
Pagi itu di mension Arseab ramai sekali, semua maid tengah bersiap-siap menyambut seseorang begitupun dengan Vanilla yang kini terbalut pakaian kantor. Beruntung saat itu Arsean memintanya untuk menjadi sekertarisnya.
Yah semua itu juga demi dirinya agar bisa tinggal di mension milik Arsean, Vanilla sempat menolak agar Arsean membuangnya saja menganggap tak ada transaksi diantara keduanya sayangnya Arsean itu kerasa kepala dia egois. Arsean bilang anggap apa yang dikerjakan Vanilla sekarang adalah cicilan gadis itu untuk menbayar uang yang telah Arsean keluarkan. Semua maid sudah bungkam tentang Vanilla yang merupakan gadis belian Arsean. Mereka pura-pura tidak tau dengan menganggap Vanilla merupakan sekertaris pribadi Arsean.
“selamat datang kembali nona muda” serentak maid membukuk dikala seorang wanita yang dapat di perkirakan berusia 20 tahunan itu masuk, semua orang menyambutnya. Dan karena inilah yang membuat Vanilla menjadi sekertaris Vanilla. Kim Soya tunangan dari Arsean, yah Arsean memiliki tunangan karena dulu saat mendiang sang ayah akan pergi dia sempat menjodohkan Arsean pada soya. Arseab menerima perjodohan itu karena soya memiliki kemiripan dengan cinta pertama Arsean.
Kim Soya, gadis keturunan asli korea selatan yang menjalin hubungan dengan keluarga De Lucania. Tentu tidak ada yang gratis saat itu ketika Louis De Lucania-- ayahnya Arsean pergi kekorea selatan hampir saja dia terbunuh beruntung orang tua soya membantunya Louis dan hubungan itu terjalin dengan baik sampai saat ini.
“selamat datang nona” sambut Vanilla sambil membukuk ketika soya terdiam di hapan Vanilla .”apa kau perkerja baru” ucap soya sambil menghadapan dengan Vanilla, Vanilla tersenyum sambil mengangguk mengiyahkan pertanyaan soya. “pantas saja aku beru bertemu dengan mu, kau cantik sekali” puji soya dengan ramah, dan itu membuat Vanilla merasa di hargai. “terima kasih nona Kim” ucap Arin sambil membungkuk, kini keadaan Vanikka sudah setabil kembali, pipinya yang sempat menjadi sangat tirus kini mulai mencabbi kembali karena Arsean terus memaksakan gadis itu untuk memakan makanan berlemak disertai suntikan lemak pada pipinya. Bukan hanya pipinya namun semunya. Arsean benar-benar mengubah penampilan lusuh Vanilla menjadi lebih rapi hanya dengan waktu satu malam. Arsean bilang jika ia berpenampilan lusuh dihadapan tunanganya akan membuatnya curiga bahwa Vanilla tidak di beri gaji oleh nya. Sungguh alasan yang konyol.
“oh ayolah jangan terlalu kaku sepertinya kita seumuran” sungguh diluar dugaan bawa soya akan seramah ini padanya, Vanilla tersenyum lebar kenatap soya. “siapa nama mu ?” ucap soya sambil mengulurkan tanganya. “Vanilla Kim” Vanilla menerima uluran tangan tersebut, entahlah Vanilla memintanya untuk menyembunyikan nama marga aslinya, dan memang Vanilla tak pernah mengenalkan dirinya dengan marga aslinya perkecualian pada Vanilla dan orang berengsek yang telah menjualnya.
“Mungkin kau sudah tau namun, aku kim soya” soya tidak langsung melepas uluran itu ia mengajak Vanilla kearah sofa, maid-maid disana tidak bisa menatap iri pada Vanilla karena jika ketahuan mereka harus menerima konsekuensinya.
Soya dan Vanilla duduk saling berdampingan, “sudah berapa lama kau berkerja dengan Arsean ku?” tanya soya dengan menatap dengan girang pada Vanilla. “satu bulan” Vanilla hanya mengikuti arahan yang ia terima dari earphone yang berada di telinganya. “ah dia selalu saja mengganti-ganti sekertari sesukanya” gerutu soya sambil menepuk keningnya seolah frustasi Vanilla hanya tersenyum canggung menghadapi tunangan orang yang membelinya.
__ADS_1
“bagaimana berkerja denganya” tanya soya lagi dan itu membuat Vanilla terdiam beberapa detik menunggu jawaban dari earphone namun tak ada jawaban yang membuat Vanilla menjadi gugup seketika. “kau sudah sampai” suara berat itu dari arah tangga yang bisa di pastikan itu milik Arsean. Vanilla bernafas lega ketika soya berdiri dan menghampiri Vanilla. Setidaknya ia tak akan menerima pertanyaan dari gadis itu. Soya memeluk Arsean dan di indahkan oleh pria itu keduanya saling berciuman, para maid langsung menunduk dan Vanilla memalingkan wajahnya merasa jijik dengan pertunjukan tidak senonoh dari tuan rumah. Hal itu tentu tertangkap oleh penglihatan Arsean yang sejak tadi menatap Vanilla.
