
Vanessa dan Vinda segera keluar dari mansion keluarga samudra, mereka menuju markas dengan mobil Vanessa yang ia beli dengan uangnya sendiri. Vanessa juga meminta anggota BLS membawa 1 mobil yang lain dan 2 motor sport miliknya.
Dengan perut yang terluka Vanessa terus mengemudikan mobil, sedangkan vinda sudah menutup matanya karena ia sangat lelah. Bagian kiri lengannya terus mengeluarkan darah karena sayatan pedang anggota macan putih tidak sengaja mengenai lengannya.
Vanessa terus menekan perutnya agar tidak mengeluarkan darah dengan kaos miliknya, ia tidak sempat mengganti pakaian. Dan ia hanya menunjukkan luka dilengannya saja saat Rino berada di kamarnya.
-Flashback On-
Rino menuju kamar Vanessa,ia tidak peduli jika Vanessa adalah ketua mafia, karena ia tidak pernah disakiti oleh Vanessa. Rino masuk ke kamar Vanessa tanta mengetuk pintu terlebih dahulu. Rino melihat Vanessa memasukkan semua bajunya ke dalam koper, tidak lupa dengan foto Vanessa bersama seluruh keluarga samudra saat di pantai pun ikut Vanessa bawa.
"Jangan pergi princess." Ucap Rino sambil menahan tangan Vanessa. Tapi Vanessa segera melepaskan tangan Rino.
"Nessa bukan bagian dari keluarga samudra kak, Nessa hanya orang luar yang masuk ke keluarga ini." Ucap Vanessa
"Kamu masih bagian dari keluarga ini princess,jangan dengerin ucapan kak Dean dan Reno mereka hanya masih terkejut saja." Ucap Rino
"Gak bisa kak, Nessa sudah bukan bagian keluarga ini lagi. Kakak baik-baik ya disini, jangan berantem mulu sama kak Dean dan kak Reno." Ucap Vanessa lembut.
"Baik, kamu boleh pergi tapi kakak obati ya luka di lengan kamu." Ucap Rino lalu mengambil kotak P3K
Jangan sampai kak Rino tau, luka yang diperutku ini. Batin Vanessa
__ADS_1
"Princess, lengan kamu yang terluka tapi kenapa kaos bagian perut kamu yang kena darah." Ucap Rino sambil mengobati lengan Vanessa.
"Tadi Nessa gak sengaja ngusapin lengan Nessa ke sini kak." Ucap Vanessa berbohong
Kakak tau kamu berbohong princess. Batin Rino
Rino mengobati luka Vanessa dengan penuh kelembutan, memasang beberapa plester dan perban. Sedangkan Vanessa terus menahan rasa sakit sayatan di perutnya, Vanessa bisa merasakan jika luka itu dalam dan lumayan lebar.
"Kakak bantu packing ya, jangan biarkan lengan kamu terlalu gerak biar cepat kering lukanya." Ucap Rino lembut. Vanessa hanya bisa mengangguk.
Rino mengemas beberapa pakaian Vanessa yang tersisa, 2 koper yang Vanessa butuhkan. Walau sebenarnya masih banyak lagi baju yang harus ia bawa tapi Rino mengatakan.
"Jangan bawa semuanya princess, kamu masih bagian keluarga samudra. Jadi jangan takut untuk pulang kesini, kakak tau ayah dan bunda tidak akan mengusir kamu. Jangan kamu ambil hati ucapan kak Dean dan Reno, mereka tidak memiliki hak di mansion ini. Mansion ini masih atas nama ayah, jadi hanya ayah yang bisa menentukan kamu keluar dari mansion ini atau tidak." Ucap Rino
"Kakak boleh kan berkunjung ke markas kamu." Ucap Rino
"Tentu saja kak. Bahkan jika kak Dean,kak Reno dan kak satria ingin kesana juga tidak masalah." Ucap Vanessa. Rino pun memeluk Vanessa sebentar dan mencium puncak kepala Vanessa.
-Flashback Off-
Pandangan Vanessa sudah mulai kabur, tetapi ia terus menahan, karena ia tidak mau sampai terjadi kecelakaan apalagi jalan raya sedang ramai. Tidak lama Lia mengambil alih tubuh Vanessa.
__ADS_1
"Sudah kukatakan kalau keluargamu pasti tidak akan menerimamu sebagai ketua mafia. Kau terlalu baik pada mereka. Seharusnya aku bunuh saja mereka daripada aku harus melihatmu terluka nes." Ucap Lia ketus
Lia melajukan mobil dengan kecepatan penuh, ia tidak peduli dengan keadaan jalan raya yang ramai. Baginya lebih baik sampai ke markas, karena Lia tidak bisa terlalu lama berada ditubuh Vanessa yang mulai lemah.
Saat akan melalui jalan pintas menuju markas, ditengah perjalanan Vanessa dan Vinda dihadang para preman. Dengan cepat Lia memakai topeng dan mengambil pistol,membuka kaca mobil dan mengarahakan bidikannya pada kaki para preman.
Dor...dor...dor...dor...
"Kalian hanya sampah, lebih baik menyingkir atau kepala kalian jadi sasaran." Ucap Lia ketus
Para preman memilih minggir karena mereka menghadang ketua mafia terbesar, sehingga kaki mereka harus menjadi sarang timah panas dari Lia. 30 menit kemudian sampai di markas, Daffa dan Rizki sudah menunggu kedatangan Vanessa dan Vinda.
"Sorry nes, tenaga lo terkuras banyak. Semoga lo baik-baik aja." Ucap Lia lalu meninggalkan tubuh Vanessa.
Vanessa dan Vinda terkulai lemas, hanya saja Vanessa semakin pucat. Daffa dan Rizki yang menunggu Vanessa dan Vinda semakin khawatir karena ketua mereka tidak kunjung keluar dari mobil. Akhirnya Daffa dan Rizki memutuskan untuk membuka paksa pintu mobil Vanessa, sehingga pintu kedua sisi mobil Vanessa rusak.
Daffa dan Rizki terkejut karena Vanessa dan Vinda tidak membuka mata. Mereka mencoba menepuk pipi mereka tetap tidak ada jawaban. Dengan cepat Daffa dan Rizki menggendong mereka ala bridal style menuju ke ruang medis khusus BLS.
Diruang medis khusus BLS ada 2 dokter cantik dan Adisya, Adisya lebih baik dirawat di markas. Terlalu berbahaya jika Adisya tetap dirumah sakit, karena sudah beberapa kali ada seseorang yang ingin mencelakainya.
Vanessa dan Vinda diletakkan diranjang yang berbeda, 2 dokter pribadi BLS langsung memeriksa Vanessa dan Vinda. Tidak lama pintu ruang medis terbuka lagi, Irene dan Tania masuk.
__ADS_1
"Kalian berdua keluarlah." Ucap irene. Daffa dan Rizki pun meninggalkan ruang medis.
Irene langsung menuju ke vinda, sedangkan Tania langsung menuju Vanessa. Mereka hanya terpisah tirai saja.