
Adi Pratama semakin terkejut dengan pengakuan Vanessa, karena memang ia tidak pernah bertemu dengan ketua BLS. Sekali bertemu ternyata putrinya sendiri.
"T..tidak mungkin." Ucap Adi Pratama
Vanessa pun tersenyum miring, karena yang berada di dalam rumah sederhana itu adalah anggota terpilih BLS yang sudah mengetahui wajah 4V. Vanessa menepuk tangannya dua kali, Fano dan Ilham datang dan membawa Sinta dan diana.
Prok..prok..
Adi Pratama semakin terkejut lagi karena istri dan putri kesayangannya sudah berada di genggaman Vanessa. Bahkan ia juga terkejut melihat Viola,Vanya dan vinda memakai jubah kebesaran BLS tanpa topeng. Mereka sengaja tidak mengenakan topeng agar Adi Pratama tau siapa mereka sebenarnya. Viola membawakan jubah kebesaran Vanessa, viola menyerahkan pada vanessa, ia pun memakai jubahnya.
Setelah Vanessa memakai jubahnya, ia berjalan kearah Diana yang tangannya terikat dan mulutnya dibekap, Sinta pun meronta untuk dilepaskan tetapi cengkraman Ilham sangat kuat. Vanessa mencengkeram rahang Diana, ia melepaskan bekapan mulut Diana.
"Kau yang membuat mamaku dibunuh oleh pak tua itu, kau yang menghasutnya." Ucap Vanessa dingin sambil mencengkram rahang Diana.
"Lepaskan tanganmu dari diana." Ucap Adi Pratama dengan nada tinggi.
"Baiklah." Ucap Vanessa melepaskan cengkeramannya dan menghempaskan tubuh Diana ke lantai.
"Beraninya kau menyakiti Diana." Ucap Adi Pratama sambil menodongkan pistol ke arah Vanessa.
__ADS_1
"Turunkan senjatamu pak tua." Ucap Vanesa datar, tetapi Adi Pratama masih belum menurunkan senjatanya.
Vanessa memberi isyarat pada vinda, vinda mengangguk dan mengeluarkan katana. Vinda mengarahkan katana itu pada leher Sinta.
"Kalau begitu ucapkan selamat tinggal pada anakmu pak tua." Ucap Vanessa tersenyum miring. Sedangkan Diana sudah berteriak histeris agar Vanessa melepaskan anaknya, tetapi hal itu tidak di dengarkan Vanessa.
Adi Pratama pun melototkan matanya, sedangkan Sinta sudah menangis karena ia benar-benar takut dengan keadaannya.
"Baiklah vanessa apa yang kamu inginkan." Ucap Adi Pratama. Vanessa pun menyeringai lalu mengambil katana vinda dan berjalan mendekati Adi Pratama.
"Kematianmu." Ucap Vanessa dingin. Adi Pratama pun semakin dibuat ketakutan oleh Vanessa.
"Aku akan melepaskan mereka, tapi mungkin tidak untuk Vanya." Ucap Vanessa tersenyum sinis.
"Va.. Vanya." Ucap Adi Pratama bingung dengan ucapan Vanessa.
Vanessa melirik ke arah Vanya, Vanya pun berjalan ke arah Diana. Vanya menjambak rambut Diana sehingga Diana meringis kesakitan.
"Kau dan Dian telah menghancurkan keluargaku." Ucap Vanya datar.
__ADS_1
"Sa..saya t..tidak me..mengenalmu." Ucap Diana terbata-bata.
"Dian mama dari Sharon, yang membuat tuan Bagaskara kehilangan mansion. Karena rencana busuk kalian berdua." Ucap Vanya dingin. Diana pun semakin melototkan matanya.
"Ja..jadi k.kkau." Ucap Diana karena terkejut.
"Ya, aku putri tuan Bagaskara. Aku sengaja ikut datang kemari karena ingin menghabisimu." Ucap Vanya diiringi senyuman sinis. Adi Pratama terkejut karena ia tidak tau apa yang dilakukan istrinya dan saudaranya.
"Kalian berdua sama-sama wanita gila harta dan tahta." Ucap vinda datar.
"Nyonya diana, apa anda ingin Sinta menjadi kakak ipar saya. Oh sayangnya itu tidak akan pernah terjadi, karena aku tidak akan pernah Sudi memiliki kakak ipar murah*n seperti Sinta." Ucap viola dengan nada mengejek.
Sinta mengepalkan tangannya karena merasa terhina dengan ucapan viola, sedangkan Diana tidak dapat mengucapkan apapun.
"Fano,Ilham kirim mereka ke markas negara A. Karena saudara licik mereka sudah berada di markas." Ucap Vanessa datar.
"Baik bos." Ucap Fano dan Ilham serempak.
Adi,Diana dan Sinta akan 4V tahan di markas negara A, karena mereka juga harus segera kembali. Sebelum itu Vanessa mampir ke makam mamanya, Vanya,viola dan vinda ikut dengan Vanessa.
__ADS_1
Mereka melesat menuju ke TPU yang berada di kota DW karena disanalah mendiang mama Vanessa dimakamkan. Sampai di TPU mereka turun bersama, Jubah mereka pun sudah dilepas dan berada di mobil.