorang pria keluar di atap mobil itu. Itu Arsean ? Vanilla sedang tidak salah lihat bukan ? Mobil itu melaju dengan cepat sambil terus memberi klakson, sampai akhirnya mobil itu berada di sisi sejajar dengan mobil yang ditumpai oleh Vanilla. Vanilla melihat jika itu benar-benar Arsean tiba-tiba saja air matanya semakin membenung banyak seakan meminta untuk di keluarkan.
Tiba-tiba seseorang yang berada di kursi penumpang disebelah pengumudi mengetuk kaca mobil itu mengetuk supir itu untuk membuka pintu itu. "Hentikan mobilnya" teriak pria itu membuat atensi nya berpindah kearah sana. "Jika saya berhenti apa yang saya dapatkan ?" Pria paruh baya itu masih memikirkan dirinya ternyata. "Kau akan kami bebaskan" balas Arsean. Bukannya berhenti pria itu semakin menacapkan gas nya melaju semakin cepat diatas rata-rata.
Vanilla saat itu terkejut dia hampir saja menjerit. Vanilla harus tenang agar bisa keluar dari mobil ini, dia menarik nafasnya perlahan begitupun dengan mengeluarkannya dia melakukannya berulang kali. Dia harus bisa keluar dari sini. Harus sekali.
Vanilla melihat ke kemudi yang kosong, dia tidak mau mati untuk sekarang jadi dengan lutut yang bergetar dia pindah ke depan untuk mengemudi mobil itu, dia bisa mengemudi mobil itu karena dulu harus di pertegas dulu dia anak orang kaya yang sangat di manja dan akan di turutin apapun yang dia mau bahkan dia mendapatkan sim mobil di ulang tahun ke-17 nya.
Vanilla mencoba menginjak ram dan memang ramnya blong, sial mereka memang merancanakan kematiannya dengan begitu rapih. Ini akan menjadi pembunuhan berencana atau akan ada berita palsu jika ini kecelakaan karena Ramnya blong. Tak ada cara lain mobilnya sudah melewati kecepatan di atas rata-rata pilihan Vanilla ada dua dia harus keluar seperti pria paruh baya itu atau dia menabrakan mobil ini ke sesuatu.
Vanilla berpikir jika ia memilih opsi pertama dia tidak yakin jika dia akan mendarat akan aman, dia akan mengamali luka-luka belum lagi jika kepala dia terbentur. Vanilla memilih opsi kedua untuk menabrakan mobil ini kesebuah pohon besar didepan sana. Mobil Arsean dibelakang seakan mengawasi Vanilla, Vanilla mengenakan sabuk pengamannya dia sudah siap dia akan mencoba untuk tubuhnya agar tidak terbentur sama sekali. Dalam hitungan detik dia akan sampai Vanilla membelokkan mobil nya menabrakan diri bukan lah yang yang pernah dia pikirkan, dia menahan dirinya agar tidak terbanting kedepan sama dan beruntung saja hal itu tidak terjadi.
Vanilla tak menyangka sama sekali jika sekarang dia dalam keadaan baik-baik saja dan dia memejam kan matanya, sampai sebuah suara menyapa pendengarannya "kau baik-baik saja ?" Vanilla membuka matanya dia melihat itu Vanilla, Vanilla langsung mengalungkan tangannya pada leher Arsean memeluknya karena takut. Keadaan mobil ini hancur parah depannya yang penyok tak di lupakan pintu yang tadi yang Vanilla tidak tutup sampai rusak.
Arsean membalas pelukan dari Vanilla dia sudah sangat bersyukur melihat Vanilla yang baik-baik saja. Arsean menunggu wanita itu untuk tenang sebelum ia menggendongnya membawa keluar dari sana. Sekarang Vanilla berada dalam gendongan Arsean ala bridy style Arsean membawanya pada mobil yang ia tumpanginya "obatku masih berada didalam" tanpa banyak omong lagi Arsean mengangguk mengantarkan Vanilla kemobil dulu barulah dia kembali kesana mengambil tas Vanilla dan obat yang dibicarakan oleh wanita itu.
__ADS_1
*****
Dalam perjalanan pulang arin masih sesekali terisak menangis didalam pelukan Arsean, pria itu tidak banyak bicara hanya mengusap punggung arin.
"Bagaimana kau bisa mengetahui aku disini ?" Ucap arin bergetar dia masih sangat kaget dengan kejadian hari ini bahkan sampai pengucapannya yang tak beraturan. "Maid itu penyusup, kami mengetahuinya ketika kau sudah pergi kerumah sakit. Saat saya kesana ternyata kau sudah kesana sudah pergi kami melacak lewat bantuan hueningkai dari kamera di mobil itu" walau tidak mengerti sepenuhnya dia mengerti diberkat bantuan dari hueningkai juga.
"Maafkan saya yang membuat kau dalam ketakutan" bisik soobin itu membuat arin terisak kembali, "apa kata dokter ?" Vanilla menengok mengangkat kepalanya agar bisa menatap mata Arsean, apa yang harus di jawab olehnya apa dia jujur atau berbohong.
"Kau tidak hamilkan ?" Tiba-tiba saja tubuh Vanilla menegang dia dilema harus menjawab apa "memang kenapa jika aku hamil ?" Vanilla ingin tau kenapa Arsean tak ingin dirinya hamil. "Apa kamu sangat membenci anak kecil ?" Tanya Vanilla "atau kamu tidak ingin memiliki anak dengan ku?" Dengan malu Vanilla berbicara seperti itu, soobin masih diam membisu. "Yah itu salah satunya, saya harus banyak mempertimbangkannya. Dan kau tidak boleh hamil karena ada misi yang akan kau jalankan untuk membalaskan dendam keluargamu" jelas Arsean, Vanilla menjauhkan dirinya dari pelukan Arsean.
"Memangnya apa salahnya jika aku hamil dan melakukan misi itu ?" Tanya Vanilla. "Tentu saja tidak boleh karena membahayakan dan membuat misi itu gagal, kau akan berakhir sia-sia" Vanilla terdiam, dia tidak tau harus apa. "Kenapa kau bertanya seperti itu apa kau hamil ?" Tanya Arsean membuat Vanilla gelagapan "ti-tidak aku hanya sedang sakit saja" setelahnya Vanilla terdiam tak mengeluarkan suara lagi dia tidak mungkin mengorbankan balas dendamnya untuk anak didalam dirinya.
Mood Vanilla semakin hancur memilih untuk tidur setelah drama yang terjadi tadi membuat tubuhnya kehilangan banyak energi belum lagi dia sedang sangat lemas-lemasnya. Arsean melihat Vanilla yang terlelap jauh darinya terlihat sangat tidak nyaman dia membawa tubuh wanita itu untuk tertidur dipangkuannya
_____________________________________
[Sabtu, 22 Januari 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
Follow Ig : Safira19989
note : jika masih ada typo maaf sekali nanti saya revisi gelombang kedua, dan yah maaf jika ngerasa bosan karena ini 2038 word /kata. Terima kasih telah mampir
__ADS_1