I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 151


__ADS_3

Vanessa fokus pada meeting kali ini, dengan petinggi dari negara N dan Q. Tetapi Vanessa memakai topeng,akan terasa tidak sopan jika Vanessa menggunakan masker. Vanessa dan Tania mendengarkan investor mereka dengan teliti.


"Bagaimana nona Lia." Ucap Presdir dari perusahaan negara N.


"Kapan proyek itu bisa berjalan." Ucap Vanessa datar


"3minggu lagi proyek akan dimulai nona, dan masing-masing dari kita akan mendapat keuntungan yang besar." Ucap Presdir perusahaan negara Q.


"Baiklah, tapi apa kalian bisa jamin semua masyarakat akan terima dengan keputusan ini." Ucap Vanessa datar


"Kami menjamin seluruh masyarakat setuju nona lia." Ucap mereka serempak.


"Baiklah sepertinya harus diatur pertemuan kedua. Karena kita harus tau bagaimana pendapat masyarakat terlebih dahulu." Ucap Vanessa datar. Kedua Presdir itupun setuju lalu mereka bersalaman.


Setelah kedua Presdir keluar dari ruangan meeting Vanessa, vanessa duduk kembali ke kursinya dan Tania pun masuk kembali ke ruangan meeting setelah mengantar Presdir itu.


"Ada apa nes, kamu kayak gak fokus dari tadi." Ucap Tania lembut. Vanessa pun melepaskan topengnya.


"Entahlah kak perasaan ku dari tadi gak enak. Seperti akan terjadi sesuatu entah itu keluargaku atau temanku." Ucap Vanessa lirih.


"Buang pikiran buruk kamu nes, pasti mereka baik-baik aja." Ucap Tania lembut sambil mengelus rambut Vanessa.


Tania,Dinda,Rani dan Putri adalah bagian sniper yang ditunjuk 4V membantu mereka sebagai sekretaris. Karena usia mereka berbeda 3tahun 4V, Irene dan Adisya memanggil mereka kakak. Bahkan mereka menganggapnya seperti kakak sendiri, begitu pula Tania,Dinda,Rani dan Putri yang menganggap Vanessa dkk seperti adik mereka.


"Ini sudah 1 bulan Adis belum bangun dari tidurnya kak." Ucap Vanessa


"Adisya pasti bangun nes, kakak tau dia gadis yang kuat." Ucap Tania lembut. Vanessa pun memeluk Tania dan Tania membalas pelukan Vanessa.


"Tapi kapan kak, kemungkinan kecil Adisya bisa bertahan karena racun itu sudah menyerang separuh paru-paru Adis." Ucap Vanessa yang mulai meneteskan air matanya.


"Kakak tau racun itu memang berbahaya, tetapi kita harus tetap berpikir positif jika Adisya akan baik-baik saja. Walau ia harus menerima kenyataan jika orang tuanya meninggal dan ginjalnya sebelah kanan harus diangkat. Adisya gadis yang kuat nes, walau terkadang dia sedikit menyebalkan tetapi tekadnya benar-benar besar." Ucap Tania sambil mengelus kepala Vanessa. Vanessa tidak menjawab ucapan Tania, ia hanya terus meneteskan air mata.


"Udah jangan sedih ya. Kita harus semangat demi kesembuhan Adisya, dan soal firasat buruk kamu kita berdoa saja jika tidak akan terjadi apa-apa." Ucap tania.

__ADS_1


Setelah menumpahkan kesedihannya, Vanessa melepaskan pelukan dan menghapus air matanya. Ia benar-benar lelah jika harus bersikap kuat di depan semua orang. Tania tersenyum hangat menatap wajah vanessa.


Tidak lama mereka kembali ke ruangan masing-masing. Vanessa langsung membuka laptopnya dan berkutat dengan berkas yang menumpuk di mejanya.


-Di perusahaan Bagaskara.


Vanya berada di ruangannya ditemani viola. Viola pun sama fokusnya dengan Vanya, karena viola juga harus membantu vinda dan perusahaan keluarganya. Tiba-tiba tangan Vanya tidak sengaja menjatuhkan gelas yang ada di sebelahnya.


Pranggg....


"Lo kenapa Van." Ucap viola yang terkejut.


"Perasaan gue gak enak vi, kayak ada yang akan terjadi gitu." Ucap Vanya sambil mengelus dadanya.


"Pikiran lo buruk banget, buat mastiin gue tanya kak putri yang di rumah sakit." Ucap viola. Vanya hanya mengangguk lalu viola mengambil ponselnya dan menghubungi putri.


Tut..Tut...Tut...


"Halo kak." Ucap viola


"..."


"..."


"Oh baiklah kalau gitu kak." Ucap viola


"..."


"Gak apa-apa kak, cuma Vanya firasatnya buruk. Jadi buat mastiin Adisya gak apa-apa, aku hubungi kakak deh." Ucap viola


"..."


"Yasudah kak, jaga diri baik-baik ya." Ucap viola lalu mematikan panggilan.

__ADS_1


"Adisya dan kak putri gak apa-apa kok. Disana juga ada Daffa dan Rizki, bahkan diluar ruangan Adisya ada beberapa anak buah BLS yang menjaga ketat." Ucap viola panjang lebar.


Kalau bukan rumah sakit, ataukah di mansion. Batin Vanya


Tanpa menjawab ucapan viola, Vanya segera menghubungi mamanya untuk memastikan semua baik-baik saja.


Tut...Tut...Tut...


"Halo ma." Ucap Vanya


"..."


"Mama baik-baik aja kan sama papa dan Felisha." Ucap Vanya


"..."


"Tidak apa-apa ma, Vanya hanya memastikan aja. Yasudah ma sebentar lagi Vanya meeting." Ucap Vanya


"..."


"Iya ma, dah." Ucap Vanya lalu mematikan panggilan.


Vanya mengirim pesan pada anggota BLS yang menjaga mansion Vanya untuk memperketat penjagaan. Ia takut firasat buruknya akan terjadi.


"Emang lo ada meeting?." Ucap viola


"Gaada." Ucap Vanya datar


"Wah sinting lo boongin orang tua." Ucap viola


"Kalau gue gak ngomong gitu, mama pasti nanya alasan gue hubungin mama." Ucap Vanya sambil membolak-balikkan berkas.


"Ya lo juga segitunya banget. Santai aja lah. Positif thinking say." Ucap viola. Vanya hanya menghedikkan bahunya.

__ADS_1


Mereka pun fokus pada pekerjaan mereka masing-masing, hanya akan berhenti jika waktu sudah menunjukkan jam makan siang lalu lanjut bekerja.


__ADS_2