I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 229


__ADS_3

Keesokannya di mansion keluarga Bagaskara, Vanya sudah berada diruang tamu dengan laptopnya. Ia berniat mengerjakan pekerjaannya dirumah karena mamanya yang sakit.


"Vanya, kamu tidak ke kantor sayang?" Ucap papa


"Tidak pa, lagi pula pekerjaannya bisa diatasi kok walaupun dirumah." Ucap Vanya


"Felisha tadi sudah berangkat kan?" Ucap papa


"Udah pa tadi dianter supir." Ucap Vanya


"Bagaimana sayang perkembangan perusahaan?" Ucap papa


"Stabil kok pa, malah lebih meningkat lagi dari sebelumnya." Ucap Vanya


"Syukurlah kalau kamu bisa mengatasi perusahaan kecil papa." Ucap papa


"Kecil darimana? Cabang juga udah banyak gini kok kecil." Ucap Vanya


"Masih besar perusahaan keluarganya Vanessa." Ucap papa


"Paling penting kita juga kenal mereka." Ucap Vanya


"Kamu ini bisa aja." Ucap papa


"Kamu ga pusing van buat ngurus dua perusahaan?" Sambung papa


"Dibilang pusing ya pasti pa, tapi ada seseorang yang buat aku yakin kalau bisa diatasi kok." Ucap Vanya


"Siapa itu?" Ucap papa


"Vanessa pa." Ucap Vanya


"Kan Vanessa juga sama kayak kamu, ngurus BLS sama bantu perusahaan Samudra." Ucap papa


"Kata siapa? Orang dia ngurus tiga perusahaan kok. Vanessa bantu kak Dean itu jarang pa karena kak Dean sudah bisa atasi sendiri." Ucap Vanya


"Loh tiga perusahaan?" Ucap papa


"Papa akan tau sebentar lagi siapa Vanessa sebenarnya." Ucap Vanya


"Wah papa semakin kepo sayang." Ucap papa


"Lah papa tau-tau an kata kepo." Ucap Vanya


"Iya, Felisha tuh sering bilang ke bi Jia begitu." Ucap papa


"Emang dasar bocil rese'." Ucap Vanya


"Felisha bukan anak papa, tapi papa merasa ada ikatan dengan Felisha." Ucap papa


"Semua kan harus ikhlas pa, Felisha mungkin bukan anak papa, tapi ketulusan papa dan Felisha saling menerima juga bisa membuat ikatan." Ucap Vanya


"Mama gimana pa? Udah membaik?" Ucap Vanya


"Sedikit sayang, nanti biar papa panggilkan dokter deh." Ucap papa


"Ga perlu pa, nanti kak Desy yang lihat mama." Ucap Vanya


"Desy kan dokter BLS sayang." Ucap papa


"Ya gapapa, orang kak Desy nya juga ga masalah kok." Ucap Vanya


"Van, papa mau tanya sama kamu." Ucap papa


"Tanya aja pa, mau nanya apa?" Vanya pun menatap papanya.


"Sampai kapan kamu akan jadi ketua mafia sayang?" Ucap papa


"Vanya tidak tau pa akan sampai kapan." Ucap Vanya


"Papa hanya takut jika kamu sudah berkeluarga dengan Arjuna sampai terganggu musuh-musuh mafia kamu nak." Ucap papa


"Semoga saja tidak pa." Ucap Vanya


"Sayang, mau bagaimanapun kamu tutupin identitas kamu sebagai ketua mafia, kapan pun itu pasti akan terbongkar juga." Ucap papa


"Iya pa, Vanya tau kok." Ucap Vanya


"Sudah ya Van, papa tidak mau kamu membunuh orang lagi." Ucap papa

__ADS_1


"Vanya tidak bisa janji pa, karena jabatan Vanya sebagai leader di BLS." Ucap Vanya


"Ya sudah, papa cuma berharap kamu segera berhenti menjadi ketua mafia nak." Ucap papa


Setelah mengucapkan itu, papa Vanya menuju ke kamar. Sedangkan Vanya diruang tamu masih memikirkan ucapan papanya.


-------


Vanessa masih di apartemen Satria karena kelalaian ia sendiri yang ketiduran. Vanessa berada di ranjang tidur dan disebelahnya ada Satria, ditengah terdapat dua guling yang menjadi pembatas Satria dan Vanessa.


"Nessa tolol banget sampai ketiduran disini, kayaknya kak satria deh yang bawa gue kesini." Ucap Vanessa lirih


"Dahlah ga usah gue ganggu, mending mandi." Ucap Vanessa


Vanessa segera menuju ke kamar mandi, ia juga lupa semalam tidak menghubungi ayahnya. Setelah mandi Vanessa menuju ruang tamu, ia mengambil susu yang ada di kulkas dan ia seduh ke gelas.


"Selamat pagi putriku." Ucap Ayah


"Pagi ayah." Ucap Vanessa


"Ada apa? Tumben pagi-pagi video call ayah." Ucap Ayah


"Tidak apa-apa ayah." Ucap Vanessa


"Ayah gimana kabarnya?" Sambung Vanessa


"Baik dong, ini ayah mau ke kebun." Ucap Ayah


"Vanessa mau nanya ke ayah, tapi janji harus jawab jujur." Ucap Vanessa serius


"Serius sekali nes?" Ucap Ayah


"Baiklah kamu tanya apa? Ayah pasti jawab kok." Sambung ayah


"Ayah punya kanker hati? Jawab jujur!" Ucap Vanessa


"Kamu ngomong apa nes?" Ucap Ayah


"Jujur ayah." Ucap Vanessa


"Kamu tau itu darimana?" Ucap Ayah


"Sinta." Ucap Vanessa


"Masih dong, kamu putri ayah yang paling baik." Ucap Ayah


"Lalu kenapa ayah menyembunyikan ini dari Nessa?" Ucap Vanessa


"Sayang, ayah tidak ingin membuatmu kepikiran apalagi sampai mengganggu pekerjaanmu nak." Ucap Ayah