Vanilla beneran harus ikut kemana saja Arseqn pergi termasuk malam ini ia harus ikut dengan pria ini kesebuah pertemuan dengan keliennya di resporan bintang lima kemungkinan miliknya juga. Vanilla menatap jenuh dengan apa yang tengah di bahas-- Vanilla tak mengerti apa yang mereka bahas makanya ia merasa jenuh, gadis itu sempat meminta izin berpisah meja dengan Arsean namun pria itu kekeuh meminta Vanilla duduk disampinya.
“jika begitu saya setujuh dengan kerja sama ini” ucap mr. tom kelien Arsean dari Italia itu. “okey, deal” ucap Arsean mantap dan diakhri dengan bersulam dan makan malam setelahnya mr. tom berserta istrinya berpamitan pergi terlebih dahulu. Lagi-lagi Vanilla baru bisa menghembuskan nafas lega ketika orang dihadapannya telah pergi, sekarang hanya menyisakan dirinya bersama Arsean. Vanilla baru menyadari bawa Arsean memperhatikannya sajak tadi. “what ?” tanya Vanilla pada pria dingin itu,Vanulla tidak segan lagi dengan pria itu karena bagi Vanilla Arsean terlalu berengsek untuk disegani olehnya. “no, but I want your lips” ucap Arsean mengoda, sialan sekali pria di hadapan yona sampai Vanilla ingin menonjoknya. “shit” umpat Vanilla sambil bangun dari duduknya.
Vanilla itu bukan tipekal orang yang penurut dengan mudah dia adalah pembangkang sejati, hanya saja dulu ia kehilangan jalannya sampai ia linglung.
Arsean tersenyum miring menatap punggung gadis itu, lalu ia berdiri mengikuti jalan gadis itu."kau akan pergi kemana" tanya Arsean yang sejak tadi setia mengikuti sekertaris badungannya berjalan di terotoa, bedanya Arsean mengenakan mobil sedangkan gadis itu berjalan. “kemana saja, asal tidak berada di mobil bersama mu” lagi-lagi Vanilla menjawab sesuka hati.
Flashback
“tangan ku sopan hanya saja ia ingin bermain-main di situ” balas Arsean sambil kembali meletakan tangannya di paha Vanilla sontak saja Vanilla melotot tidak percaya dengan apa yang di ucapkan pria itu. “Damn” umpat Vanilla memalingkan wajahnya menatap punggung jalan lewat jendelan.
Flashback off
__ADS_1
“masuk lah, udara di luar sangat dingin” ucap Arsean, Arsean meminta supir untuk mengendarai mobilnya lambat menyamakan setiap langkah Vanilla. Vanilla sendiri tidak terlalu mengubiskan ujaran Arsean ia hanya menatap sekilas kearah Arsea tanpa mengindahkan ucapan pria itu.
“Vanilla !” suara Arsean mulai meninggi ketika Vanilla mempercepat jalannya. “berhenti disitu atau akan saya suruh anak buah saya menyeret mu sampai mension” Arsean tak main-main dengan ucapannya dia sudah terlalu baik dengan membujuk wanita itu. Vanilla memberhentikan jalannya, menatap kedepan kosong, tepatnya setelah sebuah mobil melewatinya. Vanilla membeku menatap tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Vanilla hampir terjatuh jika saja Arsean tidak menahan tubuh mungil milik Vanilla.
Perlu diingat ucapan dokter yang sempat memeriksa Vanilla jika gadis itu terguncang bahkan sangat yang mempengaruhi beberapa sarap yang terkadang jika dia terkejut bisa terjadi reaksi yang sangat hebat. mungkin ini yang dimaksud oleh dokter itu Arsean menatap Vanilla.
“ada apa ?” tanya Arsean sambil menatap wanita itu dari belakang. Vanilla masih terdiam sebelum akhirnya ia ter sadar kembali. Dia menggelengkan kepalanya. “tidak papah” Vanilla menegakan kembali tubuhnya dan menghadap Arsean. “kau benar tidak apa-apa?” ucap Arsean dengan wajah datar namun dapat di rasakan perasaan khawatir. Vanilla mengangguk meyakinkan pria itu, “jika begitu ayo pulang ! jangan main-main terus” ucap Arsean sambil menarik pergelangan tangan yona menuju mobil.
__________________________________________
[Jumat, 07 Januari 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
__ADS_1
Instagram : Safira19989