
1 Minggu kemudian.
Sudah 1 Minggu Vanessa tetap terbaring di ranjang medis BLS, bahkan beberapa kali markas mereka diserang mafia lain. Vanessa dan Adisya tidak kunjung bangun.
Hingga teman-temannya mulai putus asa dengan keadaan yang menimpa mereka, sedangkan satria setelah bekerja ia pasti kembali ke markas BLS hanya untuk tetap disisi Vanessa.
Sesekali satria juga menceritakan kesehariannya yang ia lewati tanpa Vanessa, sama halnya Rino. Rino setelah dari perusahaan pun langsung menuju BLS, Rino enggan kembali ke mansion karena itu akan membuatnya semakin kesal. Apalagi jika bertemu dengan Dean dan Reno, Rino saat diperusahaan terus menghindar saat Reno mengajaknya berbicara.
"Vanessa, apa kamu tidak ingin bangun. Sudah 1 Minggu kamu terbaring di ranjang sialan ini." Ucap satria sambil menendang kaki ranjang.
"Aw sakit juga sih. Bangun nes, aku pernah janji ke kamu untuk membawamu ke puncak yang pernah kamu inginkan." Ucap satria
Setelah satria mengatakan itu, jari-jari Vanessa mulai bergerak. Dengan cepat satria memanggil Desy, tidak lama Vanessa pun membuka matanya. Yang pertama Vanessa lihat adalah wajah satria.
"Aw." Ucap Vanessa sambil memegang kepalanya yang merasa pusing saat ia akan duduk.
"Sebaiknya kamu jangan terlalu banyak bergerak nes, luka kamu baru kering." Ucap Desy lembut. Vanessa hanya mengangguk.
"Mau duduk." Ucap satria. Vanessa hanya mengangguk.
Satria membantu Vanessa duduk, lalu mengambilkan minum untuk Vanessa. Dengan senang hati Vanessa menerimanya karena ia tau keadaannya masih terlalu lemah untuk banyak bergerak.
"Kak." Ucap Vanessa. Seketika satria menoleh kearah vanessa dengan mengerutkan dahinya.
"Aku lapar." Ucap Vanessa sambil memegang perutnya yang masih terbalut perban. Satria hanya tersenyum dengan ucapan Vanessa lalu mengambilkan makanan yang selalu disiapkan jika Vanessa bangun sewaktu-waktu.
"Biar aku yang suapin." Ucap satria. Vanessa terus memandang wajah satria lalu menjawab ucapan satria dengan anggukan.
__ADS_1
Satria menyuapi Vanessa dengan telaten, sedangkan Vanessa terus memandang wajah satria, entah apa yang ada di pikiran Vanessa.
"Kalau kamu terus memandangku, aku semakin gugup untuk menyuapi kamu." Ucap satria
"Kak, aku dengar semua curhatan yang kakak ucapkan." Ucap Vanessa yang kembali menggoda satria
"Kamu pikir aku percaya hemm." Ucap satria datar
"Baiklah akan aku ulangi semua ucapan kakak." Ucap Vanessa. Saat akan berbicara lagi dengan cepat satria menutup mulut Vanessa dengan telapak tangannya.
"Tidak perlu, bagus kalau kamu mendengar semuanya." Ucap satria. Sedangkan Vanessa tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menggoda satria.
Tidak lama, teman-teman Vanessa,Rino,Tania dan dinda masuk ke tempat Vanessa karena mereka mendapat kabar dari Desy jika Vanessa sudah sadar dan sedang disuapi oleh satria.
"Oh maaf, sepertinya kami mengganggu." Ucap viola. Tetapi Rino terus masuk dan segera memeluk Vanessa, Vanessa membalas pelukan Rino.
"Kak. Lepas." Ucap Vanessa.
"Tidak akan, kamu jahat lebih memilih berbaring disini daripada harus menghabiskan hari-hari bersama kakak." Ucap Rino.
"Kalau lo memeluknya sangat erat, jahitan Vanessa yang baru kering akan terbuka lagi." Ucap satria datar. Seketika Rino melepaskan pelukannya, ia benar-benar lupa dengan luka yang ada di perut Vanessa.
"Maaf princess." Ucap Rino. Vanessa hanya menjawab dengan senyuman saja.
"Tega lo nes, beberapa hari yang lalu kami harus melawan mafia lain yang ingin menghancurkan BLS karena mendengar ketua BLS paling kejam terbaring koma." Ucap vinda
"Tau, indah banget ya dunia mimpi lo." Ucap viola ketus
__ADS_1
"Lia keberatan kalau gue harus balik, dia bilang gue perlu di dunianya sementara." Ucap Vanessa datar
"Kenapa?" Ucap vinda dan Viola. Vanessa hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.
Tania berjalan menuju Vanessa dan menyingkirkan Rino yang berdiri di sisi lain ranjang Vanessa. Setelah membuat Rino menyingkir, Tania memeluk Vanessa dengan lembut.
"Kenapa kamu lebih suka membuat kakak khawatir hemm." Ucap Tania lembut.
"Kakak khawatirkan Nessa." Ucap Vanessa seketika Tania melepaskan pelukannya.
"Bicara apa kamu ini? Kamu,Vanya,vinda,viola,Irene dan Adisya adalah adik kakak yang paling cantik. Bagaimana mungkin kakak tidak khawatir jika terjadi sesuatu pada kalian." Ucap Tania.
"Jangan lupa kak, yang kakak khawatirkan itu ketua BLS terkejam disini." Ucap viola.
"Mau kalian ketua BLS atau tangan kanan BLS, bagi kakak kalian tetap adikku." Ucap Tania lembut. Vanessa tersenyum mendengar ucapan Tania.
"Kak,apa aku boleh bertemu dengan ayah?" Ucap Vanessa
"Kakak akan hubungi ayah princess." Ucap Rino
"Bukan Ayah samudra kak, tapi ayah Adi." Ucap Vanessa. Semua yang ada di depan Vanessa tercengang dengan ucapan Vanessa.
"Apa gue gak salah denger nes?" Ucap Vanya datar. Vanessa hanya menjawab dengan gelengan.
"Dimana tuan Adi princess." Ucap Rino yang bersiap dengan membawa kunci mobilnya.
"Kak Rino gak perlu nyari kemanapun, karena tuan Adi sudah lama berada disini. Sekarang dia dan keluarganya ada di penjara bawah tanah." Ucap vinda
__ADS_1
Rino dan satria masih tidak mengerti, kenapa bisa tuan Adi Pratama ada di penjara bawah tanah. Ingin sekali mereka bertanya, tetapi mereka lebih memilih untuk menutup mulut saja.