"Aku tidak akan terganggu karena ini menyangkut nyawa juga." Ucap Vanessa


"Maaf nak, ayah hanya ga mau kamu khawatir disana." Ucap Ayah


"Dengan ayah menyembunyikan itu dariku, malah membuat Nessa khawatir." Ucap Vanessa


"Maaf Nessa, maafkan ayah. Ayah juga tidak ingin merepotkan kamu." Ucap Ayah


"Vanessa tidak merasa direpotkan, intinya ayah harus berobat sampai sembuh." Ucap Vanessa


"Sayang, ga perlu." Ucap Ayah


"Semakin ayah menolak, Vanessa semakin khawatir. Ku mohon ayah, mau ya berobat." Ucap Vanessa


Ayah Adi masih belum menjawab ucapan Vanessa.


"Biaya akan Vanessa tanggung sampai sembuh." Ucap Vanessa


"Nak, kamu tidak perlu mengeluarkan uang buat ayah, kamu punya keluarga disana. Disini juga masih ada Sinta kan." Ucap Ayah


"Nessa masih anak ayah, dan Nessa juga berhak atas biayain ayah." Ucap Vanessa


"Ayah malu nak, ayah malu padamu." Ucap Ayah


"Ayah dulu membuangmu bahkan membunuh ibumu di depanmu, tapi balasanmu sekarang begini padaku."


"Aku bukanlah ayah yang baik nak, jadi jangan pikirkan aku dan jangan keluarkan biaya sepeserpun untuk penyakitku ini." Ucap ayah


"Yang lalu biarkan berlalu, sekarang Nessa sudah bisa menerima semuanya, lagipula mama pasti sedih disana jika ayah menolak permintaan Vanessa." Ucap Vanessa

__ADS_1


"Nak tapi kan-


"Nessa ga mau terima bantahan apapun lagi, intinya ayah harus berobat agar sembuh." Ucap Vanessa


"Baiklah nak, iya ayah akan berobat sampai sembuh." Ucap ayah


"Biaya akan Vanessa tanggung, untuk berobatnya Vanessa yang akan Carikan dokter terbaik untuk kesembuhan ayah." Ucap Vanessa


"Sayang, ayah bisa cari sendiri dokternya di negara ini juga ga kalah baik kok dokternya." Ucap ayah


"No, kesembuhan ayah itu penting dan harus ditangani sama dokter yang lebih profesional." Ucap Vanessa


"Baiklah nak terserah kamu saja." Ucap Ayah


"Sinta di rumah yah?" Ucap Vanessa


"Iya, ini dia mau ke kantor." Ucap Ayah


"Berikan ponsel ayah padanya." Ucap Vanessa


Ayah memberikan ponsel pada Sinta.


"Hai saudari perempuan ku." Ucap Sinta


"Alay lo." Ucap Vanessa


"Gue minta sama lo, kalau gue udah nemuin tempat buat ayah berobat, lo anterin." Ucap Vanessa


"Tapi nes perusahaan ayah gimana?" Ucap Sinta


"Nanti gue suruh Fano buat ngurus sementara sampai ayah sembuh." Ucap Vanessa


"Ah elah tangan kanan lo disini ngeselin semua nes, males gue." Ucap Sinta


"Gue harap lo ga lupa kalau data penting perusahaan juga mereka pegang atas suruhan gue." Ucap Vanessa


"Iya juga, oke lah asal kantor gue ga diobrak abrik." Ucap Sinta


"Lo gausah mikir biaya, gue yang akan bayar semuanya." Ucap Vanessa


"Buat biaya gue juga ada sih nes." Ucap Sinta


"Simpan aja uang lo, biar ga miskin." Ucap Vanessa


"Sialan lo nes." Ucap Sinta


"Iya, kalau udah nemu lo kasih tau gue, gue yang langsung anterin ayah sampai sembuh." Sambung Sinta


"Oke kalau gitu, gue percaya sama lo. Tapi kalau lo bohongin gue, nyawa lo melayang." Ucap Vanessa


"Ngga, gue masih mau nikah ya." Ucap Sinta


"Bagus deh." Ucap Vanessa


Vanessa mematikan panggilan, Sinta yang tau itu pun kesal.


"Emang nyebelin si vanes ini." Ucap Sinta


"Kenapa sin?" Ucap Ayah


"Nih lihat anak ayah, matiin panggilan sepihak ga pakai pamit atau apa gitu." Ucap Sinta


"Ya sudah itu kan kebiasaan dia." Ucap Ayah


"Ayah harus sembuh pokoknya buat lihat kedua putri ayah menikah dan punya cucu buat ayah." Ucap Sinta


"Semoga saja ya nak." Ucap Ayah


"Gamau, pokoknya harus." Ucap Sinta


"Ya sudah kalau gitu ayah juga akan berusaha buat sembuhnya." Ucap Ayah


"Yeay sayang ayah."


Sinta memeluk ayahnya, Adi yang melihat itu membalas pelukan Sinta.


"Sinta berangkat ke kantor dulu yah." Ucap Sinta


"Ya sudah hati-hati ya nak." Ucap Ayah

__ADS_1


"Baik ayah." Ucap Sinta


Senang rasanya melihat kedua putriku bisa akur dan bercanda, bahkan dapat kerja sama. Batin Adi


__ADS_2