I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 176


__ADS_3

-Flashback On-


Malam hari Vanessa berada di bangku taman mansion keluarga samudra ia mendengarkan musik dengan sesekali ikut bernyanyi. Namun tiba-tiba penglihatan Vanessa gelap.


"Aish kak Dean sudah cukup mengganggu Nessa." Ucap Vanessa karena matanya ditutup sebuah tangan.


"Kak lepasin." Ucap Vanessa yang mulai kesal karena tidak kunjung dibuka. Akhirnya Vanessa pun mencubit tangan tersebut.


"Awwwsshh kasar." Ucap satria datar. Lalu duduk disamping Vanessa.


"Kupikir kak Dean." Ucap vanessa ketus.


"Kau sedang apa?" Ucap satria datar.


"Mancing." Ucap Vanessa ketus.


"Dasar gila." Ucap satria datar.


"Aku memang gila." Ucap Vanessa ketus.


"Kau gila pun aku tetap menyayangimu." Ucap satria datar.


"Sinting." Ucap Vanessa ketus


"Aku tidak menyuruhmu duduk di sampingku lebih baik pergilah, aku tidak ingin diganggu." Sambung Vanessa datar.


"Siapa yang berani melarang satria vebranza." Ucap satria dengan bangga.


"Aku yang berani melarang mu." Ucap Vanessa ketus.


"Maka aku juga berani jika harus mencium mu sekarang." Ucap satria yang tiba-tiba menghadapkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Vanessa.


Hal itu membuat Vanessa semakin gugup, karena ia takut jika ucapan satria terbukti. Vanessa pun mendorong bahu satria.


"Ada apa kau kemari." Ucap Vanessa datar.


"Aku hanya ingin melihat wajahmu sebelum pergi ke luar kota untuk beberapa hari." Ucap satria santai.


"Cih. Kau merusak moodku." Ucap Vanessa datar.


"Aku bisa mengembalikan moodmu." Ucap satria santai.


"Caranya?" Ucap vanessa sambil mengangkat alisnya sebelah.


"Cobalah berteriak dan lampiaskan kekesalan mu." Ucap satria santai.


"Apa kau mencoba membuat seluruh keluargaku menganggapku gila." Ucap Vanessa dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Lakukan di taman bunga dekat gazebo itu. Tidak akan ada yang mendengar ucapanmu dari dalam mansion." Ucap satria santai.


"Pekerjaan ku banyak, jadi aku tidak perlu melakukan itu." Ucap Vanessa lalu membuka hpnya kembali.


"Terserah kau akan melakukannya atau tidak." Ucap satria santai.


"Aku tidak bisa berlama-lama disini karena aku hanya ingin memberikanmu ini." Sambung satria dengan menyerahkan kotak hitam beludru.


"Aku tidak butuh hadiah." Ucap Vanessa datar. Tanpa memperdulikan ucapan Vanessa, satria pun memberikan kotak itu ke telapak tangan Vanessa.


"Pakai saja jika memang kau nyaman bersamaku. Tapi jika kau tidak merasakan itu terserah apa yang akan kau lakukan terhadap barang itu." Ucap satria dengan senyuman tipis.


"Ya mungkin kau memang bisa membeli itu, walaupun barang itu kecil. Tapi itu memiliki makna yang sangat berarti. Aku pergi dulu." Sambung satria lalu meninggalkan Vanessa sendiri di bangku taman.


Sedangkan Vanessa mulai membuka kotak itu, isi kotak itu adalah kalung emas dengan nama Vanessa dan terdapat 2 berlian kecil di huruf V. Vanessa pun tersenyum tipis.


"Aku akan memakainya kak, karena aku mulai nyaman berada di dekatmu. Maaf jika selama ini aku bersikap kasar padamu, aku hanya tidak ingin terlalu melihatkan perasaanku jika berada di dekatmu." Gumam Vanessa lirih.


-Flashback Off-


Satria meneteskan air mata, sesekali ia seka karena tidak ingin terlalu terlihat lemah. Sedangkan viola dan vinda membungkus katana,pisau lipat dan pistol dengan kain berwarna hitam.


"Kau ingin melakukan apa Van?" Ucap vinda karena Vanya memakai peralatan untuk menyelam.


"Aku ingin ikut mencari Vanessa." Ucap Vanya datar.


"Aku harus segera menemukan Vanessa, jika benda-benda miliknya ada disini sudah bisa dipastikan dia tidak jauh dari kawasan ini." Ucap Vanya dengan nada tinggi.


"Turunkan nada bicaramu Van." Ucap vinda dengan nada lebih tinggi. Vanya pun menarik nafas untuk menenangkan dirinya.


