
"JALAN !!!" dengan suara yang keras Roy menyuruh arsean agar jalan menuju jalan utama, arsean menjadi tontonan mereka yah walau setiap hari arsean menjadi tontonan mereka saat pria itu menerima kekerasan disana.
"Aku dengar dia penyusup, dan Roy akan membunuhnya di tengah hutan nanti" bisik-bisik orang-orang itu masih bisa arsean dengar, pun arsean hanya menatap mereka datar dan mengikuti apa yang Roy katakan "Jika dia berniat membunuhnya kenapa tidak disini saja ? Kenapa harus di tengah hutan" balas yang lain.
"DIAM !!" seketika ruangan itu jadi hening tak ada suara-suara, Arsean kadang merasa aneh diam disana pria kok mulutnya pada lemes dan suka bergosip. "TUNGGU APA LAGI JALAN" lagi-lagi Roy berteriak dan Arsean berjalan meninggalkan tempat itu.
Entah seberapa jauh mereka sudah berjalan Arsean tak tau yang jelas ini sudah sangat jauh, "berhenti" Arsean berhenti tepat di sebuah ladang rumput yang luas, Roy berjalan beberapa langkah mendekati Arsean. "Pulang lah, apa yang kau butuhkan sudah kau dapatkan" Roy menatap arsean dengan tegas, Arsean sendiri masih belum mengerti apa yang di maksud oleh Roy.
"Aku tau siapa kau,..... tapi tenang saja aku tidak akan bilang pada siapapun dan kau harus pergi" Arsean masih belum merespon untuk itu "kau mengetahui siapa aku ?" Arsean terlihat santai dengan itu dia menatap Roy "kau tidak memberi tahu mereka siapa aku ? Kenapa ? Aku tidak selemah yang kau bayangkan tenang saja" jujur saja arsean merasa dia di remehkan oleh pria yang kekar memiliki otot yang besar dan kulit kecoklatan itu "aku tau kau tidak selemah itu, hanya saja ini sudah terlalu lama" Roy semakin mempertegaskan tatapannya "lalu apa itu masalah untuk mu ? Bahkan itu bukan urusan mu" Roy menaruh snapannya dia melipatkan tangannya.
"Aku hanya membantu mu untuk keluar dengan hidup-hidup di balik para pecundang itu ada iblis licik, dan untuk aku yang melakukannya itu karena aku memiliki hutang budi pada ayah mu...." sudah arsean duga jika ini tak sesederhana yang dia pikirkan dan dia sudah mengantisipasi "aku benci memiliki hutang budi" lanjut Roy dengan membuang muka, kenapa manusia itu munafik mereka selalu memendam sendiri sampai ke jujuran itu berubah menjadi kemunafikan.
__ADS_1
Arsean mengangkat tangannya dan menepuk pundak Roy "jika begitu aku berterima kasih" karena dia sudah berhasil membuat Roy terpancing maka arsean akan memanfaatkan semua itu untuk mengetahui masalalunya dulu, entahlah Arsean merasa jika Roy mengetahui lebih banyak dan tentang Harrison pria sialan itu.
********
Arsean sudah kembali, berkat bantuan Roy dan yah temannya Samuel yang telah menjemputnya. "Bagaimana? apa semuanya aman ?" Arsean baru saja keluar dari kamarnya dia baru selesai membersihkan diri "awalnya masih aman untuk di kendalikan hanya saja sekarang menjadi kacau" Samuel aga berbelit-belit untuk menjelaskannya karena yah bagaimana lagi ini memang tidak mudah untuk di ceritakan pada Arsean.
"aku mendengar jika Diàvolow atau bimbingan Vanilla dan Harrison akan menyerang salah satu *******,......." Arsean hampir saja tersedak kopinya "Bagaimana bisa ?" potong arsean saat Samuel sedang menjelaskan.
"aku dengar dalam bulan ini juga Vanilla akan melahirkan" Samuel berbicara atuh tak acuh dia mengambil teh lemon yang di sajikan disana, Samuel hanya sedang memancing arsean agar ikut campur dalam hal ini. Bagaimana pun ini akan menguntungkan untuknya.
"sialan, kau sengajakan" Arsean mengusap wajahnya sialan sekali rasanya arsean terus di paksa untuk wars di situasi yang bisa saja membuatnya gila.
__ADS_1
"Kau siapkan Tim B untuk rapat nanti" setelah memberi perintah pada Samuel arsean meninggalkan pria bermata lentik itu, arsean membutuhkan istirahat untuk tetap waras.
_________________________________________
[Kamis, 04 Agustus 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
Ig : Sfiranjk341
karena ini cerita versi baru dan belum selesai jadi, ini cerita on going. Harap baca dari bab awal. maaf tidak bisa up date panjang-panjang
__ADS_1