"Sorry." Ucap Vanya lirih.


Saat Vanya akan terjun ke pantai tiba-tiba ia dikejutkan oleh anggota BLS kembali.


"Bos lihat ini." Ucap salah satu anggota BLS.


"Tidak mungkin." Ucap Vanya dengan memegang jubah Vanessa yang berlubang-lubang bukan karena tembakan, tapi gigitan hewan.


"Oh my god, semuanya naik ke atas kapal kalian." Ucap viola dengan lantang.


Seluruh anggota BLS yang berada di air pun segera naik ke kapal mereka, dan benar saja tidak lama kemudian beberapa buaya mengelilingi seluruh kapal.


"Jika diantara mereka telah menelan Vanessa saat dia lemah, maka mereka harus merasakan akibatnya." Ucap Vanya sambil memompa senapannya.


"Jangan Van, lebih baik kita pergi dengan keadaan tanpa melukai mereka." Ucap Viola


"Pantas saja pantai ini tidak pernah dikunjungi seseorang, ternyata ini sebabnya." Ucap Vinda

__ADS_1


Saat Vanya akan membidik salah satu buaya, tiba-tiba terdengar tembakan dari arah lain.


Dor..


"Beraninya kalian memakan adikku. Rasakan ini." Ucap Reno, ia pun terus menembakkan seluruh peluru yang ada dalam pistolnya.


Dor.. dor..dor..


"Oh tidak." Ucap viola.


Para buaya pun mulai mengamuk, dan anggota BLS pun terus menembakkan pelurunya ke arah buaya. Vanya pun ikut melakukannya bahkan tembakan Vanya sangat akurat untuk membunuh buaya itu. Sedangkan tembakan Reno selalu meleset.


"Hentikan." Ucap Dean kepada Reno.


"Mereka sudah membunuh princess kak, aku tidak bisa berhenti sebelum salah satu dari mereka mati ditangan ku." Ucap Reno tegas.


"Tembakanmu selalu meleset kak, yang ada kau membunuh makhluk laut yang lain." Ucap Rino.


"Aku tidak peduli kalau bisa semua makhluk di laut ini harus mati." Ucap Reno.


Tidak lama kemudian buaya-buaya itupun mati, bahkan sebagian laut pun berubah menjadi merah. Setelah itu Vanya melemparkan 1 bom yang membuat guncangan terhadap pantai, bahkan terumbu karang rusak pun mulai mengapung karena bom itu.


"Vanya hentikan,ini bukan cara untuk menemukan Vanessa. Kita malah merusak ekosistem laut." Ucap Rino.


"Jika jasad Vanessa ada di dalam pantai dan terkena bom tersebut, akan semakin sulit untuk menemukannya." Ucap Dean.


Vanya pun menghentikan aksinya, dia mulai lemas karena Vanessa tidak kunjung ditemukan. Vanya bersimpuh di atas kapal, dia pun menangis. Sedangkan Arjuna yang melihat Vanya seperti itupun tidak tega, sehingga Arjuna melompat dari kapal yang ia naiki ke kapal yang di naiki Vanya. Arjuna pun memeluk Vanya, Vanya benar-benar menangis di pelukan Arjuna.


"Sudahlah Vanya, Vanessa pasti segera ditemukan." Ucap Arjuna yang mencoba menenangkan Vanya.


"Tapi kenapa semua temanku harus menerima ini, apa kesalahan Vanessa sehingga berakhir seperti ini." Ucap Vanya yang mulai terisak-isak. Arjuna pun mendongakkan kepala Vanya sehingga menatap wajahnya.


"Hei, Vanessa gadis yang kuat, kau pun sama. Dia pasti masih hidup, dia pasti masih ada di sekitar pantai." Ucap Arjuna lembut sambil mengusap pipi Vanya yang basah karena air mata.


"Daf, pantai ini terhubung dengan daerah mana." Ucap vinda.


"Pantai ini terhubung dengan daerah terlarang bos, daerah itu hanya dihuni para pelaut yang kejam dan bengis. Daerah itu juga dihuni binatang-binatang buas." Ucap daffa


"Maksutmu pelaut kejam dan bengis?" Ucap viola


"Para ABK yang menghianati bosnya dikirim kesana, dan mereka berubah menjadi penguasa daerah sana. Bahkan para binatang buas pun menjadi makanan mereka." Ucap Daffa. Seketika mata vinda dan Viola pun terbuka sangat lebar.


"Apa mereka bisa saja memakan sesama." Ucap vinda.


"Tentu bos." Ucap Daffa.


Selamatkan Vanessa tuhan, kami tau jika Vanessa sebenarnya masih hidup. Batin semua orang.

__ADS_1


__ADS_2